BREAKING NEWS
🍃 🌿 🍃
🌱 PENGEN INFORMASI SEPUTAR AGROTECH?
Kunjungi agrotechindonesia.com
🌾 Membangun Pertanian Cerdas dan Berkelanjutan
👆 KLIK DI SINI

FTBI Jenjang SD Tingkat Kecamatan Jatisrono Tahun 2026, Wujudkan Generasi Berkarakter dan Cinta Bahasa Ibu

Korwilcam Bidikcam Jatisrono, Ning Lestari Purwanti, S.Pd., M.Pd. saat membuka acara 

Jatisrono, Wonogiri KMR — Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) jenjang Sekolah Dasar (SD) tingkat Kecamatan Jatisrono tahun 2026 diselenggarakan pada Kamis, 17 September 2026. Kegiatan yang berlangsung di SD Negeri 1 Jatisrono tersebut menjadi salah satu upaya untuk menumbuhkan kecintaan peserta didik terhadap bahasa, sastra, dan budaya daerah sejak usia sekolah dasar.

Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) diikuti oleh para siswa jenjang SD yang mewakili sekolah masing-masing di wilayah Kecamatan Jatisrono. Para peserta berkesempatan menunjukkan kemampuan, kreativitas, serta bakat mereka melalui berbagai cabang perlombaan yang berkaitan dengan bahasa dan budaya Jawa.

Kegiatan FTBI tidak sekadar menjadi ajang perlombaan antarsiswa. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenal, menggunakan, serta melestarikan bahasa ibu sebagai bagian penting dari identitas budaya.


(Mulyadi,S.Pd.M.Pd ketua K3S Jatisrono saat menyerahkan hadiah kepada pemenang lomba )

Pelaksanaan FTBI tingkat Kecamatan Jatisrono tahun 2026 juga menjadi momentum untuk memperkenalkan kembali kekayaan bahasa dan sastra Jawa kepada peserta didik dengan cara yang menarik dan kompetitif. Melalui berbagai perlombaan, siswa diajak untuk berani tampil di depan umum, mengembangkan kemampuan berbahasa, sekaligus memahami nilai-nilai budaya yang terkandung dalam karya sastra Jawa.

Koordinator Wilayah Kecamatan Bidang Pendidikan dan Kebudayaan (Korwilcam Bidikcam) Jatisrono, Ning Lestari Purwanti, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa FTBI memiliki peran penting dalam pembentukan karakter peserta didik.



Menurut Ning Lestari Purwanti, pembelajaran dan pengenalan bahasa ibu tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berkomunikasi. Bahasa juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai kesopanan, tata krama, serta karakter positif dalam kehidupan sehari-hari.

“Dengan FTBI membentuk siswa memiliki kehalusan budi, karakter, serta adab yang mulia,” ujar Ning Lestari Purwanti.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan FTBI diharapkan mampu memberikan dampak yang lebih luas bagi perkembangan kepribadian siswa. Kemampuan menggunakan bahasa daerah secara baik dan santun diharapkan dapat berjalan seiring dengan tumbuhnya sikap menghargai orang lain, percaya diri, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian terhadap budaya sendiri.

Dalam pelaksanaannya, FTBI tingkat Kecamatan Jatisrono tahun 2026 menghadirkan tujuh cabang perlombaan. Masing-masing cabang memiliki karakter dan tantangan tersendiri sehingga peserta dapat menampilkan kemampuan terbaik sesuai bidang yang dikuasainya.

Cabang pertama adalah Membaca dan Menulis Aksara Jawa. Dalam lomba ini, peserta dituntut memiliki kemampuan mengenali, membaca, dan menuliskan aksara Jawa dengan tepat. Kemampuan tersebut penting untuk menjaga keberlangsungan aksara Jawa sebagai bagian dari warisan budaya yang perlu terus dikenalkan kepada generasi muda.

Cabang kedua adalah Mendongeng atau Ndongeng. Melalui lomba ini, siswa diberikan kesempatan untuk menyampaikan cerita menggunakan bahasa Jawa dengan ekspresi dan kreativitas masing-masing. Tidak hanya kemampuan berbicara yang dinilai, tetapi juga bagaimana peserta membangun suasana cerita sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh pendengar.

Selanjutnya terdapat cabang Berpidato atau Sesorah. Lomba ini menjadi sarana untuk melatih keberanian siswa berbicara di hadapan khalayak. Peserta dituntut mampu menyampaikan gagasan secara runtut dengan penggunaan bahasa Jawa yang baik, sopan, dan sesuai dengan konteks pidato.

Cabang keempat adalah Menulis Cerkak atau Nulis Cerkak. Cerkak atau cerita cekak merupakan salah satu bentuk karya sastra Jawa. Dalam perlombaan ini, siswa dapat menuangkan ide dan imajinasi mereka dalam bentuk tulisan. Kegiatan tersebut sekaligus mendorong budaya literasi dan kreativitas peserta didik melalui bahasa daerah.

Berikutnya, peserta juga mengikuti lomba Membaca Geguritan. Geguritan merupakan salah satu bentuk puisi dalam sastra Jawa yang membutuhkan penghayatan dan kemampuan membawakan karya secara ekspresif. Peserta ditantang untuk memahami isi geguritan, kemudian menyampaikannya dengan intonasi, ekspresi, artikulasi, dan penghayatan yang tepat.

Cabang keenam adalah Nembang Macapat. Tembang macapat merupakan bagian penting dari khazanah sastra dan budaya Jawa yang memiliki aturan serta karakter tersendiri. Melalui lomba ini, siswa diperkenalkan pada tradisi tembang Jawa sekaligus dilatih untuk memahami keindahan bahasa dan nilai-nilai yang terkandung dalam tembang.

Sementara itu, cabang ketujuh adalah Komedi Tunggal atau Ndagel Ijen. Berbeda dengan cabang lainnya, perlombaan ini memberikan ruang bagi peserta untuk mengembangkan kreativitas dan kemampuan menghibur melalui penampilan tunggal. Peserta dapat menyampaikan materi humor dengan tetap memperhatikan penggunaan bahasa yang santun dan sesuai dengan nilai-nilai pendidikan.

Ketujuh cabang tersebut memberikan warna tersendiri dalam pelaksanaan FTBI tingkat Kecamatan Jatisrono. Peserta tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademis, tetapi juga kreativitas, keberanian, ekspresi, kemampuan berkomunikasi, serta pemahaman terhadap budaya Jawa.(Cahyospirit)

















Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar