BREAKING NEWS
🍃 🌿 🍃
🌱 PENGEN INFORMASI SEPUTAR AGROTECH?
Kunjungi agrotechindonesia.com
🌾 Membangun Pertanian Cerdas dan Berkelanjutan
👆 KLIK DI SINI

Kethek Ogleng SDN 5 Jatisrono Buka Liga PGRI Distrik 5, Perpaduan Seni Tradisi dan Semangat Olahraga

Seni Kethek Ogleng dari SDN 5 Jatisrono yang mendapat kehormatan membuka rangkaian acara pertandingan sepak bola Liga PGRI Distrik 5 Jatisrono

Jatisrono,Wonogiri KMR— Gemuruh semangat olahraga mewarnai Lapangan Kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, Senin (14/9/2026). Namun, sebelum pertandingan sepak bola Liga PGRI Distrik 5 Jatisrono dimulai, perhatian para peserta dan masyarakat terlebih dahulu tertuju pada sebuah pertunjukan seni tradisional yang sarat energi dan karakter.

Adalah seni Kethek Ogleng dari SDN 5 Jatisrono yang mendapat kehormatan membuka rangkaian acara pertandingan sepak bola Liga PGRI Distrik 5 Jatisrono. Penampilan tersebut menjadi sajian pembuka yang tidak hanya menghibur, tetapi sekaligus memperlihatkan bagaimana seni budaya lokal dapat hadir dan hidup berdampingan dengan kegiatan olahraga.


Dengan gerakan yang lincah, ekspresif, dan penuh tenaga, para penampil Kethek Ogleng berhasil menghidupkan suasana lapangan. Gerakan tubuh yang dinamis dipadukan dengan atraksi akrobatik berupa lompatan membuat pertunjukan tampak semakin atraktif. Setiap gerakan seolah menggambarkan karakter khas Kethek Ogleng yang enerjik, spontan, dan dekat dengan kehidupan kesenian tradisional masyarakat Jawa.

Pertunjukan tersebut berada di bawah asuhan Mulyadi, S.Pd., M.Pd., yang selama ini memberikan perhatian terhadap pengembangan seni dan kreativitas peserta didik. Kehadiran Kethek Ogleng dalam pembukaan Liga PGRI menjadi bukti bahwa lingkungan sekolah tidak hanya menjadi tempat untuk mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga ruang penting untuk menanamkan kecintaan terhadap seni dan budaya daerah.

Pembukaan Liga PGRI Distrik 5 Jatisrono pada Senin, 14 September 2026, tidak sekadar menjadi penanda dimulainya kompetisi sepak bola. Kehadiran Kethek Ogleng memberikan warna tersendiri dalam kegiatan tersebut.

Jika pertandingan sepak bola identik dengan adu strategi, kecepatan, kekuatan fisik, dan sportivitas, maka pertunjukan Kethek Ogleng menghadirkan sisi lain berupa ekspresi seni, kreativitas, kelincahan, serta kekayaan budaya lokal.

Kontras tersebut justru menciptakan perpaduan yang menarik. Lapangan yang sesaat kemudian akan dipenuhi para pemain sepak bola, terlebih dahulu menjadi panggung bagi para pelajar untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam mengolah gerak dan ekspresi seni.

Gerakan para penampil yang lincah menjadi salah satu daya tarik utama. Mereka tidak hanya bergerak mengikuti irama, tetapi juga memainkan karakter melalui gestur tubuh dan ekspresi. Beberapa gerakan bahkan disertai lompatan dan atraksi akrobatik yang membutuhkan keberanian, koordinasi, keseimbangan, serta latihan yang tidak sebentar.

Penampilan anak -anak  tersebut menunjukkan bahwa seni tradisional dapat dikemas secara menarik tanpa kehilangan identitasnya. Kethek Ogleng tampil bukan sebagai kesenian yang sekadar dipertontonkan, melainkan sebagai bagian dari proses pendidikan karakter bagi generasi muda.

Bagi SDN 5 Jatisrono, penampilan Kethek Ogleng dalam pembukaan Liga PGRI memiliki makna lebih luas daripada sekadar mengisi acara. Pentas tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan sekaligus menanamkan kecintaan terhadap budaya tradisional kepada anak-anak sejak usia sekolah dasar.

Di tengah perkembangan zaman dan semakin beragamnya hiburan modern, keberadaan kesenian tradisional membutuhkan generasi penerus yang mau mengenal, mempelajari, dan menampilkannya kembali.

Anak-anak yang tampil dalam pertunjukan tersebut menjadi gambaran bahwa kesenian daerah masih memiliki tempat di tengah kehidupan generasi muda. Mereka tidak hanya menjadi penonton budaya, tetapi ikut mengambil peran sebagai pelaku seni.

Proses latihan Kethek Ogleng juga mengajarkan berbagai nilai. Para siswa dituntut untuk disiplin mengikuti latihan, menghafalkan rangkaian gerakan, menjaga kekompakan kelompok, serta memiliki keberanian tampil di hadapan khalayak.

Nilai-nilai tersebut pada akhirnya tidak hanya berguna dalam pertunjukan seni. Kedisiplinan, kerja sama, keberanian, dan tanggung jawab merupakan karakter yang juga diperlukan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk olahraga.

Salah satu bagian yang menarik perhatian dalam pertunjukan Kethek Ogleng SDN 5 Jatisrono adalah gerakan-gerakan yang cepat dan lincah.

Karakter gerak yang menyerupai tingkah polah kera menjadi daya tarik tersendiri. Tubuh bergerak dinamis, sesekali diselingi gerakan yang atraktif dan lompatan, sehingga menciptakan suasana pertunjukan yang hidup.

Atraksi tersebut juga membutuhkan kesiapan fisik dari para penampil. Gerakan yang terlihat ringan ketika dilakukan di atas panggung sesungguhnya membutuhkan latihan, penguasaan teknik, dan koordinasi yang baik.

Setiap penampil harus mampu memahami ruang gerak sekaligus menjaga jarak dengan anggota kelompok lainnya. Kekompakan menjadi penting agar seluruh rangkaian pertunjukan dapat berjalan dengan baik dan tetap aman.

Ketika lompatan dan gerakan akrobatik dilakukan secara bersamaan, perhatian penonton pun semakin terpusat. Sorak dan antusiasme menjadi bagian dari suasana pembukaan Liga PGRI sebelum kegiatan utama, yakni pertandingan sepak bola, dimulai.

Kehadiran Kethek Ogleng pada pembukaan Liga PGRI Distrik 5 Jatisrono juga memperlihatkan bahwa lapangan olahraga dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan kebudayaan.

Lapangan Kelurahan Tanjungsari pada hari itu bukan hanya menjadi tempat berlangsungnya pertandingan sepak bola. Tempat tersebut juga menjadi ruang pertemuan antara olahraga, pendidikan, dan seni budaya.

Semangat yang dibangun melalui kegiatan tersebut memiliki kesamaan. Dalam seni, seseorang membutuhkan latihan dan ketekunan untuk menguasai sebuah gerakan. Dalam olahraga, seorang pemain juga membutuhkan latihan berulang untuk meningkatkan kemampuan.

Keduanya membutuhkan disiplin, kerja sama, konsentrasi, dan mental yang kuat.

Karena itu, penampilan Kethek Ogleng menjadi pembuka yang memiliki pesan tersendiri. Sebelum para pemain berkompetisi mengejar prestasi di lapangan hijau, para siswa terlebih dahulu menunjukkan bahwa budaya lokal juga layak mendapatkan ruang untuk tampil dan diapresiasi.

Di bawah asuhan Mulyadi, S.Pd., M.Pd., Kethek Ogleng menjadi salah satu media bagi siswa SDN 5 Jatisrono untuk mengembangkan bakat dan kreativitas.

Pembinaan seni di lingkungan sekolah menjadi penting karena proses pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan seremonial. Budaya akan tetap hidup apabila ada proses pewarisan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Melalui latihan dan pementasan, siswa mendapatkan pengalaman secara langsung. Mereka belajar mengenal gerakan, memahami karakter kesenian, membangun kekompakan, hingga berani menunjukkan kemampuan di depan masyarakat.

Panggung pembukaan Liga PGRI kemudian menjadi kesempatan bagi para siswa untuk menunjukkan hasil dari proses tersebut.

Pertunjukan itu sekaligus menjadi pesan bahwa sekolah memiliki peran strategis dalam menjaga keberlangsungan kesenian tradisional. Anak-anak yang saat ini belajar Kethek Ogleng dapat menjadi bagian dari generasi yang kelak membawa kesenian tersebut ke ruang pertunjukan yang lebih luas.

Liga PGRI Distrik 5 Jatisrono yang resmi dimulai pada Senin, 14 September 2026, akhirnya tidak hanya dikenang sebagai awal kompetisi sepak bola. Pembukaannya juga meninggalkan kesan melalui penampilan seni tradisional yang dibawakan siswa SDN 5 Jatisrono.

Kethek Ogleng hadir dengan energi yang kuat. Gerakan lincah, ekspresi para penampil, hingga atraksi lompatan membuat pertunjukan menjadi bagian yang menonjol sebelum pertandingan dimulai.

Lebih dari sekadar hiburan, penampilan tersebut menjadi simbol bahwa kegiatan masyarakat dapat sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat identitas budaya.

Di tengah atmosfer kompetisi olahraga, para siswa justru mengingatkan bahwa prestasi dan budaya dapat berjalan bersama. Olahraga membangun semangat kompetisi dan sportivitas, sementara seni membangun kreativitas dan kecintaan terhadap warisan budaya.

Keduanya dapat saling melengkapi dalam membentuk generasi muda yang sehat, kreatif, percaya diri, sekaligus memiliki akar budaya yang kuat.

Penampilan Kethek Ogleng SDN 5 Jatisrono pada pembukaan Liga PGRI Distrik 5 Jatisrono pun menjadi sebuah catatan menarik dari Lapangan Kelurahan Tanjungsari. Dari gerakan yang lincah hingga lompatan akrobatik para penampil, kesenian tradisional berhasil membuka sebuah agenda olahraga dengan cara yang berbeda.

Pesannya sederhana namun kuat: ketika generasi muda diberi ruang untuk mengenal dan memainkan seni tradisi, budaya tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi terus bergerak bersama zaman.

Dari Jatisrono, Wonogiri, Kethek Ogleng kembali menunjukkan bahwa seni tradisional masih mampu mencuri perhatian, menghidupkan suasana, dan menjadi kebanggaan ketika dibawakan dengan semangat oleh generasi muda.(Cahyospirit)

















Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar