Dari Medali Pencak Silat Kelapangan Voly,Adriel Gabriano Arkananta Jajal Tantangan Baru
Ngadirojo,Wonogiri KMR– Kejuaraan bola voli antardusun dalam rangka Pekan Olahraga Desa (Pordus) yang digelar Pemerintah Desa Mlokomanis Wetan, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri, menghadirkan cerita menarik. Di tengah persaingan para pemain dewasa, terselip sosok pemain belia yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
Adalah Adriel Gabriano Arkananta, siswa kelas 6 SD yang mendapat kesempatan memperkuat tim Rokak Reborn Lalung Kidul, Mlokomanis Wetan dalam pertandingan yang berlangsung pada Rabu, 16 September 2026.
Kehadiran Adriel menjadi perhatian tersendiri. Usianya yang masih belia membuat dirinya berbeda dari sebagian besar pemain yang turun dalam pertandingan.
Namun, kesempatan tersebut bukan diberikan tanpa alasan. Kemampuan yang ditunjukkannya selama mengikuti latihan bersama klub menjadi salah satu pertimbangan hingga akhirnya ia dipercaya untuk merasakan atmosfer pertandingan bersama pemain-pemain yang lebih senior.
Bagi Adriel, tampil dalam kejuaraan bola voli antardusun merupakan pengalaman baru.
Selama ini, namanya lebih dahulu dikenal sebagai salah satu atlet cilik pencak silat di Kabupaten Wonogiri yang pernah mendapatkan juara 1 kejuaraan Nasional pencak silat dan telah mengoleksi sejumlah medali dari berbagai ajang.
Dunia bola voli kemudian menjadi tantangan baru yang ingin dicobanya.
Adriel mulai serius mengenal bola voli setelah mengikuti latihan di Club Caraka, Randusari, Kecamatan Ngadirojo, Wonogiri. Dari latihan tersebut, kemampuan dan keberaniannya di lapangan perlahan berkembang.
Meski masih berstatus pelajar SD, penampilan Adriel dinilai cukup menjanjikan. Dari proses latihan itulah kemudian muncul kepercayaan untuk memberikan kesempatan kepadanya tampil dalam kejuaraan antardusun bersama tim Rokak Reborn.
Kesempatan tersebut tentu menjadi pengalaman berharga bagi seorang atlet muda yang masih berada pada tahap awal mengenal olahraga bola voli.
Adriel mengaku bahwa menjadi atlet bola voli merupakan pengalaman yang berbeda dibandingkan ketika dirinya menekuni pencak silat. Jika dalam pencak silat ia telah memiliki pengalaman bertanding dan meraih sejumlah prestasi, bola voli justru menjadi bidang baru yang harus dipelajarinya dari awal.
Meski demikian, ia tidak menjadikan statusnya sebagai pemain paling muda sebagai penghalang. Justru kesempatan bermain bersama pemain dewasa menjadi motivasi tersendiri untuk terus meningkatkan kemampuan.
Dukungan keluarga juga menjadi bagian penting dalam perjalanan Adriel menekuni olahraga tersebut. Kedua orang tua, paman, hingga sang kakek turut memberikan dukungan dan semangat agar dirinya tetap rajin berlatih.
Dukungan tersebut membuat Adriel semakin termotivasi untuk menjalani latihan dan mengembangkan kemampuannya. Bagi keluarga, kesempatan tampil di lapangan bersama pemain yang lebih dewasa juga menjadi bagian dari proses pembelajaran bagi sang atlet muda.
Pengalaman pertama mengikuti kejuaraan antardusun ini pun diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah pengalaman sesaat. Bagi Adriel, pertandingan tersebut justru menjadi pemacu semangat untuk terus berlatih dan memperbaiki kemampuan bermain bola voli.
Ia masih memiliki perjalanan panjang untuk mengembangkan potensinya. Apalagi, di usianya yang masih duduk di kelas 6 SD, kemampuan fisik, teknik, mental bertanding, serta pengalaman bermain masih dapat terus berkembang seiring bertambahnya usia dan jam terbang.
(Ketua Ofisial Tim Rokak Reborn Lalung Kidul, Mlokomanis Wetan, Yuli Setiawan (Tlutuh Sengon).Sementara itu, Ketua Ofisial Tim Rokak Reborn Lalung Kidul, Mlokomanis Wetan, Yuli Setiawan (Tlutuh Sengon), mengatakan keterlibatan Adriel merupakan bagian dari upaya memberikan ruang kepada pemain-pemain muda untuk mendapatkan pengalaman bertanding.
Menurut Wawan, Adriel bukan satu-satunya pemain muda yang diberikan kesempatan. Tim Rokak Reborn juga menampilkan pemain muda lainnya, salah satunya Ferdias yang masih duduk di bangku SMP.
(Ferdias (kiri) dan Adriel gabriano Arkananta (kanan) saat foto bersama sebelum tampil )Ferdias juga mendapat kesempatan untuk bermain bersama pemain-pemain yang lebih dewasa.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya tim untuk mulai memperkenalkan atmosfer pertandingan kepada pemain-pemain muda. Dengan bermain bersama pemain senior, para pemain belia diharapkan dapat belajar mengenai teknik permainan, kedisiplinan, komunikasi antarpemain, hingga mental menghadapi pertandingan.
Kejuaraan antardusun yang digelar dalam rangka Pordus Desa Mlokomanis Wetan akhirnya tidak sekadar menjadi ajang kompetisi antarwilayah. Bagi Rokak Reborn, momentum tersebut juga dimanfaatkan untuk melihat sekaligus memberikan pengalaman kepada talenta-talenta muda yang dinilai memiliki potensi.
Wawan menambahkan, saat ini Rokak Reborn Lalung Kidul tengah mempersiapkan sejumlah pemain muda lainnya. Pembinaan dilakukan secara bertahap agar nantinya muncul generasi baru yang dapat melanjutkan keberadaan tim sekaligus memiliki kemampuan yang semakin baik.
Pembinaan tersebut diarahkan agar para pemain muda tidak hanya mengandalkan bakat, tetapi juga mendapatkan latihan yang lebih terarah dan profesional.
Dengan pola pembinaan yang lebih serius, pemain-pemain muda diharapkan mempunyai fondasi teknik dan mental yang kuat ketika nantinya harus menghadapi pertandingan dengan tingkat persaingan yang lebih tinggi.
Kehadiran Adriel Gabriano Arkananta di lapangan pun menjadi gambaran bahwa olahraga bola voli di tingkat desa mulai memberikan ruang bagi generasi muda.
Bagi bocah kelas 6 SD tersebut, pertandingan pada Rabu, 16 September 2026, bukan sekadar sebuah pertandingan. Momen itu menjadi langkah awal untuk mengenal dunia bola voli secara lebih serius.
Setelah sebelumnya mengukir pengalaman melalui pencak silat, kini Adriel mencoba membuka lembaran baru sebagai atlet bola voli. Dengan dukungan keluarga, latihan bersama Club Caraka, serta kesempatan yang diberikan Rokak Reborn, pengalaman pertamanya di kejuaraan antardusun menjadi bekal untuk terus belajar.
Perjalanan Adriel masih panjang. Namun, keberaniannya tampil di antara para pemain dewasa menunjukkan bahwa pembinaan atlet usia muda dapat dimulai dari lingkungan terdekat, termasuk klub dan kompetisi olahraga di tingkat desa.
Dari sebuah kejuaraan antardusun, bibit-bibit muda seperti Adriel dan pemain seusianya mendapatkan kesempatan untuk belajar, bertanding, dan membangun pengalaman. Bukan tidak mungkin, pengalaman yang dimulai dari lapangan desa tersebut kelak menjadi bagian dari perjalanan mereka menuju prestasi yang lebih besar di dunia bola voli.(Cahyospirit)








.jpg)










