FTBI Tingkat Kecamatan Selogiri Berlangsung Meriah, 184 Siswa dari 30 SD Unjuk Kemampuan Bahasa Jawa
Selogiri,Wonogiri KMR — Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) jenjang Sekolah Dasar (SD) tingkat Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, berlangsung meriah, Sabtu (19/9/2026). Kegiatan yang dipusatkan di SDN Singodutan tersebut menjadi ajang bagi para siswa untuk menunjukkan kemampuan sekaligus kecintaan mereka terhadap bahasa dan budaya Jawa.
FTBI diikuti sebanyak 184 peserta yang berasal dari 30 sekolah dasar di wilayah Kecamatan Selogiri. Para peserta mengikuti berbagai cabang perlombaan yang mengangkat kemampuan berbahasa Jawa, baik secara lisan maupun tulisan.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Korwilcam Bidikcam Selogiri Katiman, S.Pd., MM, Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Selogiri Tri Warsito, S.Pd., Ketua Panitia Ekwan Nugroho, S.Pd.I, para kepala sekolah, guru pendamping, serta orang tua siswa yang turut memberikan dukungan kepada anak-anak mereka.
Suasana kegiatan semakin semarak dengan kehadiran para peserta yang tampil mengenakan pakaian dan membawa perlengkapan masing-masing sesuai cabang lomba yang diikuti. Sejak pagi, para siswa bersama guru dan orang tua telah memadati lokasi kegiatan.
Kegiatan diawali dengan upacara pembukaan FTBI. Dalam kesempatan tersebut, Katiman, S.Pd., MM, memimpin jalannya upacara sekaligus membuka secara resmi pelaksanaan Festival Tunas Bahasa Ibu tingkat Kecamatan Selogiri.
(Korwilcam Bidikcam Selogiri Katiman, S.Pd., MM)
Dalam sambutannya, Katiman menyampaikan bahwa penyelenggaraan FTBI memiliki arti penting dalam upaya menjaga dan melestarikan bahasa daerah di tengah perkembangan zaman.
Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar perlombaan antarsiswa, tetapi juga menjadi salah satu sarana untuk menumbuhkan rasa bangga terhadap bahasa Jawa sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah.
“Dengan diadakan FTBI ini selain untuk nguri-uri bahasa daerah, juga untuk mencari bibit-bibit berprestasi yang nantinya dapat maju dan mewakili Kecamatan Selogiri di tingkat kabupaten,” kata Katiman.
Ia berharap para siswa dapat mengikuti seluruh rangkaian perlombaan dengan penuh semangat dan menjadikan kegiatan tersebut sebagai pengalaman berharga. Menurutnya, keberanian siswa untuk tampil di depan orang lain juga menjadi bagian penting dari proses pendidikan.
FTBI memberikan ruang kepada siswa untuk mengembangkan berbagai kemampuan yang berkaitan dengan bahasa Jawa. Tidak hanya kemampuan membaca dan menulis, peserta juga dituntut mampu menunjukkan keterampilan berbicara, berekspresi, bercerita, hingga menguasai seni tradisi Jawa.
Dalam pelaksanaan FTBI tingkat Kecamatan Selogiri kali ini, terdapat tujuh cabang perlombaan yang diikuti oleh para siswa.
Ketujuh cabang tersebut meliputi membaca dan menulis bahasa Jawa/aksara Jawa, mendongeng, berpidato atau sesorah, menulis cerkak, membaca geguritan, nembang macapat, serta dagelan ijen.
Masing-masing cabang memiliki karakter dan tantangan tersendiri. Para siswa harus mempersiapkan diri dengan baik agar mampu menampilkan kemampuan terbaik di hadapan para juri.
Cabang membaca dan menulis bahasa Jawa serta aksara Jawa, misalnya, menguji kemampuan siswa dalam memahami sekaligus menggunakan bahasa dan aksara Jawa. Sementara itu, cabang mendongeng menuntut peserta memiliki kemampuan bercerita dengan ekspresi dan intonasi yang baik.
Pada cabang sesorah, siswa dituntut mampu menyampaikan pidato dalam bahasa Jawa secara runtut dan percaya diri. Kemampuan menyusun cerita pendek berbahasa Jawa juga diuji melalui cabang menulis cerkak.
Sementara itu, geguritan dan macapat menjadi ruang bagi siswa untuk mengenal sekaligus mengembangkan seni sastra dan tembang tradisional Jawa. Adapun dagelan ijen memberikan kesempatan kepada peserta untuk menunjukkan kreativitas, ekspresi, serta kemampuan menghibur melalui pertunjukan secara individu.
(Ekwan Nugroho, S.Pd.I, ketua panitia FTBI )Ketua Panitia FTBI tingkat Kecamatan Selogiri, Ekwan Nugroho, S.Pd.I, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diikuti oleh peserta dalam jumlah cukup besar.
“Jumlah peserta sebanyak 184 peserta, berasal dari 30 SD di Kecamatan Selogiri,” ujar Ekwan.
Menurutnya, seluruh peserta telah dipersiapkan oleh masing-masing sekolah sebelum mengikuti perlombaan. Para guru turut memberikan pendampingan dan pembinaan agar siswa dapat tampil maksimal dalam setiap cabang yang diikuti.
Dalam kegiatan tersebut, peserta dinilai berdasarkan kemampuan dan penampilan mereka pada masing-masing cabang lomba. Dari hasil penilaian akan ditetapkan juara pertama, kedua, dan ketiga.
Khusus bagi peserta yang berhasil meraih juara pertama, mereka berhak menjadi wakil Kecamatan Selogiri untuk mengikuti FTBI di tingkat Kabupaten Wonogiri.
Dengan demikian, ajang tingkat kecamatan ini tidak hanya menjadi kegiatan untuk berkompetisi, tetapi juga menjadi tahapan seleksi dalam menemukan siswa-siswa yang memiliki potensi di bidang bahasa dan sastra Jawa untuk dibawa ke tingkat berikutnya.
Dan lebih lanjut ia mengucapkan banyak terimakasih kepada teman teman K3S sehingga acara ini sukses terselenggara.
Semangat para peserta terlihat sejak kegiatan dimulai. Sejumlah siswa tampak serius mempersiapkan diri sebelum tampil. Ada yang kembali membaca materi, berlatih menghafalkan teks, melakukan pemanasan suara, hingga berdiskusi dengan guru pendamping.
Dukungan juga datang dari para orang tua. Mereka tampak antusias mengantarkan dan mendampingi putra-putrinya mengikuti perlombaan. Kehadiran orang tua menjadi penyemangat tersendiri bagi para siswa yang harus tampil di hadapan juri.
Bagi sebagian orang tua, mengikuti FTBI tidak semata-mata mengejar kemenangan. Kesempatan bagi anak untuk berani tampil, belajar bahasa Jawa, serta mengenal budaya daerah dinilai menjadi pengalaman yang penting bagi perkembangan mereka.
Semangat serupa juga terlihat dari para guru. Guru pendamping dari masing-masing sekolah memberikan dukungan kepada peserta sebelum maupun setelah tampil. Mereka turut memastikan anak-anak tetap percaya diri dan dapat mengikuti perlombaan dengan baik.
Pelaksanaan FTBI di SDN Singodutan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pembelajaran bahasa daerah dapat dikemas dalam kegiatan yang menarik dan kompetitif. Para siswa tidak hanya belajar melalui kegiatan di dalam kelas, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung melalui perlombaan dan pertunjukan.
Di tengah perkembangan teknologi dan penggunaan bahasa yang semakin beragam dalam kehidupan sehari-hari, keberadaan kegiatan seperti FTBI menjadi salah satu ruang bagi generasi muda untuk tetap mengenal bahasa daerah.
Bahasa Jawa tidak hanya dipelajari sebagai materi pembelajaran, tetapi juga digunakan dalam berbagai bentuk kreativitas. Mulai dari cerita, pidato, tembang, geguritan hingga pertunjukan dagelan.
Melalui kegiatan tersebut, para siswa diharapkan semakin mengenal bahasa dan sastra Jawa serta memiliki rasa bangga terhadap warisan budaya yang mereka miliki.
FTBI tingkat Kecamatan Selogiri tahun 2026 pun berlangsung dalam suasana penuh semangat. Bagi para peserta, panggung perlombaan menjadi tempat untuk menguji keberanian dan kemampuan. Bagi guru, kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembinaan bakat dan karakter siswa. Sementara bagi orang tua, kegiatan tersebut menjadi momen untuk memberikan dukungan secara langsung kepada anak-anak mereka.
Dengan jumlah peserta mencapai 184 siswa dari 30 SD, pelaksanaan FTBI di Kecamatan Selogiri menjadi salah satu wadah penting untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap bahasa Jawa.
Dari kegiatan tersebut, diharapkan lahir tunas-tunas muda yang tidak hanya memiliki prestasi dalam bidang bahasa dan sastra Jawa, tetapi juga mampu ikut menjaga keberlangsungan bahasa daerah sebagai bagian dari identitas dan kekayaan budaya masyarakat.
Para peraih juara pertama selanjutnya akan membawa nama Kecamatan Selogiri untuk berkompetisi di tingkat Kabupaten Wonogiri. Dengan bekal pengalaman dan pembinaan yang telah diperoleh, mereka diharapkan mampu kembali menunjukkan kemampuan terbaik pada ajang berikutnya.(Cahyospirit)










.jpg)








