BREAKING NEWS
🍃 🌿 🍃
🌱 PENGEN INFORMASI SEPUTAR AGROTECH?
Kunjungi agrotechindonesia.com
🌾 Membangun Pertanian Cerdas dan Berkelanjutan
👆 KLIK DI SINI

FTBI Slogohimo Semarak, 170 Peserta Tunjukkan Bakat Bahasa dan Budaya Jawa

(Korwilcam Bidik Kecamatan Slogohimo, Puji Handayani, S.Pd., M.Pd saat membuka kegiatan)

Slogohimo , Wonogiri KMR– Semangat melestarikan bahasa dan budaya Jawa kembali terlihat dalam pelaksanaan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) di wilayah Korwilcam Bidik Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri. Kegiatan yang berlangsung di SDN 3 Slogohimo, Sabtu (19/9/2026) tersebut diikuti ratusan peserta didik dari berbagai satuan pendidikan di Kecamatan Slogohimo.

Sebanyak 170 peserta ambil bagian dalam festival yang menjadi salah satu ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kemampuan berbahasa Jawa sekaligus mengenal lebih dekat kekayaan budaya daerah. Para peserta mengikuti berbagai cabang lomba yang menguji kemampuan berbahasa, sastra, seni tutur, hingga keterampilan dalam melestarikan aksara dan tembang Jawa.

Pelaksanaan FTBI berlangsung dalam suasana semarak. Sejak pagi, para peserta bersama guru pendamping telah memenuhi lokasi kegiatan. Mereka tampak mempersiapkan diri sebelum tampil di hadapan dewan juri. Masing-masing peserta berusaha memberikan penampilan terbaik dengan membawa karakter dan kreativitas masing-masing.

Korwilcam Bidik Kecamatan Slogohimo, Puji Handayani, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa pelaksanaan FTBI tahun ini berjalan dengan baik dan lancar. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar perlombaan, melainkan menjadi bagian penting dalam memberikan ruang kepada peserta didik untuk menunjukkan kemampuan sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa dan budaya Jawa.

“Pelaksanaan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) di Korwilcam Bidik Kecamatan Slogohimo berlangsung dengan baik, lancar, dan penuh antusiasme. Kegiatan ini menjadi wadah bagi para peserta untuk menunjukkan kemampuan, kreativitas, serta kecintaan terhadap bahasa dan budaya Jawa,” ungkap Puji Handayani.



Ia menjelaskan, tahun ini terdapat tujuh cabang lomba yang diikuti oleh peserta dari berbagai satuan pendidikan. Ketujuh cabang tersebut memberikan ruang yang cukup luas bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan mereka sesuai dengan minat dan bakat masing-masing.

Cabang Nulis lan Maca Aksara Jawa diikuti sebanyak 24 peserta. Cabang Ndongeng diikuti 21 peserta, sedangkan Sesorah menjadi salah satu cabang dengan jumlah peserta cukup banyak, yakni 28 peserta.

Selanjutnya, cabang Nulis Cerkak diikuti 21 peserta. Sementara itu, Maca Geguritan menjadi cabang dengan jumlah peserta terbanyak, yaitu 35 peserta. Cabang Nembang Macapat diikuti 19 peserta dan Ndhagel Ijen diikuti 22 peserta.

Keberagaman cabang tersebut memperlihatkan bahwa bahasa Jawa memiliki ruang yang luas untuk dikembangkan melalui berbagai bentuk keterampilan. Anak-anak tidak hanya diajak untuk memahami bahasa secara tertulis, tetapi juga dilatih berbicara, bercerita, bersastra, bernyanyi, serta menampilkan ekspresi seni yang berakar dari budaya Jawa.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang pelaksanaan kegiatan. Mereka tampil dengan penuh percaya diri meskipun harus berhadapan dengan peserta lain yang memiliki kemampuan dan persiapan masing-masing. Bagi sebagian peserta, FTBI juga menjadi pengalaman berharga untuk berani tampil di depan orang lain dan mengasah kemampuan komunikasi.

Jumlah peserta yang cukup besar, terutama pada cabang Maca Geguritan dan Sesorah, menjadi gambaran bahwa ketertarikan generasi muda terhadap bahasa Jawa masih dapat terus dikembangkan. Kegiatan seperti FTBI memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mempraktikkan bahasa Jawa dalam suasana yang menyenangkan dan kompetitif.

Menurut Puji, keberhasilan pelaksanaan kegiatan tersebut tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Guru pendamping, panitia, dewan juri, peserta didik, serta seluruh satuan pendidikan di wilayah Korwilcam Bidik Kecamatan Slogohimo memiliki peran dalam menyukseskan kegiatan.

Apresiasi juga diberikan kepada para guru yang telah mendampingi dan mempersiapkan peserta sebelum mengikuti perlombaan. Persiapan tersebut tentu tidak hanya dilakukan dalam waktu singkat, tetapi melalui proses latihan yang membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan dukungan dari lingkungan sekolah maupun keluarga.

“Apresiasi patut diberikan kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan, mulai dari peserta, guru pendamping, panitia, dewan juri, serta satuan pendidikan di wilayah Korwilcam Bidik Kecamatan Slogohimo,” lanjutnya.

Lebih dari sekadar mencari juara, FTBI diharapkan mampu menjadi bagian dari upaya menjaga keberadaan bahasa Jawa di tengah perkembangan zaman. Generasi muda sebagai penerus budaya memiliki peran penting agar bahasa daerah tidak hanya dipelajari sebagai materi pembelajaran, tetapi juga tetap digunakan dan dihargai dalam kehidupan sehari-hari.

Pelestarian bahasa ibu juga berkaitan erat dengan pelestarian identitas budaya. Melalui bahasa, anak-anak dapat mengenal berbagai bentuk sastra, unggah-ungguh, cerita rakyat, tembang, kesenian, serta nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat Jawa.

Semangat tersebut sejalan dengan berbagai kegiatan seni dan budaya yang selama ini berkembang di Kecamatan Slogohimo. Prestasi peserta didik Slogohimo juga tidak berhenti pada pelaksanaan FTBI. Sebelumnya, anak-anak Slogohimo berhasil mencatatkan prestasi di tingkat Kabupaten Wonogiri dengan meraih juara 1 dalam tari Kethek Ogleng.

Prestasi tersebut menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus menunjukkan bahwa potensi seni dan budaya di kalangan peserta didik Slogohimo cukup kuat. Tari Kethek Ogleng sebagai salah satu kesenian tradisional khas Wonogiri menjadi bagian dari warisan budaya yang perlu terus dikenalkan kepada generasi muda.

Keberhasilan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pembinaan peserta didik di bidang bahasa, sastra, seni, dan budaya dapat berjalan beriringan. Anak-anak tidak hanya didorong untuk berprestasi dalam bidang akademik, tetapi juga diberikan kesempatan untuk mengembangkan bakat dan kreativitas melalui kebudayaan daerah.

Pelaksanaan FTBI di SDN 3 Slogohimo akhirnya tidak hanya menjadi agenda perlombaan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara pendidikan dan kebudayaan. Anak-anak belajar bahwa bahasa Jawa memiliki banyak bentuk ekspresi yang menarik, mulai dari aksara, cerita, pidato, geguritan, tembang hingga seni pertunjukan.

Dengan jumlah peserta mencapai 170 anak dan tujuh cabang perlombaan, kegiatan tersebut menjadi salah satu gambaran nyata tingginya ruang partisipasi peserta didik dalam kegiatan pelestarian bahasa dan budaya Jawa di Kecamatan Slogohimo.

Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat terus dikembangkan sehingga semakin banyak peserta didik yang memperoleh kesempatan untuk mengenal, menggunakan, dan mencintai bahasa serta budaya daerahnya sendiri.

Bagi Kecamatan Slogohimo, semangat tersebut menjadi modal penting untuk melahirkan generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan dan prestasi, tetapi juga memahami serta menghargai akar budaya yang menjadi bagian dari identitas mereka.

FTBI pun diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan tahunan. Semangat yang muncul dari festival tersebut dapat terus dibawa ke lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat, sehingga bahasa Jawa tetap hidup, digunakan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dengan dukungan sekolah, guru, orang tua, pemerintah, serta masyarakat, berbagai potensi anak di bidang bahasa dan budaya dapat terus tumbuh. Prestasi juara 1 tari Kethek Ogleng tingkat Kabupaten Wonogiri menjadi salah satu bukti bahwa ketika potensi anak mendapatkan ruang dan pembinaan yang tepat, mereka mampu membawa nama Slogohimo hingga ke tingkat yang lebih tinggi.(Cahyospirit)















Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar