BREAKING NEWS
🍃 🌿 🍃
🌱 PENGEN INFORMASI SEPUTAR AGROTECH?
Kunjungi agrotechindonesia.com
🌾 Membangun Pertanian Cerdas dan Berkelanjutan
👆 KLIK DI SINI

PNM Mekaar Wonogiri Dorong Kemandirian Ekonomi Nasabah melalui Pelatihan Budidaya Cabai Di desa Jatisari

Kegiatan tersebut digelar pada Kamis, 24 September 2026, bertempat di Jatisari Edu Park, Desa Jatisari, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri

Jatisrono , Wonogiri KMR— Upaya mendorong kemandirian ekonomi masyarakat terus dilakukan melalui berbagai program pemberdayaan yang tidak hanya berfokus pada akses permodalan, tetapi juga peningkatan pengetahuan dan keterampilan. Langkah tersebut salah satunya dilakukan oleh PNM Mekaar Wonogiri melalui kegiatan Pelatihan Klasterisasi Sektoral Penanaman Bibit Cabai dan Inovasi Perawatannya.

Kegiatan tersebut digelar pada Kamis, 24 September 2026, bertempat di Jatisari Edu Park, Desa Jatisari,Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri. 

Pelatihan diikuti oleh para nasabah dan pelaku usaha yang diharapkan dapat memperoleh pengetahuan praktis mengenai budidaya cabai, mulai dari pembibitan hingga perawatan tanaman.

Kegiatan berlangsung dengan suasana edukatif dan interaktif. Para peserta tidak hanya mendapatkan materi secara teori, tetapi juga diperkenalkan dengan berbagai hal teknis yang dapat diterapkan dalam kegiatan pertanian maupun pemanfaatan lahan di sekitar rumah.

(Teguh Subroto, selaku Kepala Desa Jatisari)

Acara diawali dengan sambutan dari Teguh Subroto, selaku Kepala Desa Jatisari, Kecamatan Jatisrono, Wonogiri. Dalam kesempatan tersebut, dukungan terhadap kegiatan pemberdayaan masyarakat menjadi salah satu bagian penting dalam upaya meningkatkan potensi ekonomi warga.

(Andi Ahdiad Priyohutomo, Manager Supporting PNM Wonogiri )

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Andi Ahdiad Priyohutomo, Manager Supporting PNM Wonogiri.

Dalam sambutannya, Andi menjelaskan bahwa program yang dijalankan PNM tidak semata-mata berorientasi pada pemberian modal usaha kepada nasabah. Menurutnya, pemberdayaan perlu dilakukan secara menyeluruh agar modal yang diberikan dapat diikuti dengan peningkatan kapasitas penerimanya.

Ia menyebut terdapat tiga aspek penting yang menjadi perhatian dalam program pemberdayaan PNM, yaitu modal finansial, modal intelektual, dan modal sosial.

Modal finansial diberikan untuk membantu nasabah menjalankan sekaligus mengembangkan kegiatan usaha. Namun, menurut Andi, modal tersebut akan lebih optimal apabila didukung dengan pengetahuan, keterampilan, serta kemampuan dalam mengelola usaha.

Karena itu, peningkatan modal intelektual melalui kegiatan pelatihan menjadi bagian penting dari proses pemberdayaan. Para nasabah diharapkan tidak hanya menerima dukungan permodalan, tetapi juga mampu meningkatkan kemampuan dalam mengelola potensi usaha yang dimiliki.

Sementara itu, modal sosial berkaitan dengan kemampuan masyarakat untuk membangun hubungan, menjalin kerja sama, dan saling mendukung dalam mengembangkan aktivitas ekonomi di lingkungannya.

“Pemberdayaan tidak hanya soal memberikan modal, tetapi juga bagaimana nasabah memiliki pengetahuan dan jaringan sosial yang dapat membantu usaha mereka berkembang,” ujar Andi dalam sambutannya.

Menurutnya, pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu nasabah menjadi lebih mandiri dalam mengembangkan usaha. Pelatihan yang diberikan juga diarahkan agar pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan secara langsung sesuai dengan kondisi dan potensi yang ada di lingkungan masing-masing.

Setelah rangkaian sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi mengenai pembibitan dan budidaya cabai. Materi tersebut disampaikan oleh Sukidi dan Hery dari Dinas Pertanian Jatisrono.

Dalam sesi tersebut, peserta mendapatkan penjelasan mengenai tahapan awal dalam budidaya cabai, khususnya bagaimana menyiapkan bibit agar dapat tumbuh dengan baik.

Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah pengelolaan air pada tanaman cabai. Peserta diberikan pemahaman bahwa tanaman cabai tidak boleh mendapatkan air secara berlebihan. Pengaturan penyiraman perlu disesuaikan dengan kondisi tanaman dan media tanam.

Kelebihan air dapat memengaruhi kondisi tanaman sehingga pengelolaan kelembapan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam proses budidaya. Karena itu, peserta didorong untuk lebih memahami kondisi media tanam dan kebutuhan tanaman sebelum melakukan penyiraman.

Pengetahuan mengenai pembibitan dinilai penting karena kualitas tanaman sejak tahap awal turut menentukan proses pertumbuhan selanjutnya. Dengan memahami cara menyiapkan dan merawat bibit, masyarakat diharapkan dapat memulai kegiatan budidaya secara lebih terarah.

Materi yang diberikan juga menjadi kesempatan bagi peserta untuk berdiskusi mengenai berbagai kendala yang sering ditemukan ketika menanam cabai, terutama bagi mereka yang ingin memanfaatkan pekarangan rumah sebagai lahan produktif.

Selain materi pembibitan, peserta juga mendapatkan pengetahuan mengenai budidaya tanaman dan pemanfaatan lingkungan rumah untuk kegiatan pertanian.

Materi tersebut disampaikan oleh  Bayu, yang mengajak peserta untuk melihat kegiatan pertanian tidak selalu harus dilakukan dalam skala besar. Pemanfaatan ruang yang tersedia di sekitar rumah dapat menjadi salah satu alternatif untuk memulai kegiatan bercocok tanam.


Peserta diperkenalkan dengan cara mengolah media tanam sebagai salah satu tahapan penting sebelum tanaman ditanam. Media tanam perlu dipersiapkan dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan tanaman sehingga dapat menunjang pertumbuhan secara optimal.

Pengolahan media tanam menjadi bagian yang tidak kalah penting karena media berfungsi sebagai tempat tumbuh sekaligus sumber pendukung bagi tanaman. Oleh sebab itu, peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya menyiapkan media tanam dengan baik sebelum proses penanaman dilakukan.

Konsep bertani dari rumah juga dinilai dapat menjadi langkah awal bagi masyarakat yang ingin mencoba kegiatan produktif dengan memanfaatkan lahan yang tersedia. Selain menghasilkan tanaman untuk kebutuhan sendiri, kegiatan tersebut berpotensi dikembangkan menjadi aktivitas ekonomi apabila dikelola secara konsisten.

Melalui pelatihan tersebut, peserta diharapkan tidak berhenti pada pemahaman teori. Pengetahuan mengenai pembibitan, penyiraman, budidaya, hingga pengolahan media tanam diharapkan dapat langsung dipraktikkan di rumah maupun pada lahan yang dimiliki.

(Sugiharto Tim PNM Mekaar )

Menurut Sugiharto perwakilan PNM mengatakan Pelatihan Klasterisasi Sektoral yang digelar PNM Mekaar Wonogiri tersebut menjadi salah satu bentuk pendekatan pemberdayaan yang menggabungkan dukungan permodalan dengan peningkatan kapasitas masyarakat.

Budidaya cabai dipilih sebagai salah satu materi karena kegiatan pertanian dapat dilakukan dengan memanfaatkan lahan yang tersedia, termasuk lingkungan sekitar rumah. Dengan pengetahuan yang tepat, masyarakat dapat mulai mengenal proses produksi tanaman secara lebih terencana.

Kegiatan semacam ini juga membuka ruang bagi peserta untuk bertukar pengalaman. Berbagai kendala yang dihadapi dalam kegiatan pertanian dapat didiskusikan bersama sehingga peserta tidak hanya mendapatkan materi dari narasumber, tetapi juga memperoleh pembelajaran dari pengalaman sesama peserta.

Dari sisi pemberdayaan, peningkatan keterampilan menjadi faktor penting agar masyarakat memiliki lebih banyak pilihan dalam mengembangkan kegiatan produktif. Dukungan modal tanpa diimbangi kemampuan mengelola usaha dapat menghadapi berbagai tantangan. Sebaliknya, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan dapat menjadi bekal dalam memanfaatkan dukungan yang tersedia.

Melalui kegiatan tersebut, PNM Mekaar Wonogiri berupaya memperkuat kapasitas nasabah agar mampu melihat peluang ekonomi dari potensi yang ada di sekitar mereka.

Pelatihan budidaya cabai di Jatisari Edu Park pun diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pembelajaran satu hari. Pengetahuan yang diperoleh peserta dapat menjadi langkah awal untuk mencoba menanam, merawat, dan mengembangkan tanaman secara mandiri.

Dengan adanya sinergi antara pemerintah desa, PNM serta masyarakat, kegiatan pemberdayaan diharapkan dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas.

Pada akhirnya, peningkatan keterampilan, pemanfaatan potensi lingkungan, serta penguatan jejaring sosial menjadi bagian yang saling berkaitan dalam mendorong masyarakat menuju kemandirian ekonomi.

 Pelatihan seperti ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk belajar sekaligus membuka peluang agar kegiatan sederhana di lingkungan rumah dapat berkembang menjadi aktivitas produktif yang memiliki nilai ekonomi.(Cahyospirit)

















Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar