Pijiharjo Mantapkan Inovasi SATU ANGSA, Dorong Ketahanan Pangan dan Ekonomi Keluarga
WONOGIRI KMR – Upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat terus dilakukan Desa Pijiharjo. Salah satunya melalui inovasi SATU ANGSA (Sayur Sehat untuk Anak Bangsa) yang diarahkan untuk memperkuat pemanfaatan hasil pertanian lokal dan membuka akses pasar yang lebih luas bagi petani.
Inovasi SATU ANGSA merupakan inovasi daerah yang digagas masyarakat dan bergerak pada bidang pangan, pertanian, serta perdagangan. Inovasi tersebut mulai diuji coba pada 9 Februari 2026 dan memasuki tahap implementasi pada 1 April 2026.
Gagasan SATU ANGSA lahir dari persoalan nyata yang dihadapi petani, terutama dalam memasarkan hasil pertanian setelah masa panen. Selama ini, petani masih harus mencari pembeli secara mandiri dengan akses pasar yang relatif terbatas.
Kondisi tersebut membuat petani memiliki pilihan pembeli yang terbatas dan posisi tawar dalam menentukan harga belum optimal. Bahkan, hasil panen tidak selalu langsung mendapatkan pembeli.
Melalui SATU ANGSA, persoalan tersebut berupaya dijawab dengan membangun akses pemasaran yang lebih jelas. Hasil pertanian petani dihubungkan dengan kebutuhan SPPG, sehingga terdapat peluang penyerapan hasil pertanian yang lebih terarah.
“Dengan adanya SPPG, petani memiliki kemudahan dalam memasarkan hasil pertaniannya karena terdapat kebutuhan atau penyerapan hasil pertanian yang lebih jelas,” demikian gambaran dalam proposal inovasi SATU ANGSA.
Penanggungjawab Inovasi yang sekaligus Ketua TP PKK Desa Pijiharjo, Wartini menuturkan skema SATU ANGSA dilakukan melalui beberapa tahapan. Petani terlebih dahulu didata, termasuk jenis hasil pertanian yang mereka produksi. Selanjutnya dilakukan identifikasi kebutuhan hasil pertanian yang diperlukan SPPG.
Dari proses tersebut, petani kemudian dihubungkan dengan kebutuhan pasar. Hasil pertanian dijual dan disalurkan berdasarkan kebutuhan serta kesepakatan yang telah ditentukan. Proses tersebut kemudian dipantau dan dievaluasi untuk melihat manfaat inovasi bagi petani.
Pola ini diharapkan dapat mengubah kondisi pemasaran yang sebelumnya membuat petani kesulitan mencari pembeli menjadi lebih terarah. Proposal inovasi mencatat bahwa setelah adanya SPPG, petani memiliki peluang memperoleh akses penjualan yang lebih mudah, hasil panen lebih mudah terserap, serta peluang mendapatkan harga yang lebih kompetitif.
SATU ANGSA tidak hanya memberikan manfaat bagi petani. Keberadaan inovasi tersebut juga diharapkan memperkuat hubungan antara petani, SPPG, dan masyarakat sekitar.
Bagi petani, inovasi ini memberikan kemudahan dalam menjual hasil pertanian, memperluas akses pasar, mengurangi kesulitan mencari pembeli, serta membuka peluang peningkatan pendapatan.
Sementara bagi SPPG, keberadaan petani lokal sebagai pemasok dapat membantu memenuhi kebutuhan bahan hasil pertanian sekaligus memperkuat kerja sama dengan masyarakat sekitar. Bagi masyarakat, inovasi tersebut membuka peluang pasar bagi hasil pertanian lokal dan mendukung kegiatan ekonomi setempat.
Dengan demikian, SATU ANGSA berupaya membangun mata rantai sederhana tetapi strategis: petani menghasilkan, pasar menyerap, masyarakat mendapatkan manfaat, dan kebutuhan pangan dapat dipenuhi dari potensi lokal.
Agar manfaat inovasi terus berkembang, keberlanjutan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan SATU ANGSA. Pendataan petani, pemetaan hasil pertanian, identifikasi kebutuhan, penyaluran produk, monitoring, dan evaluasi menjadi tahapan yang dirancang untuk memastikan inovasi berjalan secara berkelanjutan.
Tujuan akhirnya bukan hanya mempermudah penjualan hasil panen. SATU ANGSA juga diarahkan untuk memperluas akses pemasaran, meningkatkan penyerapan hasil pertanian, memperkuat posisi tawar petani, serta mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kepala Desa Pijiharjo, Ribut Sulastri, dalam proposal inovasi tersebut menempatkan SATU ANGSA sebagai bagian dari upaya pengembangan inovasi daerah berbasis kebutuhan masyarakat.
Melalui SATU ANGSA, Pijiharjo berupaya menunjukkan bahwa ketahanan pangan dapat dibangun dari tingkat lokal. Bukan hanya melalui peningkatan produksi, tetapi juga dengan memastikan hasil pertanian masyarakat memiliki akses pasar dan memberikan nilai ekonomi bagi keluarga.
Dari sayur yang ditanam masyarakat, Pijiharjo membangun harapan: pangan lebih dekat, petani lebih berdaya, dan ekonomi keluarga semakin kuat.(Ndr/Pimpred Cahyospirit)





.jpg)










