BREAKING NEWS
🍃 🌿 🍃
🌱 PENGEN INFORMASI SEPUTAR AGROTECH?
Kunjungi agrotechindonesia.com
🌾 Membangun Pertanian Cerdas dan Berkelanjutan
👆 KLIK DI SINI

Dinas Pendidikan Wonogiri Perkuat Pendidikan Karakter, Cegah Perundungan dan Kekerasan di Sekolah

kegiatan penguatan pendidikan karakter bagi siswa jenjang sekolah dasar (SD), dengan menitikberatkan pada pencegahan perundungan, kekerasan, serta sikap intoleransi di lingkungan satuan pendidikan.

WONOGIRI KMR  – Dinas Pendidikan Kabupaten Wonogiri terus mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan kondusif bagi peserta didik. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan penguatan pendidikan karakter bagi siswa jenjang sekolah dasar (SD), dengan menitikberatkan pada pencegahan perundungan, kekerasan, serta sikap intoleransi di lingkungan satuan pendidikan.

Kegiatan tersebut digelar di aula Dinas Pendidikan Kabupaten Wonogiri, Selasa (29/9/2026). Sebanyak 80 siswa dan 16 guru pendamping yang berasal dari 16 sekolah dasar. Masing-masing sekolah mengirimkan lima siswa sebagai perwakilan serta satu guru pendamping.

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk perhatian Dinas Pendidikan terhadap pentingnya membangun karakter peserta didik sejak usia sekolah dasar. Selain memberikan pemahaman mengenai perilaku yang dapat mengarah pada perundungan dan kekerasan, para siswa juga diajak memahami pentingnya menjaga sikap saling menghormati serta menciptakan hubungan yang positif dengan teman di lingkungan sekolah.



Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Wonogiri, Drs. Sriyanto, M.M., Kepala Bidang Pendidikan Dasar Sularto, S.E., serta Kasi Kurikulum Agung B. Kegiatan juga menghadirkan narasumber Ratri bersama tim dari Dinas Sosial yang memberikan materi berkaitan dengan perundungan dan langkah-langkah pencegahannya.

(Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Wonogiri Drs. Sriyanto, M.M saat memberikan sambutan)

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Wonogiri Drs. Sriyanto, M.M. menegaskan pentingnya penguatan pendidikan karakter dalam membentuk perilaku dan kepribadian peserta didik. Menurutnya, sekolah tidak hanya menjadi tempat untuk memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga menjadi ruang bagi anak untuk belajar bersosialisasi, menghargai orang lain, serta memahami batasan dalam berinteraksi.

Ia menyampaikan bahwa upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, baik sekolah, guru, siswa maupun keluarga.

“Penguatan pendidikan karakter sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman dan bebas dari perundungan, kekerasan maupun intoleransi di satuan pendidikan,” ujar Sriyanto dalam sambutannya.

Menurutnya, pencegahan perundungan harus dilakukan sejak dini. Anak-anak perlu mendapatkan pemahaman mengenai bentuk-bentuk perundungan serta mengetahui bagaimana bersikap apabila melihat atau mengalami tindakan yang mengarah pada perundungan.



Perundungan tidak selalu berbentuk tindakan fisik. Perilaku mengejek, menghina, mengucilkan teman, memberikan julukan yang menyakitkan, menyebarkan aib, hingga melakukan intimidasi melalui media sosial juga dapat memberikan dampak terhadap korban.

Karena itu, siswa diharapkan mampu membangun kebiasaan saling menghargai dan tidak melakukan tindakan yang dapat menyakiti teman, baik secara langsung maupun melalui media digital.

Selain persoalan perundungan, perkembangan teknologi juga menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut. Penggunaan telepon seluler atau handphone yang semakin dekat dengan kehidupan anak-anak perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai penggunaan teknologi secara bijak.

Sriyanto mengingatkan agar peserta didik tidak sembarangan mengakses maupun menyebarkan konten yang mengandung unsur kekerasan. Anak-anak juga perlu belajar memilah informasi yang mereka temukan di internet.

Di tengah kemudahan akses informasi saat ini, penggunaan handphone tidak hanya memberikan manfaat dalam mendukung proses belajar. Namun, tanpa pendampingan dan pemahaman yang cukup, perangkat tersebut juga dapat menjadi sarana munculnya berbagai persoalan, termasuk paparan konten kekerasan maupun perundungan di dunia maya.

Karena itu, literasi digital dan pendidikan karakter dinilai perlu berjalan beriringan. Anak-anak harus diberikan ruang untuk memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar dan berkomunikasi, tetapi tetap memahami etika serta tanggung jawab dalam penggunaannya.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh narasumber dari Dinas Sosial, Ratri bersama tim. Para peserta mendapatkan penjelasan mengenai pengertian perundungan, berbagai bentuk tindakan yang dapat dikategorikan sebagai perundungan, dampak yang dapat ditimbulkan, serta cara mengantisipasi dan menghadapi situasi tersebut.

Dalam penyampaian materi, para siswa diberikan pemahaman bahwa perundungan dapat memberikan dampak terhadap kondisi sosial maupun perkembangan anak. Korban perundungan dapat mengalami rasa takut, tidak nyaman berada di lingkungan sekolah, kehilangan kepercayaan diri, hingga kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain.

Oleh sebab itu, persoalan perundungan tidak dapat dianggap sebagai sekadar candaan antarteman. Setiap tindakan yang dilakukan berulang dan menimbulkan rasa tertekan atau merugikan orang lain perlu mendapatkan perhatian.

Para peserta juga didorong untuk berani berbicara kepada orang dewasa yang dipercaya apabila mengalami maupun mengetahui adanya tindakan perundungan. Guru dan orang tua memiliki peran penting dalam mendengarkan laporan anak serta memberikan pendampingan yang tepat.

Sementara bagi siswa yang melihat adanya perundungan, mereka diharapkan tidak ikut menjadi bagian dari tindakan tersebut. Sikap peduli terhadap teman dan keberanian untuk melaporkan kejadian kepada guru menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk membantu mencegah perundungan berkembang di lingkungan sekolah.

Melalui kegiatan ini, Dinas Pendidikan Kabupaten Wonogiri berharap pesan mengenai pentingnya pendidikan karakter dapat diteruskan kepada lingkungan sekolah masing-masing. Para siswa yang hadir diharapkan mampu menjadi contoh bagi teman-temannya dalam membangun budaya sekolah yang saling menghargai.

Keberadaan guru pendamping juga menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Guru diharapkan dapat membawa kembali materi yang diperoleh untuk diterapkan dalam kehidupan sekolah, sekaligus menjadi salah satu pihak yang mampu mengenali lebih awal apabila terdapat indikasi perundungan, kekerasan, maupun intoleransi di antara peserta didik.

Upaya menciptakan sekolah yang aman pada akhirnya tidak hanya menjadi tanggung jawab satu pihak. Diperlukan kerja sama antara pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan, pihak sekolah, guru, orang tua, serta para siswa.

Dengan penguatan karakter sejak jenjang sekolah dasar, diharapkan peserta didik tidak hanya berkembang dalam kemampuan akademik, tetapi juga memiliki sikap saling menghormati, peduli terhadap sesama, mampu menggunakan teknologi secara bijak, serta memahami pentingnya menjaga lingkungan pendidikan dari berbagai bentuk kekerasan dan perundungan.

Kegiatan yang diikuti puluhan siswa dan guru dari 16 SD tersebut menjadi bagian dari upaya membangun budaya pendidikan yang menempatkan keamanan, kenyamanan, penghormatan terhadap sesama, dan pembentukan karakter sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran di sekolah.(Cahyospirit)

















Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar