BREAKING NEWS
SPACE IKLAN INI DISEWAKAN
untuk informasi hubungi Dewan Redaksi 0877-9361-6743

Unik! Pecel Mbah Ni Hanya Buka Hari Minggu, Pukul 08.00 Sudah Ludes Diserbu Pembeli

antrean mulai mengular di satu titik sederhana lapak Pecel Mbah Ni.

Wonogiri KMR— Pagi di Alun-alun Betal, Kecamatan Nguntoronadi, biasanya berjalan tenang. Namun suasana itu berubah drastis setiap Minggu sejak kurang lebih setahun ini. Mulai pukul 05.30 WIB buka, antrean mulai mengular di satu titik sederhana lapak Pecel Mbah Ni.

Tak ada promosi digital yang gencar. Hanya meja sederhana, senyum ramah, dan racikan bumbu kacang khas yang membuat ratusan orang rela datang lebih pagi. Dalam hitungan jam, semua dagangan ludes. Sekitar pukul 08.00 WIB biasanya sudah habis.

Yang membuatnya semakin unik, Mbah Ni hanya berjualan satu kali dalam seminggu dan di hanya memanfaatkan mobil. Satu mobil berisi makanan dan satu mobil berisi aneka minuman. Ya, hanya setiap hari Minggu. Namun justru di situlah daya tariknya. Keterbatasan waktu jualan menciptakan rasa penasaran sekaligus urgensi, kalau terlambat sedikit saja, pembeli harus menunggu seminggu lagi.

Dalam satu pagi, Pecel Pincuk Mbah Ni mampu menjual ratusan porsi. Menu yang disajikan pun beragam: pecel sebagai primadona, soto hangat, telor, aneka jajanan pasar atau tenongan, hingga gorengan yang selalu cepat habis. Harga yang ditawarkan juga sangat ramah di kantong,  harga cukup mulai Rp6.000 per porsi pecel.

Tak hanya warga lokal, pembeli dari luar daerah pun mulai berdatangan. Bahkan ada kisah menarik dari pengunjung asal Solo yang sengaja kembali hanya untuk mencicipi pecel ini.

“Ada pembeli dari Solo, awalnya mampir saat perjalanan ke Pacitan. Lalu penasaran dan datang lagi khusus ke sini. Tapi sayangnya waktu itu sudah habis,” ungkap Ninik Setyowati.

Cerita seperti ini semakin sering terdengar. Banyak orang yang awalnya tak sengaja mampir, justru kembali dengan niat khusus. Bahkan ada yang menjadikan Pecel Mbah Ni sebagai destinasi wajib saat melintas menuju Pacitan.

Fenomena ini menjadi angin segar bagi Kecamatan Nguntoronadi, yang selama ini dikenal relatif sepi. “Kecamatan Nguntoronadi dikenal paling sepi. Kami ingin membangun image bahwa Nguntoronadi juga ramai dan punya daya tarik. Jajanan yang ada di tenongan itu banyak yang titipan dari pelaku UMKM sekitar. Kami juga ingin ikut mengangkat pelaku UMKM di Nguntoronadi,” tambah Ninik.

Meski baru berjalan kurang dari satu tahun, Pecel Mbah Ni telah menjadi magnet baru. Bukan hanya soal rasa, tetapi juga pengalaman, bangun pagi, berburu sarapan, dan bertemu banyak orang di satu titik yang sama.

Di tengah gempuran kuliner modern, kesederhanaan justru menjadi kekuatan. Dan di Alun-alun Betal, setiap Minggu pagi, Mbah Ni membuktikan bahwa cita rasa, ketekunan, dan keunikan waktu jualan mampu menghidupkan harapan ekonomi sebuah daerah.(NDR /Pimred Cahyospirit)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar