BREAKING NEWS
SPACE IKLAN INI DISEWAKAN
untuk informasi hubungi Dewan Redaksi 0877-9361-6743

Demi Porang, Isnanto Tinggalkan Gemerlap Jakarta dan Menjadi Petani Sukses di Wonogiri

      Isnanto Petani Porang Asal Wonogiri 

Wonogiri KMR– Kisah sukses di dunia pertanian sering kali lahir dari keberanian mengambil keputusan besar dalam hidup. Hal itulah yang dilakukan oleh Isnanto, seorang petani porang asal Wonogiri yang rela meninggalkan hiruk pikuk kehidupan Jakarta demi menekuni budidaya tanaman porang di kampung halamannya.

Keputusan tersebut bukanlah pilihan yang mudah. Saat banyak orang berlomba mencari pekerjaan dan membangun karier di ibu kota, Isnanto justru memilih jalan berbeda. Ia meninggalkan kenyamanan bekerja di Jakarta dan kembali ke Wonogiri untuk mengembangkan sektor pertanian yang saat itu belum banyak dilirik masyarakat, khususnya budidaya porang.


Perjalanan Isnanto dalam dunia porang dimulai dengan berbagai tantangan. Ia harus mempelajari teknik budidaya, memahami karakter tanah, hingga menghadapi ketidakpastian cuaca yang kerap menjadi kendala utama para petani. Namun berkat ketekunan dan keyakinannya terhadap potensi komoditas porang, usahanya perlahan mulai membuahkan hasil.

Keberhasilan yang diraih dari budidaya porang membuat kehidupan Isnanto berubah. Setelah usahanya berkembang dan memberikan hasil yang menjanjikan, ia memutuskan memboyong anak dan istrinya untuk menetap di Wonogiri. 

Kini keluarga kecilnya tinggal di wilayah Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri, dan menikmati kehidupan yang lebih dekat dengan alam sekaligus menjadi bagian dari perjalanan sukses usaha porang yang dirintisnya.


Pada tahun 2022, Isnanto semakin serius mengembangkan usaha taninya. Setelah sukses mengelola lahan porang di wilayah Slogohimo, ia melakukan ekspansi budidaya ke Kecamatan Jatipurno dengan luas lahan mencapai 1,5 hektare. Langkah tersebut menjadi bukti optimisme Isnanto terhadap prospek porang yang saat itu terus menunjukkan permintaan tinggi dari pasar.

Menurut Isnanto, dalam kondisi normal produktivitas tanaman porang dapat mencapai sekitar 14 ton per hektare. Hasil panen tersebut memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi karena langsung diserap oleh pabrik pengolahan dengan harga sekitar Rp12.600 per kilogram dari lahan petani.

“Porang memiliki pasar yang jelas. Setelah dipanen, hasilnya langsung dibawa ke pabrik untuk diproses lebih lanjut,” ujarnya.

Salah satu tujuan pengolahan hasil panen porang tersebut adalah pabrik yang berada di Mojokerto, Jawa Timur. Di sana umbi porang diolah menjadi chip atau irisan kering sebelum memasuki tahap pemrosesan berikutnya. Dari bahan baku tersebut kemudian dilakukan pemisahan dan pengolahan menjadi tepung yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Produk turunan porang memiliki pasar ekspor yang luas, terutama ke Jepang. Negara tersebut menjadi salah satu tujuan utama produk olahan porang karena digunakan dalam berbagai kebutuhan industri pangan. Tepung porang dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan aneka kue, makanan sehat, hingga produk pengganti beras yang banyak diminati masyarakat Jepang.

Meski menjanjikan, budidaya porang tetap memiliki tantangan tersendiri. Isnanto menjelaskan bahwa faktor cuaca menjadi salah satu kendala utama yang harus dihadapi petani. Lahan budidayanya yang berada pada ketinggian sekitar 870 meter di atas permukaan laut memiliki curah hujan yang cukup tinggi sehingga sistem drainase harus diperhatikan dengan baik.

“Drainase harus bagus agar tanaman tidak tergenang air. Selain itu pemupukan juga harus tepat, terutama dengan penggunaan pupuk organik untuk menjaga kesuburan tanah,” jelasnya.

Dalam praktik budidayanya, Isnanto lebih mengutamakan penggunaan pupuk organik karena dinilai mampu menjaga kualitas lahan sekaligus mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal. Menurutnya, keberhasilan budidaya porang tidak hanya ditentukan oleh bibit yang baik, tetapi juga pengelolaan lahan yang tepat sejak awal masa tanam.

Musim tanam porang biasanya dimulai pada bulan Oktober, bertepatan dengan datangnya musim hujan. Dengan perawatan yang baik, tanaman sudah dapat dipanen pada bulan Juni tahun berikutnya. Siklus tanam yang relatif singkat tersebut menjadi salah satu alasan mengapa porang semakin diminati oleh para petani.

Menariknya, porang juga dikenal sebagai tanaman yang relatif tahan terhadap serangan hama. Kondisi ini membuat biaya perawatan menjadi lebih efisien dibandingkan beberapa komoditas pertanian lainnya. Meski demikian, petani tetap harus memperhatikan faktor lingkungan dan pemeliharaan agar produktivitas tanaman tetap maksimal.

Bagi Isnanto, keberhasilan yang diraih bukan sekadar soal keuntungan ekonomi. Lebih dari itu, ia ingin membuktikan bahwa sektor pertanian mampu memberikan masa depan yang menjanjikan jika dikelola dengan serius dan penuh dedikasi. Keputusannya meninggalkan Jakarta kini terbayar dengan hasil yang membanggakan.

Dari lahan-lahan porang di Wonogiri, Isnanto berhasil membangun kehidupan baru bersama keluarganya. Kisahnya menjadi inspirasi bahwa kesuksesan tidak selalu harus dicari di kota besar. Dengan keberanian mengambil peluang dan kemauan untuk terus belajar, sektor pertanian dapat menjadi jalan menuju kesejahteraan.

Kini, nama Isnanto dikenal sebagai salah satu petani porang yang berhasil mengembangkan komoditas unggulan tersebut di Wonogiri. Perjalanan hidupnya menjadi bukti bahwa kerja keras, ketekunan, dan keyakinan terhadap potensi daerah sendiri mampu mengubah mimpi menjadi kenyataan.(Ari S /Pimred Cahyospirit)



















Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar