Rong Ti Koes Suguhkan Lagu-Lagu Cover Koes Plus Sambil Menunggu Waktu Berbuka Puasa
Wonogiri MR — Suasana berbeda terasa di Desa Ronggojati, Kecamatan Batuwarno, Kabupaten Wonogiri, Minggu sore (8/3/2026). Ketika sebagian besar masyarakat menghabiskan waktu menunggu azan magrib dengan kegiatan ngabuburit, sejumlah pemuda desa justru mengisinya dengan bermusik dan bernostalgia lewat lagu-lagu legendaris.
Beberapa pemuda yang tergabung dalam grup band Rong Ti Koes (Ronggojati Koes Plus) tampak asyik memainkan alat musik sambil membawakan sejumlah lagu cover dari band legendaris Indonesia, Koes Plus. Alunan musik yang mereka sajikan terdengar merdu dan mampu menarik perhatian warga sekitar yang ikut menikmati suasana menjelang berbuka puasa.
Kegiatan bermusik tersebut tidak hanya menjadi hiburan bagi para pemain band, tetapi juga bagi masyarakat yang kebetulan melintas atau sengaja datang untuk menyaksikan penampilan mereka. Suasana sore yang biasanya tenang berubah menjadi lebih hidup dengan lantunan lagu-lagu klasik yang pernah populer pada era 1970-an.
Grup band Rong Ti Koes sendiri memang dikenal sebagai kelompok musik lokal yang memiliki kecintaan terhadap karya-karya Koes Plus. Melalui kegiatan sederhana ini, mereka mencoba menghadirkan kembali nuansa musik lawas yang pernah berjaya di Indonesia.
Selain sebagai sarana hiburan, kegiatan tersebut juga menjadi cara para pemuda desa untuk mengisi waktu luang selama bulan Ramadan dengan kegiatan positif. Dengan bermusik bersama, mereka berharap dapat menjaga semangat berkarya sekaligus mempererat kebersamaan di antara anggota band maupun warga desa.
Iwan, salah satu gitaris Rong Ti Koes, mengatakan bahwa di tengah perkembangan teknologi digital saat ini, banyak hal bisa dibuat terlihat sempurna melalui berbagai aplikasi dan platform digital.
“Di masa sekarang, di era digitalisasi, teknologi semakin canggih dengan berbagai platform. Kreativitas bisa dibuat-buat dan kadang tidak relevan karena hanya mengandalkan kecanggihan teknologi,” ujar Iwan kepada Koran Media Rakyat.
Menurutnya, dengan teknologi yang ada, seseorang bahkan bisa membuat video musik yang terlihat seolah-olah sangat mahir memainkan alat musik.
“Dengan teknologi kita bisa buat video, grup band kita seolah-olah jago main musiknya,” ungkapnya.
Namun hal tersebut berbeda dengan prinsip yang dipegang oleh Rong Ti Koes. Bagi mereka, kemampuan bermusik harus dibangun melalui latihan yang sungguh-sungguh dan proses yang panjang.
Karena itu, para anggota band tersebut tetap berkomitmen untuk terus berlatih agar dapat menghasilkan permainan musik yang berkualitas. Mereka percaya bahwa latihan dan kerja keras tetap menjadi kunci utama dalam menciptakan penampilan musik yang baik.
(Motivasi Cahyospirit untuk pelajar, mahasiswa dan Karyawan/umum)Kehadiran Rong Ti Koes pun menjadi warna tersendiri bagi masyarakat Desa Ronggojati, terutama selama bulan Ramadan. Selain menghadirkan hiburan menjelang berbuka puasa, mereka juga turut melestarikan karya-karya musik legendaris Indonesia agar tetap dikenal oleh generasi muda.
Dengan semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap musik, para pemuda Ronggojati berharap kegiatan bermusik ini dapat terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi anak-anak muda lainnya untuk tetap berkarya secara positif di tengah perkembangan zaman.(Maryoto/pimred Cahyospirit)

















