Haflah Akhirussanah dan Harlah ke-XI MI dan Ponpes Baitul Musthafa Jatipurno Berlangsung Meriah dan Penuh Makna
Jatipurno,Wonogiri MR – Suasana khidmat sekaligus semarak menyelimuti rangkaian kegiatan Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren dan peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-XI MI dan Ponpes Baitul Musthafa yang berlokasi di Jatipurno, Kabupaten Wonogiri. Kegiatan yang digelar selama tiga hari, mulai Kamis, 12 Februari hingga Sabtu, 14 Februari 2026 ini berlangsung meriah dengan berbagai agenda edukatif, religius, dan kultural.
Acara yang diselenggarakan oleh keluarga besar MI dan Ponpes Baitul Musthafa, Jatipurno, Wonogiri ini menjadi momentum penting untuk meneguhkan komitmen lembaga dalam mencetak generasi yang unggul dalam akidah, akhlak, serta tetap menjunjung tinggi nilai-nilai budaya.
Rangkaian kegiatan diawali pada Kamis pagi (12/2) dengan lomba pendidikan tingkat TK/RA yang diikuti peserta dari berbagai lembaga di sekitar Jatipurno. Anak-anak tampak antusias mengikuti berbagai perlombaan yang tidak hanya mengasah kemampuan akademik, tetapi juga melatih keberanian dan kreativitas.
Masih di hari yang sama, suasana semakin semarak dengan digelarnya pentas budaya yang menampilkan berbagai kesenian daerah. Pada siang harinya, masyarakat disuguhkan pertunjukan seni tradisional Kethek Ogleng yang menjadi salah satu kesenian khas Wonogiri. Penampilan ini mendapat sambutan hangat dari para tamu undangan dan warga sekitar yang memadati lokasi acara.
Puncak kemeriahan hari pertama ditandai dengan pagelaran wayang kulit pada Kamis malam, 12 Februari 2026. Ratusan warga tampak hadir menyaksikan pertunjukan yang sarat nilai filosofi dan petuah kehidupan tersebut.
Ketua panitia, Erwan Hari Wibowo, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas antusiasme masyarakat yang hadir. Ia mengungkapkan bahwa pagelaran wayang kulit ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana edukasi dan pelestarian budaya.
“Yang hadir pada malam hari ini dalam pertunjukan wayang kulit antara lain tamu undangan dari forkompinca perangkat desa, serta tokoh masyarakat lainnya. Kami sangat berterima kasih atas dukungan semua pihak,” ujarnya.
Menurut Erwan, pemilihan wayang kulit sebagai bagian dari rangkaian kegiatan bukan tanpa alasan. Wayang merupakan warisan budaya adiluhung yang sarat dengan nilai-nilai moral dan petuah bijak. Dalam setiap lakon yang dimainkan, terdapat pesan-pesan kehidupan tentang kejujuran, tanggung jawab, kesabaran, dan perjuangan menegakkan kebenaran.
“Budaya wayang ini untuk melestarikan budaya. Jadi kita tanamkan kepada generasi muda, meskipun kita berbasis keislaman, tetapi kita juga tetap berpegang pada jargon lembaga yaitu berakidah, berakhlak, dan berbudaya,” tambahnya.
Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi digital, pihak panitia berharap kegiatan seperti ini mampu menjadi benteng agar budaya lokal tidak terkikis zaman. Era gadget yang begitu dominan di kalangan anak-anak dan remaja menjadi tantangan tersendiri dalam menanamkan kecintaan terhadap seni dan budaya tradisional.
“Harapannya budaya ini tetap hidup. Di era gadget seperti sekarang, budaya-budaya kita yang adiluhung jangan sampai terkikis oleh zaman,” tegas Erwan.
Ia juga menambahkan bahwa melalui kegiatan haflah dan harlah ini, lembaga ingin menunjukkan bahwa pendidikan Islam dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya lokal. Nilai-nilai keislaman dan kearifan budaya dapat saling menguatkan dalam membentuk karakter generasi penerus bangsa.
(Motivasi Cahyospirit untuk pelajar, mahasiswa dan Karyawan/Umum)Selain lomba pendidikan dan pentas seni, rangkaian kegiatan juga diisi dengan Pengajian Akbar yang menghadirkan penceramah untuk memberikan tausiyah kepada santri, wali murid, dan masyarakat umum. Pengajian ini menjadi momen refleksi spiritual sekaligus ungkapan rasa syukur atas perjalanan 11 tahun lembaga dalam mendidik generasi.
Dengan terselenggaranya kegiatan selama tiga hari ini, keluarga besar MI dan Ponpes Baitul Musthafa berharap sinergi antara lembaga pendidikan, masyarakat, dan aparat pemerintahan semakin kuat. Semangat “berakidah, berakhlak, dan berbudaya” diharapkan terus menjadi ruh perjuangan dalam mencetak generasi Islami yang tetap mencintai budaya bangsa.(Luluk/ Pimred Cahyospirit)























