BREAKING NEWS
SPACE IKLAN INI DISEWAKAN
untuk informasi hubungi Dewan Redaksi 0877-9361-6743

Mulai Dari Iseng Jadi Bisnis: Konsep Prasmanan ala Seblak Umai


Wonogiri MR - Berawal dari kebiasaan mengantar istrinya yang ngidam seblak ke Solo, seorang suami di Wonogiri akhirnya membuka bisnis kuliner Seblak Umai dengan konsep prasmanan di Bulusari, Wonogiri. Seblak Umai kini menjadi favorit pelajar dan mahasiswa sejak resmi beroperasi dua tahun lalu, dan sekarang pindah ke lokasi yang lebih luas pada awal 2025.

Owner Seblak Umai, Dwi Nor Amamin mengungkapkan bahwa awal mula bisnis ini terinspirasi dari kebiasaan istrinya yang gemar menyantap seblak. “Dulu di Wonogiri belum banyak penjual seblak, paling dekat masih di Selogiri. Pernah sekali waktu, saat istri sedang hamil anak pertama, saya sampai mengantarnya beli seblak ke Mojosongo Solo, karena keinginannya sangat kuat," kenangnya sambil tertawa. 

Dari situ, muncul ide untuk mencoba berjualan seblak sendiri. Awalnya, ia hanya membuka usaha kecil-kecilan di garasi rumah dengan kapasitas terbatas. "Dulu mentok hanya muat lima belas orang, sekarang sudah pindah ke tempat lebih luas," ujarnya. 

Ada satu hal yang membuat Seblak Umai berbeda dari usaha seblak lainnya adalah sistem prasmanan, di mana pelanggan bisa memilih sendiri topping favorit mereka. 

"Tidak semua orang suka komposisi seblak yang sudah ditentukan. Dengan sistem prasmanan, mereka bebas memilih apa saja yang mereka mau," jelas Dwi.  

Selain seblak, ke depannya ia juga berencana menambah varian menu seperti nasi dan mie untuk memperluas pilihan pelanggan.  

Hingga saat ini, respon masyarakat terhadap Seblak Umai sangat baik, terutama dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Lokasinya yang dekat dengan sejumlah sekolah dan kampus menjadi nilai tambah. "Alhamdulillah, banyak yang suka. Dari siswa SMP, siswa SMA sampai mahasiswa perguruan tinggi sekitar sering mampir," ucap Dwi bangga.  

Seperti bisnis kuliner lainnya, Seblak Umai juga menghadapi sejumlah tantangan, seperti fluktuasi harga bahan baku, terutama kencur yang merupakan bahan utama seblak. "Kadang harganya naik, kadang susah dicari. Jadi harus pesan dulu agar stok tetap terjaga," terang Dwi.  

Untuk menjaga kualitas dan kebersihan, ia memastikan semua bahan disimpan dalam freezer agar tetap segar. "Kami terbuka dalam proses pembuatan, pelanggan bisa melihat langsung kebersihan dan kesegaran bahan yang digunakan," tegasnya.  

Meski sudah memiliki akun media sosial, pemilik Seblak Umai mengaku belum maksimal dalam promosi digital. "Selama ini lebih mengandalkan WhatsApp dan rekomendasi dari pelanggan. Tapi ke depan, kami akan lebih aktif di Instagram dan platform lainnya," ungkapnya.  

Salah satu prinsip yang dipegang teguh oleh pemilik Seblak Umai adalah memberdayakan tenaga kerja lokal. "Kalau bisa merekrut yang dekat, kenapa harus cari yang jauh? Ada beberapa yang dari luar mendaftar, tapi kami prioritaskan warga sekitar," katanya.  

Ke depan, ia berharap bisnis ini bisa terus berkembang dan bahkan membuka cabang baru. "Harapannya, Seblak Umai bisa semakin dikenal dan memberi manfaat lebih banyak lagi," ujarnya.  

Dwi berpesan kepada anak muda yang ingin memulai usaha: "Jangan takut mencoba, konsisten, dan selalu percaya pada Tuhan." Baginya, kesuksesan tidak instan, tetapi butuh proses dan ketekunan. 

Dengan konsep unik, lokasi strategis, dan pelayanan ramah, Seblak Umai tak hanya menawarkan rasa, tetapi juga pengalaman. Bagi pecinta seblak yang mencari suasana berbeda, tempat ini wajib dicoba.(NDR/ Cahyospirit )















Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar