OMAH BESIAT WALI SONGO: Jejak Dakwah dan Keteguhan Kearifan Lokal di Dusun Cale
Jatisrono, Wonogiri KMR - Perjalanan menuju Dusun Cale, RT 02/01, Desa Semen, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri tidak ditandai dengan gapura megah atau papan wisata besar. Hanya sebuah papan kuning sederhana di tepi jalan berbatu dengan tulisan "OMAH BESIAT WALI SONGO" yang menjadi penunjuk. Namun justru dari kesederhanaan penanda itulah, keistimewaan tempat ini bermula.
Omah Besiat Wali Songo, yang oleh literatur sejarah lokal juga dikenal sebagai Rumah Tiban Cale atau Situs Rumah Tiban Cale, adalah sebuah rumah tradisional Jawa berukuran sekitar 10 x 8 meter. Dindingnya telah diplester semen berwarna putih, namun atapnya tetap mempertahankan bentuk aslinya: jerami alang-alang kering yang tebal menjuntai menutup hampir separuh dinding.
Dari dekat, seperti terlihat dalam dokumentasi foto, anyaman bambu dan ikatan ijuk pada rangka atap masih terlihat kokoh, membiarkan cahaya matahari menyelinap melalui celah-celahnya. Inilah arsitektur tanpa paku yang telah bertahan melewati zaman.
Memasuki ruang dalamnya, kita tidak akan menemukan sekat kamar. Ruangan terasa lapang, sejuk, dan beralaskan keramik putih bersih. Pusat dari seluruh bangunan ini adalah empat soko guru, empat tiang kayu utama yang semuanya dibalut kain mori putih.
Masyarakat memberikan nama pada masing-masing tiang tersebut: Gambir Anom, Suling Werni, Ngglanglang Jagad, dan Jati Kesumo. Di bawah tiang Suling Werni yang terletak di sisi belakang kiri, terdapat dua pedupaan kecil dari batu. Masih tersisa bunga layu dan hio yang baru dibakar, menandakan bahwa tempat ini tidak pernah sepi dari peziarah yang datang untuk bertafakur.
Keberadaan rumah ini tidak lepas dari narasi besar penyebaran Islam di Jawa. Pada sebuah prasasti hitam yang menempel di dinding teras, tertulis jelas dalam bahasa Jawa: "Inggih puniko griyo damelan ipun poro Wali naliko dipun utus Raden Patah saking Kasultanan Demak, saperlu pados Kajeng kagem damel Masjid Agung Demak."Artinya, rumah ini adalah buatan para Wali ketika diutus Raden Patah dari Kesultanan Demak untuk mencari kayu bagi pembangunan Masjid Agung Demak. Karena tidak diketahui siapa pembuatnya dan dipercaya ada dengan sendirinya, masyarakat menyebutnya sebagai Omah Tiban.
Namun, makna Omah Besiat tidak berhenti pada kisah mistisnya. Dalam wawancara kami dengan juru kunci sepuh yang oleh warga disebut Mbah Sinem, seorang perempuan sepuh berkebaya bunga dan berjarik batik coklat, tersimpan pelajaran yang lebih dalam.
Di teras rumahnya yang sederhana, hanya dengan teko aluminium dan tatakan merah sebagai suguhan, beliau berpesan dengan lembut bahwa mereka yang datang ke tempat ini bukan untuk melakukan kemusyrikan. "Wong sing teko mboten musyrik, Mbak. Kabeh ndedongo marang Gusti Allah." Semua doa tetap ditujukan kepada Allah SWT. Rumah ini hanya menjadi perantara sejarah, pengingat bahwa Islam pernah dibawa dengan susah payah hingga ke pelosok Jatisrono.
Hal yang paling menguatkan adalah fakta bahwa Omah Besiat hingga hari ini masih hidup. Ia bukan museum yang dikunci. Ia adalah musholla. Dalam salah satu foto, tampak seorang bapak sedang menunaikan sholat di atas sajadah kecil.
Dari sudut ruangan, sebuah bale kayu sederhana menjadi tempat menyimpan mukena dan sarung yang terlipat rapi untuk para peziarah yang menginap. Dua pigura tua seorang kakek berpeci dan seorang nenek berkebaya yang kacanya telah berjamur, dipajang bukan untuk disembah, melainkan untuk diingat sebagai penjaga-penjaga awal amanah ini.
Omah Besiat Wali Songo mengajarkan kepada kami bahwa menjaga sejarah tidak selalu berarti membangun sesuatu yang besar dan megah.
Terkadang, menjaga sejarah cukup dengan memastikan atap alang-alang tetap diganti ketika bocor, lantai tetap disapu, pintu tetap dibuka untuk siapa saja yang ingin bersujud, dan kisahnya tetap diceritakan kepada generasi berikutnya.
Di tengah gempuran modernitas, sebuah rumah ber-atap alang-alang di Dusun Cale ini tetap berdiri, mengajarkan tentang keimanan, kesederhanaan, dan keteguhan dalam memegang amanah.(Penulis: Arini Dian Novitasari/Pimred Cahyospirit)





.jpg)











