Menteri Pertanian Kunjungi PT Widodo Makmur Unggas di Gunungkidul, Soroti Pentingnya Menjaga Keberlangsungan Industri Peternakan Nasional
GUNUNGKIDUL KMR – Menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, MP, melakukan kunjungan kerja ke PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMU) yang berlokasi di Tonggor, Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (15/10/2026).
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya melihat secara langsung kondisi industri peternakan, mulai dari proses produksi hingga berbagai tantangan yang dihadapi pelaku usaha di sektor tersebut.
Kedatangan Menteri Pertanian disambut oleh Bupati Gunungkidul bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Turut hadir dalam penyambutan tersebut H. Tumiyana, pendiri sekaligus CEO PT Widodo Makmur Perkasa Tbk selaku perusahaan induk PT Widodo Makmur Unggas Tbk, yang didampingi putrinya Diny Larasati, serta jajaran terkait.
Dalam kunjungan tersebut, Menteri Pertanian meninjau kegiatan usaha peternakan dan menyampaikan pentingnya memahami kondisi nyata yang berlangsung di lapangan. Menurutnya, sektor peternakan memiliki peran strategis dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat sehingga keberlangsungan industri harus mendapatkan perhatian bersama.
“Kami ingin melihat proses untuk peternakan karena saat ini ada anomali,” ujar Menteri Pertanian dalam sambutannya.
Ia juga menyinggung dukungan pemerintah melalui subsidi terhadap sejumlah kebutuhan produksi, termasuk pakan dan pupuk. Menurutnya, kondisi di sektor pertanian dan peternakan perlu dicermati secara menyeluruh agar dukungan pemerintah dapat berjalan seiring dengan kebutuhan pelaku usaha dan perkembangan industri.
Kunjungan lapangan tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana perusahaan peternakan menjalankan kegiatan operasionalnya, mengelola kebutuhan produksi, serta berkontribusi terhadap penyediaan pangan dan penyerapan tenaga kerja.
Dalam kesempatan itu, Menteri Pertanian menyampaikan apresiasi kepada pelaku usaha nasional yang telah bertahan dan mengembangkan bisnis peternakan selama puluhan tahun. Salah satu yang disorot adalah H. Tumiyana, yang telah menjalani perjalanan panjang selama 32 tahun di bidang peternakan dan industri pangan.
“Kami bersyukur salah satu pengusaha seperti Pak Tumiyana yang berjuang 32 tahun di bidang peternakan dan mampu menyerap tenaga kerja,” ungkapnya.
Menurut Menteri Pertanian, keberadaan perusahaan yang konsisten menjalankan kegiatan produksi dan mengembangkan usahanya memiliki arti penting bagi perekonomian. Industri peternakan tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan protein hewani, tetapi juga melibatkan banyak tenaga kerja serta berbagai mata rantai usaha yang saling terhubung.
Ia menegaskan bahwa besarnya peran sektor tersebut perlu menjadi perhatian, mengingat jutaan masyarakat menggantungkan mata pencaharian pada kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan pertanian dan peternakan.
Dalam sambutannya, Menteri Pertanian turut menyinggung 4,8 juta peternak yang disampaikannya dalam konteks sektor yang perlu dijaga. Ia juga menekankan pentingnya memperhatikan keberlangsungan lapangan kerja bagi jutaan orang yang terlibat dalam kegiatan ekonomi tersebut.
Karena itu, keberadaan industri peternakan nasional dinilai perlu dipelihara melalui perhatian terhadap proses produksi, kebutuhan usaha, dan kesinambungan kegiatan ekonomi. Langkah tersebut menjadi penting agar industri dapat terus beroperasi dan berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat.
Sementara itu, H. Tumiyana, pendiri dan CEO PT Widodo Makmur Perkasa Tbk, menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya menjaga keberlangsungan industri peternakan nasional di tengah kebutuhan pasar yang terus berkembang.
Sebagai pelaku usaha nasional di bidang produksi, Tumiyana menilai bahwa industri perlu mempersiapkan diri menghadapi peningkatan kebutuhan pada tahun mendatang. Menurutnya, kesiapan kapasitas produksi dan keberlanjutan operasional menjadi hal yang harus diperhatikan agar kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi secara berkesinambungan.
“Saya sebagai pelaku nasional production, tahun depan akan ada peningkatan kebutuhan sehingga industri harus dijaga,” kata Tumiyana.
Pernyataan tersebut menggambarkan perhatian pelaku industri terhadap prospek permintaan produk peternakan pada masa mendatang. Peningkatan kebutuhan harus diantisipasi dengan menjaga kemampuan produksi, memastikan kegiatan usaha berjalan secara berkelanjutan, serta memperhatikan berbagai faktor yang memengaruhi kelangsungan industri.
Bagi pelaku usaha, keberlanjutan sektor peternakan juga berkaitan dengan kepastian menjalankan kegiatan produksi dan kemampuan mempertahankan tenaga kerja. Industri yang beroperasi secara konsisten dapat memberikan dampak ekonomi tidak hanya bagi perusahaan, tetapi juga bagi masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya.
Tumiyana turut menyampaikan apresiasi atas kunjungan Menteri Pertanian yang melihat langsung kondisi industri dari sisi hulu hingga hilir. Ia menilai perhatian terhadap keseluruhan rantai produksi penting karena setiap tahapan memiliki keterkaitan dalam mendukung keberlangsungan usaha peternakan.
“Terima kasih, Pak Menteri, yang turun dari hulu ke hilir,” ujarnya.
Menurutnya, peninjauan langsung seperti ini memberikan ruang bagi pemerintah untuk melihat kondisi yang dihadapi pelaku usaha secara lebih dekat. Dengan demikian, berbagai kebutuhan dan tantangan industri dapat dipahami berdasarkan situasi di lapangan.
Selain membahas keberlangsungan industri dan kebutuhan produksi, kunjungan tersebut juga menyoroti kontribusi PT Widodo Makmur Unggas Tbk terhadap masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Tumiyana menyampaikan bahwa PT WMU mempekerjakan tenaga kerja lokal. Keterlibatan masyarakat setempat dalam kegiatan operasional perusahaan dinilai menjadi salah satu bentuk kontribusi industri terhadap perekonomian daerah.
Penyerapan tenaga kerja lokal membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh penghasilan melalui kegiatan usaha yang berlangsung di wilayahnya. Kehadiran perusahaan juga berpotensi mendorong perputaran ekonomi di sekitar lokasi operasional melalui aktivitas pekerja dan kebutuhan pendukung kegiatan produksi.
Dalam konteks pembangunan daerah, kesempatan kerja menjadi salah satu aspek penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Perusahaan yang menjalankan kegiatan produksi secara berkelanjutan dapat berperan dalam memperluas peluang kerja dan membantu mengurangi pengangguran.
“PT WMU mempekerjakan tenaga kerja lokal sehingga mampu mengentaskan pengangguran,” ungkap Tumiyana.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa orientasi industri peternakan tidak hanya berkaitan dengan hasil produksi, tetapi juga dengan dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan. Ketersediaan lapangan kerja menjadi salah satu manfaat yang dirasakan masyarakat ketika kegiatan usaha berjalan dan membutuhkan tenaga kerja secara berkelanjutan.
Oleh sebab itu, keberlangsungan perusahaan peternakan memiliki keterkaitan dengan kepentingan yang lebih luas, mulai dari pemenuhan kebutuhan pangan hingga penciptaan kesempatan kerja bagi masyarakat.
Kunjungan Menteri Pertanian ke PT Widodo Makmur Unggas Tbk di Semanu, Gunungkidul, memperlihatkan pentingnya komunikasi antara pemerintah dan pelaku usaha dalam memahami perkembangan sektor peternakan nasional.
Pemerintah memiliki peran dalam merumuskan kebijakan serta memperhatikan kebutuhan sektor pangan, sedangkan pelaku usaha menjalankan kegiatan produksi dan menghadapi langsung berbagai dinamika operasional di lapangan. Pertemuan kedua pihak menjadi kesempatan untuk melihat persoalan industri dari sudut pandang yang berbeda.
Perhatian terhadap dukungan produksi, kebutuhan pasar, keberlangsungan perusahaan, dan penyerapan tenaga kerja merupakan bagian dari pembahasan yang relevan bagi pengembangan industri peternakan. Setiap aspek tersebut saling berkaitan dalam mendukung ketersediaan produk peternakan bagi masyarakat.
Bagi PT Widodo Makmur Unggas Tbk, kunjungan ini menjadi momentum untuk memperlihatkan kegiatan usaha sekaligus menyampaikan pandangan mengenai kebutuhan industri ke depan. Sementara itu, bagi pemerintah, peninjauan langsung memberikan kesempatan untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi perusahaan dan peran sektor peternakan dalam perekonomian.
Dengan meningkatnya perhatian terhadap kebutuhan pangan dan keberlangsungan industri, komunikasi antara pemerintah dan dunia usaha diharapkan dapat terus terjalin. Upaya tersebut penting untuk menjaga kegiatan produksi, mendukung ketersediaan pangan, serta mempertahankan kesempatan kerja yang bergantung pada sektor peternakan.
Kunjungan yang berlangsung di Tonggor, Semanu, Kabupaten Gunungkidul, pada Kamis (15/10/2026) ini pun menjadi pengingat bahwa industri peternakan merupakan bagian penting dari ekosistem pangan nasional.
Keberlanjutannya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan perusahaan dalam menjalankan produksi, tetapi juga oleh perhatian terhadap tantangan di lapangan, kebutuhan masyarakat, dan kesiapan menghadapi perkembangan permintaan pada masa mendatang. (Cahyospirit)




.jpg)











