Paguyuban Braja Mandiri Dikukuhkan, Dorong Petani Klaten Semakin Maju dan Sejahtera
KLATEN KMR — Upaya meningkatkan kemajuan dan kesejahteraan petani di Kabupaten Klaten terus dilakukan melalui berbagai bentuk kerja sama dan penguatan kelembagaan. Salah satunya dengan dikukuhkannya Paguyuban Braja Mandiri yang diharapkan mampu menjadi wadah bagi para petani dalam mengakses kebutuhan alat dan mesin pertanian (alsintan), pelatihan, hingga pendampingan pemanfaatan teknologi Pertanian, Sabtu (12/9/2026)
Paguyuban Braja Mandiri yang berpusat di wilayah Kecamatan Pedan tersebut saat ini telah menghimpun anggota dari sekitar 30 desa. Keberadaan paguyuban ini diharapkan dapat menjadi jembatan antara petani dengan pemerintah maupun pihak-pihak yang bergerak di bidang alat dan mesin pertanian.
Wakil Ketua Paguyuban Braja Mandiri Bantuan Alsintan Kabupaten Klaten, Roni, mengatakan pembentukan paguyuban tersebut dilandasi keinginan untuk membantu mengakomodasi berbagai kebutuhan petani, khususnya dalam pemanfaatan alat pertanian modern.
Menurutnya, masih banyak petani yang belum mengetahui secara menyeluruh mengenai berbagai program bantuan maupun fasilitas alat pertanian yang dapat diakses melalui pemerintah. Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian Paguyuban Braja Mandiri.
"Paguyuban ini akan mengakomodasi kebutuhan petani di Klaten. Harapannya, petani semakin maju dan semakin sejahtera," kata Roni, Sabtu (12/9/2026).
Roni menjelaskan, Paguyuban Braja Mandiri tidak hanya berfokus pada penyediaan atau akses terhadap alat pertanian. Paguyuban juga akan mendorong peningkatan pengetahuan petani melalui pelatihan, termasuk pemanfaatan, pengoperasian, serta perawatan alat dan mesin pertanian.
Langkah tersebut dinilai penting karena keberadaan alsintan tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila petani belum memahami cara penggunaan dan perawatannya.
"Kami juga mengakomodasi pelatihan dan perawatan. Jadi bukan hanya bagaimana mendapatkan alatnya, tetapi bagaimana alat tersebut bisa digunakan dengan baik dan dirawat sehingga dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang," ujarnya.
Saat ini, sejumlah wilayah telah bergabung dalam Paguyuban Braja Mandiri. Di antaranya Kecamatan Pedan, Cawas, Karangdowo, Karangnongko, dan Gantiwarno. Secara keseluruhan, sekitar 30 desa telah tergabung dalam paguyuban tersebut.
Dengan semakin luasnya keanggotaan, Paguyuban Braja Mandiri berharap dapat membangun jaringan kerja sama yang lebih kuat antarkelompok petani maupun dengan pemerintah daerah.
Roni menegaskan, pihaknya akan berupaya menjalin komunikasi dan bekerja sama dengan pemerintah untuk membuka akses terhadap berbagai bantuan alat dan mesin pertanian. Dengan demikian, kebutuhan petani yang selama ini belum terakomodasi dapat diperjuangkan melalui wadah paguyuban.
"Kita akan bekerja sama dengan pemerintah untuk mengakses alat-alat pertanian dari pemerintah. Selama ini masih banyak petani yang kurang mengetahui bagaimana akses dan pemanfaatannya," jelasnya.
Berbagai jenis alat pertanian menjadi perhatian paguyuban. Mulai dari rotary, combine harvester, drone pertanian, pompa air, hingga berbagai peralatan lain yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan pertanian.
Ketersediaan alat tersebut dinilai semakin penting di tengah tuntutan pertanian yang membutuhkan efisiensi waktu, tenaga, dan biaya. Penggunaan teknologi juga diharapkan dapat membantu petani meningkatkan produktivitas sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap proses pertanian yang masih dilakukan secara manual.
Selain menjalin komunikasi dengan pemerintah, Paguyuban Braja Mandiri selama ini juga menggandeng sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang alat dan mesin pertanian. Kerja sama tersebut diharapkan dapat memberikan pilihan serta informasi yang lebih luas kepada para petani mengenai teknologi pertanian yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Menurut Roni, paguyuban akan berusaha menjadi wadah yang mampu menjembatani kepentingan petani dengan berbagai pihak. Petani tidak hanya membutuhkan alat, tetapi juga membutuhkan informasi, pendampingan, pelatihan, serta akses terhadap teknologi yang tepat guna.
"Intinya kami ingin membantu petani. Kami mengakomodasi kebutuhan yang belum terpenuhi dan berusaha mencarikan aksesnya, baik melalui pemerintah maupun kerja sama dengan pihak lain," katanya.
Ia berharap keberadaan Paguyuban Braja Mandiri dapat memberikan manfaat nyata bagi petani di berbagai wilayah Kabupaten Klaten. Dengan adanya wadah bersama, persoalan yang dihadapi petani diharapkan dapat lebih mudah disampaikan dan dicarikan solusinya.
Pengukuhan paguyuban tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara petani, pemerintah, kelompok tani, serta pelaku usaha di bidang pertanian. Sinergi tersebut dianggap penting agar program peningkatan pertanian tidak berhenti pada bantuan alat semata, tetapi juga diikuti dengan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Ke depan, Paguyuban Braja Mandiri berkomitmen untuk terus memperluas jaringan dan mengakomodasi kebutuhan petani dari berbagai wilayah di Kabupaten Klaten. Semakin banyak kelompok dan desa yang bergabung, diharapkan semakin kuat pula posisi petani dalam memperoleh akses terhadap sarana produksi, teknologi, pelatihan, maupun berbagai program pemerintah.
Melalui pemanfaatan alsintan dan teknologi yang tepat, petani diharapkan mampu bekerja lebih efektif dan efisien. Pada akhirnya, peningkatan produktivitas pertanian diharapkan dapat berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani.
Paguyuban Braja Mandiri pun menempatkan kepentingan petani sebagai fokus utama. Bukan hanya soal mendapatkan bantuan alat pertanian, tetapi juga memastikan alat tersebut benar-benar dapat digunakan dan memberikan manfaat bagi kegiatan pertanian masyarakat.
Dengan semangat kebersamaan dan kolaborasi, Paguyuban Braja Mandiri diharapkan menjadi salah satu wadah yang ikut mendorong transformasi pertanian di Kabupaten Klaten. Harapannya, petani semakin memahami teknologi, semakin mudah memperoleh akses terhadap alsintan, serta mampu meningkatkan hasil pertanian dan kesejahteraannya.(Aulia/Pimred Cahyospirit)

