Wamen Koperasi dan Wamen Ekonomi Kreatif Kunjungi Lurik Prasojo Pedan, Dorong Penguatan UMKM dan Industri Tenun Nasional
KLATEN KMR — Industri kreatif berbasis kerajinan lokal kembali mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Kunjungan kerja Wakil Menteri Koperasi dan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif ke sentra produksi Lurik Prasojo di Pedan, Klaten, pada Kamis, 20 Agustus, menjadi momentum penting untuk melihat secara langsung perkembangan industri tenun sekaligus mendengar berbagai persoalan yang dihadapi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kegiatan yang berlangsung di halaman pabrik Lurik Prasojo tersebut dihadiri Wakil Menteri Koperasi, Farida Farichah, M.Si., serta Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar. Sejumlah pejabat daerah juga turut hadir, di antaranya Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Klaten Anang Widjadmoko, S.H., M.M., Asisten Pribadi Bupati Klaten Djoko Purwanto beserta jajaran, Camat Pedan, Danramil Pedan, Kapolsek Pedan, serta sejumlah pelaku UMKM yang tergabung dalam Koperasi Kusuma Ajitera.
Kunjungan tersebut menjadi semakin istimewa karena Lurik Prasojo merupakan salah satu pelaku industri tenun yang telah beberapa kali mendapatkan dukungan pembiayaan dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) di bawah Kementerian Koperasi.
Pemilik Lurik Prasojo, Maharani Gunawan, yang merupakan generasi ketiga dalam perjalanan usaha keluarga tersebut, mengungkapkan apresiasinya atas perhatian pemerintah terhadap perkembangan usaha yang selama ini mereka bangun.
Menurut Maharani, dukungan pembiayaan dari LPDB bukan merupakan pengalaman yang baru bagi Lurik Prasojo. Perusahaan tersebut telah memperoleh dukungan pembiayaan sebanyak tiga kali, dimulai sekitar tahun 2014 dan berlanjut hingga pembiayaan yang diterima saat ini.
"Ini sudah ketiga kalinya kami mendapatkan pembiayaan. Pertama sekitar tahun 2014, kemudian yang kedua dan sekarang yang ketiga. Kami sangat berterima kasih karena dukungan yang diberikan cukup besar, bahkan sampai ada apresiasi dan kunjungan langsung ke lokasi koperasi maupun sentra usaha kami," ujar Maharani.
Koperasi Tak Hanya Identik dengan Simpan Pinjam
Maharani menilai kunjungan pejabat pemerintah pusat tersebut memiliki arti penting bagi perkembangan koperasi dan UMKM. Selama ini, menurutnya, masih terdapat anggapan di tengah masyarakat bahwa koperasi identik dengan kegiatan simpan pinjam.
Padahal, koperasi dapat menjadi wadah yang jauh lebih besar untuk mengembangkan sektor riil, termasuk industri kreatif, kerajinan, fashion, hingga berbagai usaha pendukung lainnya.
Ia berharap keberadaan koperasi dapat menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan berbagai pelaku usaha sehingga memiliki kekuatan lebih besar dalam menghadapi pasar.
"Selama ini koperasi sering dikenal hanya sebagai tempat simpan pinjam. Padahal kalau UMKM berada di dalam wadah yang lebih besar, kekuatannya juga akan semakin besar. Dari tahun ke tahun kami melihat bagaimana sektor riil bisa berkembang melalui kolaborasi," jelasnya.
Menurut Maharani, perkembangan Lurik Prasojo juga tidak terlepas dari kerja sama dengan berbagai pihak. Selain Kementerian Koperasi, sejumlah kementerian dan lembaga pemerintah turut memberikan ruang kolaborasi bagi pelaku UMKM.
Kolaborasi tersebut dinilai penting karena persoalan UMKM tidak hanya berkaitan dengan modal. Pelaku usaha juga membutuhkan akses pasar, pendampingan, pengembangan produk, peningkatan kualitas, hingga penguatan jaringan pemasaran.
Mendorong Tenun Mendapat Ruang Lebih Besar
Dalam kesempatan tersebut, Maharani juga menyampaikan harapannya agar pemerintah pusat dapat memberikan perhatian lebih besar terhadap kain tenun Indonesia.
Ia melihat batik telah berhasil memperoleh tempat yang kuat di tengah masyarakat Indonesia maupun pasar internasional. Penggunaan batik dalam berbagai kesempatan, termasuk di lingkungan pemerintahan, pendidikan, dan institusi lainnya, secara tidak langsung telah menciptakan pasar yang luas.
Menurutnya, pola serupa dapat diterapkan untuk kain tenun.
Maharani berharap gerakan penggunaan tenun tidak hanya berhenti pada komunitas atau pemerintah daerah tertentu. Jika pemerintah pusat ikut mendorong penggunaan kain tenun secara lebih luas, maka masyarakat akan semakin mengenal berbagai jenis tenun yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
"Kalau pemerintah pusat memberikan imbauan atau gerakan pemakaian tenun dalam satu minggu kerja, misalnya, itu akan menciptakan efek yang luar biasa. Bukan hanya pemerintah, tetapi sekolah, rumah sakit, instansi dan berbagai lembaga lainnya akan ikut mencari tahu tentang tenun Indonesia," ungkapnya.
Menurut dia, ketika permintaan mulai tumbuh, masyarakat akan semakin mengenal produk tenun dari berbagai wilayah. Dampaknya juga akan dirasakan oleh para pengrajin di daerah.
"Kalau gerakan itu berjalan, saya yakin UKM di seluruh Indonesia juga akan ikut bertumbuh. Karena ketika pasar terbentuk, kebutuhan terhadap produk juga meningkat," imbuhnya.
Tidak Ingin Berhenti pada Pasar Lokal
Lurik Prasojo sendiri terus berupaya memperluas jaringan kerja sama. Maharani menegaskan bahwa perusahaan tidak ingin hanya bersaing dengan sesama pengrajin tenun.
Sebaliknya, Lurik Prasojo berusaha membangun ekosistem kreatif dengan berbagai bidang usaha, mulai dari batik, fashion, handicraft, hingga pelaku usaha lainnya.
Menurut Maharani, kolaborasi menjadi salah satu kunci agar UMKM mampu berkembang secara berkelanjutan.
Ia mencontohkan, dalam pembuatan sebuah produk fashion, tidak seluruh proses harus dikerjakan sendiri oleh satu pelaku usaha. Sebagian pekerjaan dapat dikerjakan oleh pengrajin atau UMKM lain yang memiliki keahlian tertentu.
Dengan pola tersebut, pelaku UMKM dapat saling berbagi pekerjaan sekaligus membuka kesempatan ekonomi bagi lebih banyak orang.
"Daripada semuanya dibuat sendiri, kami lebih memilih berkolaborasi. Ada yang mengerjakan fashion, ada yang menangani handicraft, ada juga teman-teman lain yang memiliki keahlian tertentu. Kami berusaha mengarahkan mereka untuk menghasilkan produk yang bagus," kata Maharani.
Membantu Pengrajin Menemukan Pasar
Persoalan yang sering dihadapi pengrajin, lanjut Maharani, bukan hanya kemampuan membuat produk. Banyak pengrajin sebenarnya mampu menghasilkan barang dengan kualitas baik, tetapi mengalami kesulitan ketika harus menentukan pasar.
Akibatnya, produk yang telah dibuat terkadang tidak terserap dengan baik karena tidak sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Karena itu, Lurik Prasojo berupaya menjadi salah satu penghubung antara pengrajin dan pasar.
"Kami mencoba mengarahkan pengrajin yang lain. Banyak yang sebenarnya bisa membuat produk bagus, tetapi belum tahu market-nya seperti apa. Akhirnya mereka bingung dalam pemasaran. Kami berusaha mengarahkan mereka ke pasar yang saat ini memiliki permintaan," tuturnya.
Pola kolaborasi semacam itu diharapkan dapat menciptakan rantai ekonomi yang lebih panjang. Ketika satu produk mendapatkan permintaan, pelaku usaha lain yang terlibat dalam proses produksi juga memperoleh manfaat.
Pembiayaan LPDB Dinilai Membuka Peluang Pengembangan Usaha
Berbicara mengenai pembiayaan, Maharani mengatakan proses pengajuan dana bergulir sebenarnya tidak sesulit yang selama ini dibayangkan oleh sebagian pelaku UMKM.
Menurutnya, yang menjadi persoalan adalah masih banyak pelaku UMKM yang belum mengetahui keberadaan LPDB dan mekanisme pembiayaan yang tersedia.
Ia sendiri mulai mengenal LPDB setelah sebelumnya aktif mengikuti berbagai program dan penghargaan bagi pelaku industri.
Sekitar tahun 2012, Lurik Prasojo mendapat kunjungan Menteri Perindustrian saat itu. Dalam momentum tersebut, pihaknya didorong untuk terus mengembangkan usaha sekaligus mengikuti berbagai program penghargaan yang dapat meningkatkan reputasi perusahaan.
Dorongan tersebut kemudian membuat Lurik Prasojo mengikuti proses kurasi hingga berhasil memperoleh penghargaan Upakarti.
Setelah pengalaman tersebut, Lurik Prasojo mulai mengenal peluang pembiayaan melalui LPDB Kementerian Koperasi.
"Dulu saya juga tidak langsung mengetahui LPDB itu apa. Setelah mengikuti berbagai kegiatan dan mendapatkan penghargaan, kami kemudian mencoba mendapatkan tawaran pembiayaan dari LPDB. Dari situ kami mulai mengenal bagaimana lembaga pemerintah bisa membantu pengembangan usaha," jelas Maharani.
Ia menilai dukungan dari kementerian dan lembaga pemerintah dapat menjadi pintu masuk bagi UMKM untuk naik kelas.
Menurutnya, semakin besar sebuah usaha berkembang, semakin besar pula kebutuhan modal yang harus dikelola. Karena itu, kebutuhan pembiayaan perlu disesuaikan dengan kapasitas usaha, kemampuan pengembalian, serta potensi pengembangan sektor riil.
Bahan Baku Masih Menjadi Tantangan
Di balik perkembangan industri tenun, masih terdapat sejumlah persoalan yang perlu mendapat perhatian pemerintah. Salah satunya adalah ketersediaan bahan baku, terutama kapas.
Maharani menjelaskan bahwa kebutuhan benang untuk produksi Lurik Prasojo berkaitan dengan rantai pasok bahan baku yang cukup panjang.
Indonesia sebenarnya memiliki potensi menghasilkan kapas dengan kualitas yang baik. Namun, jumlah produksinya belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan industri.
"Benangnya ada yang berasal dari Bandung. Tetapi kebutuhan kapasnya masih menjadi persoalan karena suplai kapas di Indonesia belum mencukupi. Padahal sebenarnya kapas Indonesia memiliki kualitas yang baik, hanya jumlahnya belum banyak," ungkapnya.
Menurut Maharani, penguatan industri tekstil dan tenun nasional tidak cukup hanya dengan meningkatkan kemampuan produksi di tingkat pengrajin. Pemerintah juga perlu membangun ekosistem dari hulu hingga hilir, termasuk memastikan ketersediaan bahan baku.
Dengan rantai pasok yang semakin kuat, industri tenun nasional diharapkan tidak terlalu bergantung pada bahan baku dari luar negeri.
Pemerintah Didorong Memperkuat Ekosistem UMKM
Kunjungan dua wakil menteri tersebut juga menjadi kesempatan bagi pelaku UMKM untuk menyampaikan langsung berbagai kebutuhan di lapangan.
Maharani berharap sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, koperasi, lembaga pembiayaan, dan pelaku usaha dapat terus diperkuat.
Menurutnya, pemerintah daerah memang memiliki peran penting dalam membangun UMKM di wilayah masing-masing. Namun, pelaku usaha yang ingin berkembang perlu memiliki orientasi pasar yang lebih luas.
"Jangan berhenti hanya di pemerintah daerah. Kami sekarang mulai menyasar pemerintah pusat karena kami ingin pasar yang lebih luas. Pemerintah pusat memiliki jangkauan yang jauh lebih besar untuk membantu membuka akses pasar bagi produk-produk lokal," ujarnya.
Ia berharap pemerintah dapat melihat UMKM bukan hanya sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai bagian dari kekuatan ekonomi nasional.
Jika akses pembiayaan, pasar, bahan baku, teknologi, dan pendampingan dapat berjalan secara bersamaan, UMKM dinilai akan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang menjadi usaha yang lebih kuat.
Lurik sebagai Bagian dari Identitas Ekonomi Kreatif
Keberadaan Lurik Prasojo di Pedan tidak hanya menjadi cerita tentang sebuah usaha keluarga yang telah bertahan hingga generasi ketiga. Lebih dari itu, keberadaan industri tersebut menjadi gambaran bagaimana kerajinan tradisional dapat terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Di tengah perubahan selera konsumen, Lurik Prasojo berusaha mengembangkan kain lurik agar tidak hanya digunakan sebagai produk tradisional, tetapi juga dapat masuk ke berbagai produk kreatif modern.
Kolaborasi dengan pelaku fashion, handicraft, dan UMKM lainnya menjadi salah satu strategi untuk memperluas penggunaan kain lurik.
Maharani menilai kain tradisional Indonesia memiliki peluang besar untuk berkembang apabila dikemas dengan desain yang sesuai dengan kebutuhan pasar masa kini.
Karena itu, sinergi antara sektor koperasi dan ekonomi kreatif dianggap penting. Koperasi dapat memperkuat sisi kelembagaan dan pembiayaan, sementara sektor ekonomi kreatif dapat membuka ruang inovasi, desain, pemasaran, serta perluasan pasar.
Kunjungan Wakil Menteri Koperasi Farida Farichah dan Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar ke Lurik Prasojo pun diharapkan menjadi awal dari semakin kuatnya kolaborasi tersebut.
Bagi Lurik Prasojo, dukungan pemerintah yang telah hadir berulang kali menjadi motivasi untuk terus berkembang. Setelah melewati perjalanan panjang sejak generasi sebelumnya hingga kini memasuki generasi ketiga, Maharani ingin memastikan bahwa lurik tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga mampu menjadi kekuatan ekonomi bagi masyarakat.
"Harapan kami bukan sekadar menjadi pengrajin yang terus memproduksi tenun. Kami ingin membangun ekosistem, bekerja sama dengan banyak pihak, dan membawa tenun Indonesia agar semakin dikenal. Kalau pemerintah, koperasi, UMKM dan pelaku ekonomi kreatif bisa berjalan bersama, saya yakin potensi tenun Indonesia masih sangat besar," pungkas Maharani.
Kegiatan di halaman pabrik Lurik Prasojo Pedan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan UMKM membutuhkan kerja bersama. Pemerintah, koperasi, pelaku industri kreatif, pengrajin, lembaga pembiayaan, hingga masyarakat memiliki peran masing-masing untuk memastikan produk lokal mampu tumbuh dan bersaing.
Dari Pedan, Klaten, harapan untuk membawa lurik dan produk tenun Indonesia ke pasar yang lebih luas kembali mendapatkan momentum. Bukan sekadar mempertahankan warisan leluhur, tetapi menjadikannya sebagai bagian dari masa depan ekonomi kreatif Indonesia.(Aulia/Pimpred Cahyospirit)


