BREAKING NEWS
🍃 🌿 🍃
🌱 PENGEN INFORMASI SEPUTAR AGROTECH?
Kunjungi agrotechindonesia.com
🌾 Membangun Pertanian Cerdas dan Berkelanjutan
👆 KLIK DI SINI

Bendul: Jejak Sejarah Peuyeum dan Keramik Tembikar yang Tak Pernah Hilang dari Ingatan

Bendul telah menjadi bagian dari cerita perjalanan ekonomi, kuliner, sekaligus identitas kawasan yang dahulu dikenal sebagai salah satu jalur penting penghubung Jakarta–Bandung

Purwakarta , Jawa Barat KMR - Ada nama yang mungkin terdengar sederhana, tetapi menyimpan perjalanan sejarah yang panjang. Di Desa Sukatani, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, nama “Bendul” bukanlah nama kampung maupun nama dusun. Namun, bagi masyarakat setempat dan para pengguna jalur protokol Purwakarta, nama tersebut begitu familiar.

Bendul telah menjadi bagian dari cerita perjalanan ekonomi, kuliner, sekaligus identitas kawasan yang dahulu dikenal sebagai salah satu jalur penting penghubung Jakarta–Bandung. Di balik nama yang begitu familiar itu, tersimpan pula kisah tentang lahirnya peuyeum yang kemudian dikenal luas sebagai Peuyeum Bendul.

Dari Murdi, Peuyeum Bendul Mulai Dikenal

Menurut cerita sejarah yang berkembang di tengah masyarakat, peuyeum yang kemudian dikenal dengan nama Peuyeum Bendul pertama kali dibuat oleh seorang warga bernama Murdi pada sekitar tahun 1940. Murdi disebut sebagai warga Kampung Bendul, yang juga dikenal sebagai Kampung Empangsari.

Kisah tersebut menjadi salah satu bagian penting dari perjalanan nama Bendul. Dari sebuah produk pangan tradisional yang dibuat dan diperkenalkan oleh warga setempat, peuyeum perlahan memiliki nama dan identitas yang kuat di tengah masyarakat.

Dari Sebuah Warung, Nama Bendul Makin Melekat

Dalam perkembangannya, sejarah nama Bendul juga tidak dapat dilepaskan dari sosok Haji Sarman, seorang pengusaha yang pada masanya dikenal sebagai pemilik Rumah Makan Sedayu sekaligus pemilik warung yang menjajakan tape atau peuyeum.

Dari aktivitas perdagangan itulah nama Bendul semakin kuat dan dikenal masyarakat. Produk peuyeum yang dijual di kawasan tersebut begitu populer hingga masyarakat kemudian mengenalnya dengan sebutan “Peuyeum Bendul” atau “Tape Bendul.” Dengan demikian, kisah Bendul bukan hanya tentang sebuah warung, melainkan tentang pertemuan antara tradisi pembuatan peuyeum dan perkembangan usaha masyarakat di sepanjang jalur protokol.

Nama itu bukan sekadar penanda sebuah tempat untuk membeli makanan. Seiring berjalannya waktu, Bendul berubah menjadi sebuah sebutan yang melekat kuat dalam ingatan masyarakat.

Bagi mereka yang melintas dari arah Jakarta menuju Bandung maupun sebaliknya, menyebut Bendul seolah mengingatkan pada satu kawasan yang identik dengan peuyeum, keramik, tembikar, serta deretan usaha masyarakat di sepanjang jalur protokol.

Masa Keemasan di Jalur Protokol

Ada masa ketika jalur tersebut menjadi urat nadi perekonomian masyarakat. Kendaraan-kendaraan besar, bus antarkota, kendaraan pribadi dan berbagai jenis angkutan melintas setiap hari.

Situasi itu menciptakan peluang besar bagi masyarakat sekitar.

Warung-warung tumbuh. Pedagang peuyeum bermunculan. Kerajinan keramik dan tembikar menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Para pelaku usaha memanfaatkan ramainya lalu lintas untuk memperkenalkan sekaligus menjual produk mereka kepada para pengguna jalan.

Pada masa itu, kawasan Bendul seakan memiliki denyut ekonomi tersendiri.

Menariknya, ketika kisah tersebut berlangsung, kawasan ini masih berada dalam wilayah Kecamatan Plered, sebelum kemudian mengalami pemekaran dan menjadi bagian dari Kecamatan Sukatani.

Ketika Jalan Tol Mengubah Arah Perjalanan

Perubahan zaman kemudian membawa konsekuensi baru.

Pembangunan dan beroperasinya jalan tol membuat pola perjalanan masyarakat berubah. Kendaraan yang sebelumnya melewati jalur protokol mulai beralih menggunakan jalan tol karena dianggap lebih cepat dan efisien.

Dampaknya terasa bagi para pelaku usaha di sepanjang jalur lama.

Arus kendaraan yang sebelumnya menjadi sumber kehidupan bagi banyak warung mulai berkurang. Jalur yang dahulu ramai perlahan mengalami perubahan suasana. Tidak sedikit usaha yang akhirnya harus beradaptasi dengan keadaan.

Warung-warung tape yang dahulu menjadi ciri khas kawasan mulai berubah fungsi. Sebagian pedagang mengembangkan usaha kuliner lain, membuka warung makan, toko kelontong, maupun jenis usaha lainnya.

Hal serupa terjadi pada sejumlah usaha keramik dan tembikar.

Bukan karena nama peuyeum dan keramiknya hilang, tetapi zamanlah yang memaksa para pelaku usaha untuk berubah.

Nama Bendul Tetap Bertahan

Meski wajah kawasan mengalami perubahan, satu hal yang menarik adalah nama Bendul tetap hidup dalam ingatan masyarakat.

Generasi boleh berganti. Kendaraan boleh beralih ke jalan tol. Warung boleh berubah menjadi berbagai jenis usaha. Namun, ketika orang menyebut “Peuyeum Bendul”, ingatan tentang kawasan tersebut seolah kembali pada masa ketika jalur protokol menjadi salah satu jalur penting perjalanan Jakarta–Bandung.

Begitu pula dengan keramik dan tembikar.

Produk yang dahulu banyak dijajakan di sepanjang kawasan tersebut telah menjadi bagian dari identitas sejarah ekonomi masyarakat sekitar. Nama besar peuyeum dan keramik tembikar tetap melekat, bahkan menjadi semacam penanda ketika seseorang melintasi jalur protokol tersebut.

Bendul, Bukan Sekadar Nama

Pada akhirnya, Bendul bukan hanya sebuah nama yang muncul dari aktivitas perdagangan sebuah warung.

Bendul adalah cerita tentang bagaimana masyarakat membangun kehidupan dari peluang yang tersedia di zamannya. Tentang bagaimana tradisi peuyeum yang disebut mulai dirintis Murdi sekitar 1940 kemudian menjadi bagian dari identitas kawasan. Tentang bagaimana usaha Haji Sarman ikut membuat nama Peuyeum Bendul semakin dikenal. Tentang masa ketika kendaraan yang melintas menjadi denyut ekonomi warga. Dan juga tentang bagaimana masyarakat harus beradaptasi ketika pembangunan infrastruktur mengubah arah pergerakan manusia.

Kini, Desa Sukatani, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, terus berkembang sebagai salah satu wilayah dengan jumlah penduduk yang besar di Kecamatan Sukatani.

Di tengah perkembangan tersebut, kisah Bendul menjadi bagian penting dari memori lokal yang layak untuk terus diceritakan.

Sebab sejarah sebuah daerah tidak selalu tertulis dalam buku atau terpahat di sebuah monumen.

Kadang-kadang, sejarah justru tersimpan dalam nama sebuah warung, aroma peuyeum yang pernah memenuhi pinggir jalan, deretan keramik dan tembikar, serta cerita para orang tua yang masih mengingat bagaimana ramainya jalur Bendul pada masa lalu.

Dan mungkin, itulah alasan mengapa sampai hari ini nama “Bendul” tetap terdengar familiar.

Sebuah nama yang lahir dari tradisi dan usaha masyarakat, tumbuh bersama perjalanan zaman, dan bertahan menjadi bagian dari sejarah Purwakarta.( M.Sasmita ( Ragil ) /Edi k/pimred Cahyospirit)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar