BREAKING NEWS
SPACE IKLAN INI DISEWAKAN
untuk informasi hubungi Dewan Redaksi 0877-9361-6743

Mahasiswa KPM STAIMAS Wonogiri Sosialisasikan Program SEJUTA, Ubah Limbah Jelantah Menjadi Berkah untuk Lingkungan dan Umat

Astuti (STAIMAS) Wonogiri menggelar Sosialisasi Sedekah Minyak Jelantah untuk Kesejahteraan (SEJUTA) 

WONOGIRI KMR  – Mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Kelompok 1 Desa Pokoh Kidul, Sekolah Tinggi Agama Islam Mulia Astuti (STAIMAS) Wonogiri menggelar Sosialisasi Sedekah Minyak Jelantah untuk Kesejahteraan (SEJUTA) di rumah Widiastuti, Dusun Kajar RT 01 RW 06. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan minyak jelantah yang ramah lingkungan sekaligus bernilai ekonomi dan sosial.

Program SEJUTA hadir sebagai inovasi pemberdayaan masyarakat yang mengajak warga tidak lagi membuang minyak jelantah sembarangan, melainkan mengumpulkannya sebagai bentuk sedekah yang hasilnya dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan sosial dan kemaslahatan umat melalui masjid.

Dalam sosialisasi tersebut, narasumber Pontjo Mardiono menjelaskan bahwa minyak goreng sebaiknya digunakan maksimal tiga kali penggorengan agar kualitasnya tetap terjaga. Penggunaan minyak secara berulang dalam jangka panjang dapat menghasilkan senyawa berbahaya yang berisiko menyebabkan penyumbatan pembuluh darah, penyakit jantung, stroke, hingga kanker.

Ia juga menerangkan bahwa beberapa bahan makanan seperti tempe, tahu, terong, dan gembus menyerap minyak lebih banyak dibandingkan bahan pangan lainnya. Akibatnya, volume minyak yang tersisa setelah proses penggorengan semakin sedikit dan kualitasnya terus menurun sehingga tidak layak digunakan kembali.

Selain aspek kesehatan, peserta juga diperkenalkan pada potensi ekonomi minyak jelantah. Pontjo menjelaskan bahwa apabila setiap rumah tangga mampu mengumpulkan sekitar dua liter minyak jelantah setiap bulan, maka dari 50 kepala keluarga dapat terkumpul sekitar 100 liter minyak jelantah. Jumlah tersebut memiliki nilai jual yang cukup tinggi apabila dikelola secara kolektif.

Minyak jelantah yang terkumpul nantinya akan disalurkan kepada pengepul untuk diolah menjadi berbagai produk ramah lingkungan, seperti biodiesel, sabun, lilin aromaterapi, hingga produk turunan lainnya. Dengan harga sekitar Rp8.000 per kilogram, limbah rumah tangga yang selama ini dianggap tidak bernilai ternyata dapat menjadi sumber pendapatan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, masyarakat juga diimbau menyimpan minyak jelantah pada wadah yang bersih dan tertutup serta tidak membuangnya ke saluran air atau wastafel karena dapat menyebabkan penyumbatan sekaligus mencemari lingkungan. Untuk mendukung keberlanjutan program, akan disediakan rak penyimpanan minyak jelantah di lokasi pengumpulan sehingga proses pengambilan oleh pengepul dapat dilakukan secara berkala.

Melalui Program Sedekah Minyak Jelantah (SEJUTA), warga diajak menyimpan minyak jelantah dari rumah masing-masing, kemudian mengumpulkannya di masjid sebagai bentuk sedekah. Sebagai langkah awal pelaksanaan program di Dusun Kajar, titik pengumpulan minyak jelantah ditempatkan di setiap masjid yang ada di Dusun Kajar sehingga masyarakat dapat menyetorkan minyak jelantah dengan lebih mudah sesuai lokasi terdekat. Hasil penjualannya akan dimanfaatkan untuk mendukung berbagai kegiatan sosial, keagamaan, dan pemberdayaan masyarakat. Model ini telah diterapkan di sejumlah daerah dan terbukti mampu menjadi sumber pendanaan kegiatan umat sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.

Pada sesi diskusi, salah seorang peserta, Yuli, menyampaikan bahwa setiap rumah tangga belum tentu mampu menghasilkan hingga satu liter minyak jelantah setiap bulan. Menanggapi hal tersebut, Pontjo Mardiono menjelaskan bahwa keberhasilan program tidak bergantung pada jumlah minyak dari masing-masing rumah, melainkan pada semangat gotong royong seluruh warga. Jika dikumpulkan bersama-sama, minyak jelantah yang semula tampak sedikit akan menjadi sumber manfaat yang besar bagi masyarakat.

Koordinator Kelompok 1 KPM Pokoh Kidul, Eka Agus Widianto, berharap Program SEJUTA dapat menjadi gerakan berkelanjutan yang tidak hanya meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kesehatan dan lingkungan, tetapi juga memperkuat nilai-nilai ekoteologi, yakni menjaga kelestarian alam sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan.

Sementara itu, Penanggung Jawab Kegiatan, Rifa'atul Mahmudah, berharap mahasiswa KPM STAIMAS Wonogiri dapat menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak hanya berfokus pada penyuluhan, tetapi juga menghadirkan solusi nyata yang mengintegrasikan aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial. Program SEJUTA diharapkan menjadi gerakan bersama dalam mengubah limbah rumah tangga menjadi sumber keberkahan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta mewujudkan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. (Rifa'atul Mahmudah & Afina Azzahra Aufannida/pimred Cahyospirit)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar