Inovasi HOUSE OF TB Puskesmas Sidoharjo Hadirkan Program "SADARI (Satu Dahak Satu Hari)" untuk Percepat Penemuan Kasus Tuberkulosis
Sidoharjo, Wonogiri KMR– Upaya percepatan eliminasi Tuberkulosis (TBC) terus dilakukan oleh Puskesmas Sidoharjo melalui berbagai inovasi pelayanan kesehatan. Salah satu terobosan yang kini menjadi perhatian adalah pengembangan HOUSE OF TB (Rumah TB) dengan menghadirkan program SADARI (Satu Dahak Satu Hari), sebuah inovasi yang bertujuan mempercepat penemuan kasus TBC secara aktif melalui pemeriksaan dahak dan penelusuran kontak secara lebih luas.
Program ini menjadi bentuk komitmen Puskesmas Sidoharjo dalam mendukung target nasional eliminasi TBC. Mengingat Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan jumlah kasus TBC tertinggi di dunia, langkah inovatif di tingkat pelayanan kesehatan dasar menjadi bagian penting dalam memutus rantai penularan penyakit tersebut.
Narasumber kegiatan, Indah Kusuma Wardani, menjelaskan bahwa pengendalian TBC tidak cukup hanya mengandalkan pasien yang datang berobat ke fasilitas kesehatan. Diperlukan upaya aktif untuk menemukan penderita sejak dini agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan risiko penularan kepada orang lain dapat ditekan.
"TBC masih menjadi tantangan besar dalam bidang kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, deteksi dini melalui pemeriksaan dahak dan penelusuran kontak erat menjadi strategi yang sangat penting. Semakin cepat kasus ditemukan, semakin cepat pula pasien mendapatkan pengobatan sehingga peluang kesembuhan meningkat dan penularan dapat dicegah," jelas Indah.
Ia menambahkan bahwa masih terdapat berbagai kendala dalam penemuan kasus TBC, mulai dari keterbatasan akses pelayanan kesehatan, rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri, hingga stigma terhadap penderita TBC yang membuat sebagian orang enggan menjalani pemeriksaan.
Melalui inovasi HOUSE OF TB, Puskesmas Sidoharjo menghadirkan pelayanan yang lebih proaktif. Jika sebelumnya penelusuran kontak hanya dilakukan kepada pasien yang datang berobat ke puskesmas, kini petugas kesehatan melakukan kunjungan langsung ke rumah pasien untuk mengidentifikasi anggota keluarga, tetangga, maupun kerabat yang memiliki kontak erat dengan penderita TBC aktif.
Pendekatan tersebut dinilai mampu memperluas jangkauan skrining sehingga potensi kasus baru dapat ditemukan lebih cepat. Selain pemeriksaan terhadap kontak erat, petugas juga memberikan edukasi mengenai gejala TBC, pentingnya pemeriksaan dahak, serta langkah-langkah pencegahan penularan di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Sebagai pengelola Program Inovasi HOUSE OF TB, Bidan Siswati menjelaskan bahwa lahirnya program SADARI (Satu Dahak Satu Hari) merupakan pengembangan dari kegiatan penemuan kasus yang telah berjalan sebelumnya. Melalui program ini, setiap hari dilakukan upaya aktif untuk mengumpulkan dan memeriksa sampel dahak dari masyarakat yang diduga mengalami gejala TBC ataupun memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TBC.
Menurutnya, pemeriksaan dahak secara rutin setiap hari akan mempercepat proses identifikasi penderita sehingga penanganan dapat segera diberikan tanpa harus menunggu kondisi pasien semakin berat.
"Inovasi SADARI menjadi salah satu strategi agar penemuan kasus TBC tidak lagi bersifat pasif, tetapi dilakukan secara aktif oleh petugas kesehatan bersama masyarakat. Dengan begitu, kasus baru dapat segera ditemukan, diobati, dan penularannya bisa dicegah sedini mungkin," ungkap Siswati.
Dalam pelaksanaannya, program ini didukung oleh pemanfaatan teknologi kesehatan, salah satunya melalui Tes Cepat Molekuler (TCM) yang mampu membantu menegakkan diagnosis TBC secara lebih cepat dan akurat. Selain itu, sistem informasi terpadu juga dimanfaatkan untuk memantau hasil pemeriksaan, perkembangan pengobatan pasien, hingga pelaksanaan penelusuran kontak secara berkelanjutan.
HOUSE OF TB mengusung pendekatan "Cari, Cek, Segera Obati Sampai Sembuh" sebagai prinsip utama dalam pengendalian TBC. Strategi tersebut tidak hanya menitikberatkan pada proses pengobatan pasien, tetapi juga mendorong peningkatan kesadaran masyarakat melalui edukasi, penyuluhan kesehatan, serta perubahan perilaku agar lebih peduli terhadap pencegahan dan deteksi dini penyakit TBC.
Melalui kunjungan rumah yang dilakukan secara intensif, petugas kesehatan juga dapat memberikan terapi pencegahan TBC bagi individu yang memiliki risiko tinggi tertular, terutama anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien TBC aktif. Langkah ini diharapkan mampu menurunkan angka penularan sekaligus mencegah munculnya kasus baru di kemudian hari.
Inovasi HOUSE OF TB dengan program SADARI (Satu Dahak Satu Hari) menjadi bukti bahwa pelayanan kesehatan di tingkat puskesmas dapat terus berkembang melalui pendekatan yang inovatif, kolaboratif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Dengan dukungan tenaga kesehatan, pemerintah desa, kader kesehatan, serta partisipasi masyarakat, program ini diharapkan mampu mempercepat penemuan kasus TBC, meningkatkan angka keberhasilan pengobatan, serta mewujudkan masyarakat yang lebih sehat dan bebas dari Tuberkulosis.
Ke depan, Puskesmas Sidoharjo berharap inovasi ini dapat menjadi inspirasi bagi fasilitas pelayanan kesehatan lainnya dalam memperkuat upaya eliminasi TBC melalui deteksi dini, pelayanan yang mudah dijangkau, dan pendampingan pasien secara berkelanjutan. Dengan semangat bersama, target Indonesia menuju eliminasi TBC dapat diwujudkan melalui langkah nyata yang dimulai dari tingkat pelayanan kesehatan primer.(Eko Tito/Pimred Cahyospirit)















