BREAKING NEWS
SPACE IKLAN INI DISEWAKAN
untuk informasi hubungi Dewan Redaksi 0877-9361-6743

Asal Usul Dusun Sunggingan dan Tradisi Kirim Pundhen di Bulan Suro, Warga Lestarikan Warisan Leluhur Lewat Kenduri dan Doa Bersama

Tradisi yang rutin dilaksanakan setiap bulan Suro ini menjadi salah satu momen penting bagi warga

Girimarto,Wonogiri KMR– Memasuki bulan Suro dalam penanggalan Jawa, masyarakat Dusun Sunggingan, Kelurahan Sidokarto, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri, kembali menggelar tradisi adat Kirim Pundhen sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus upaya melestarikan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Tradisi yang rutin dilaksanakan setiap bulan Suro ini menjadi salah satu momen penting bagi warga. Mereka berkumpul dalam suasana penuh kebersamaan dengan membawa berbagai hidangan tradisional, seperti panggang dan nasi pencok, yang kemudian disantap bersama setelah doa bersama dipanjatkan.



Selain menjadi ajang silaturahmi antarwarga, kegiatan ini juga mengandung nilai spiritual dan budaya yang kuat. Warga meyakini bahwa tradisi Kirim Pundhen merupakan bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah membuka dan menjaga wilayah tersebut sejak zaman dahulu.

Menurut penuturan sesepuh desa Bapak Suratman, sejarah Dusun Sunggingan tidak terlepas dari kisah seorang musafir yang pernah singgah di wilayah tersebut. 

Musafir itu dikenal sebagai Nyai Ndan dan Kiai Sungging. Kehadiran mereka dipercaya membawa ketenteraman serta perlindungan bagi masyarakat yang tinggal di kawasan itu.

Dalam cerita yang diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi, pada masa penjajahan dusun tersebut diyakini mendapatkan perlindungan gaib. Konon, ketika para penjajah hendak memasuki wilayah tersebut, mereka dibuat kebingungan sehingga tidak dapat menemukan jalan masuk ke dusun.

"Menurut cerita para orang tua dahulu, wilayah ini selalu mendapat perlindungan sehingga penjajah kesulitan memasuki dusun. Kisah itu terus diwariskan sebagai bagian dari sejarah masyarakat Sunggingan," tutur Bapak Suratman.

Berdasarkan cerita tersebut, nama dusun yang sebelumnya dikenal sebagai Ngunut kemudian berubah menjadi Sunggingan, mengikuti nama tokoh yang dipercaya pernah singgah dan memiliki peran penting dalam sejarah awal kawasan tersebut.

Setiap bulan Suro, warga melaksanakan kenduri sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus mengenang jasa para leluhur, khususnya Danyang Gadung Melati Sunggingan yang dipercaya sebagai cikal bakal penjaga wilayah. Doa-doa dipanjatkan agar masyarakat senantiasa diberikan keselamatan, kesehatan, hasil panen yang baik, serta kehidupan yang rukun dan damai.

Tradisi Kirim Pundhen juga menjadi sarana untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya Jawa kepada generasi muda. Melalui kegiatan ini, masyarakat berharap sejarah, adat istiadat, dan semangat gotong royong tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.

Dengan terus dilestarikannya tradisi Kirim Pundhen setiap bulan Suro, warga Dusun Sunggingan menunjukkan komitmen mereka dalam menjaga warisan budaya dan menghormati leluhur. Bagi masyarakat setempat, tradisi ini bukan sekadar acara tahunan, melainkan simbol persatuan, rasa syukur, serta penghormatan terhadap sejarah yang telah membentuk identitas Dusun Sunggingan hingga saat ini.(Yun /Pimred Cahyospirit)



Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar