Mahasiswa STAIMAS Gunakan Metode PAR dan ABCD saat KPM 2026, Berikut Perbedaan Dua Metode Itu
WONOGIRI KMR – Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) 07 STAIMAS Wonogiri tahun 2026 tidak hanya menjadi ajang mahasiswa mengabdi di tengah masyarakat. Lebih dari itu, para peserta dibekali cara pandang baru dalam menjalankan program pengabdian melalui dua pendekatan yang kini banyak digunakan dalam pemberdayaan masyarakat, yakni Participatory Action Research (PAR) dan Asset Based Community Development (ABCD).
Materi tersebut disampaikan oleh Nadhiroh, S.Sos.I., M.I.Kom. dalam kegiatan pembekalan KPM 07 yang berlangsung di Aula Kampus STAIMAS Wonogiri, Sabtu (6/6/2026). Dalam sesi tersebut, mahasiswa diajak memahami bahwa masyarakat bukan sekadar sasaran program, melainkan mitra yang harus dilibatkan dalam setiap proses perubahan.
Di hadapan puluhan peserta KPM, Nadhiroh menjelaskan bahwa PAR dan ABCD sama-sama bertujuan memberdayakan masyarakat, tetapi memiliki titik tekan yang berbeda.
Metode PAR (Participatory Action Research) berangkat dari identifikasi masalah yang dihadapi masyarakat. Mahasiswa bersama warga melakukan pemetaan persoalan, merumuskan solusi, kemudian melaksanakan aksi untuk menyelesaikannya. Dalam pendekatan ini, masyarakat terlibat aktif sejak tahap perencanaan hingga evaluasi.
Sementara itu, metode ABCD (Asset Based Community Development) berfokus pada potensi dan aset yang sudah dimiliki masyarakat. Jika PAR dimulai dari persoalan, maka ABCD dimulai dari kekuatan. Mahasiswa diajak menemukan berbagai aset desa, seperti sumber daya manusia, tradisi, organisasi sosial, keterampilan warga, hingga potensi ekonomi lokal yang dapat dikembangkan menjadi program pemberdayaan.
"Sering kali masyarakat dipandang dari kekurangannya. Melalui ABCD, kita belajar melihat apa yang sudah dimiliki masyarakat sebagai modal untuk berkembang," terang Nadhiroh.
Bagi mahasiswa, pemahaman terhadap kedua metode ini menjadi penting karena akan menentukan cara mereka berinteraksi dengan masyarakat selama menjalankan KPM. Program yang disusun tidak lagi bersifat top-down atau sekadar menjalankan agenda mahasiswa, melainkan lahir dari kebutuhan dan potensi yang ditemukan bersama warga.
Ketua Panitia KPM 07 STAIMAS Wonogiri, Dr. Amir Mukminin, S.Pd., M.Pd.I., mengingatkan bahwa keberhasilan KPM tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyusun program, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kebersamaan dalam tim.
"KPM akan berlangsung mulai 7 Juli hingga 20 Agustus 2026. Saya berharap seluruh mahasiswa dapat menjaga kekompakan, kebersamaan, dan saling mendukung selama berada di lokasi pengabdian," ujarnya.
Menurut Amir, tantangan di lapangan sering kali membutuhkan kerja sama yang solid antarmahasiswa. Karena itu, semangat gotong royong yang dipelajari melalui metode PAR dan ABCD juga perlu diterapkan dalam kehidupan kelompok selama KPM berlangsung.
Pembekalan tersebut menjadi bekal awal sebelum 88 mahasiswa peserta KPM diterjunkan ke berbagai lokasi pengabdian. Dengan menguasai pendekatan PAR dan ABCD, mereka diharapkan mampu menghadirkan program yang lebih partisipatif, tepat sasaran, dan berkelanjutan.
Sebab pada akhirnya, pengabdian masyarakat bukan tentang seberapa banyak kegiatan yang dilakukan, melainkan seberapa besar masyarakat dapat bergerak dan berkembang dengan kekuatan yang mereka miliki sendiri.(NDR /Pimred Cahyospirit )












