Belajar Bercerita dari Desa, Mahasiswa KPM 07 STAIMAS Wonogiri Dibekali Keterampilan Videografi dan Fotografi
Wonogiri KMR– Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) bukan sekadar tentang hadir di tengah masyarakat dan menjalankan program kerja. Di era digital, mahasiswa juga dituntut mampu mendokumentasikan setiap proses pengabdian menjadi cerita yang menarik, inspiratif, dan bermanfaat bagi publik.
Kesadaran itulah yang melatarbelakangi pembekalan materi videografi dan fotografi bagi mahasiswa KPM 07 STAIMAS Wonogiri yang disampaikan oleh Dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Muhammad Umar Khadafi, M.Sos., Sabtu (6/6/2026), di Aula STAIMAS Wonogiri.
Dalam suasana yang santai namun penuh antusiasme, Umar Khadafi mengajak mahasiswa memahami bahwa dokumentasi bukan sekadar aktivitas memotret atau merekam video. Dokumentasi yang baik merupakan media untuk menyampaikan pesan, merekam perubahan sosial, sekaligus menjadi bentuk pertanggungjawaban kegiatan kepada masyarakat dan kampus.
Ia memperkenalkan berbagai teknik dasar videografi dan fotografi, mulai dari pemilihan sudut pandang kamera (angle), teknik pengambilan gambar (framing), hingga penerapan rule of thirds agar hasil dokumentasi terlihat lebih menarik dan profesional. Selain aspek teknis, mahasiswa juga diajak memahami pentingnya narasi dalam sebuah video agar konten yang dihasilkan tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga informatif, edukatif, dan persuasif.
Menurut Umar, dokumentasi kegiatan KPM sejatinya adalah proses bercerita. Setiap program yang dijalankan mahasiswa di desa memiliki nilai yang layak dibagikan kepada masyarakat luas. Karena itu, video yang dibuat harus mampu menjawab unsur 5W+1H, disusun secara naratif, serta diperkuat dengan teks, voice over, dan musik yang sesuai.
Menariknya, materi yang diberikan tidak berhenti pada teori. Mahasiswa juga memperoleh panduan praktis mengenai standar produksi video KPM, mulai dari format video untuk berbagai platform digital, penggunaan logo resmi, durasi video, hingga pentingnya menggunakan musik bebas hak cipta.
Pada kesempatan itu, Ketua Panitia KPM 07 STAIMAS Wonogiri, Dr. Amir Mukminin, S.Pd., M.Pd.I, mengingatkan mahasiswa bahwa keberhasilan KPM tidak hanya diukur dari banyaknya program yang terlaksana, tetapi juga dari sikap dan etika selama berada di tengah masyarakat.
Ia mengajak seluruh peserta KPM untuk menjaga nama baik diri sendiri maupun almamater STAIMAS Wonogiri. Menurutnya, mahasiswa merupakan representasi kampus yang akan berinteraksi langsung dengan masyarakat selama pelaksanaan KPM.
“Jagalah nama baik diri sendiri dan almamater. Berikan yang terbaik kepada masyarakat karena kehadiran mahasiswa harus mampu membawa manfaat,” pesannya.
Amir juga menekankan pentingnya komunikasi dan koordinasi selama pelaksanaan KPM. Mahasiswa diminta aktif menjalin hubungan yang baik dengan pemerintah desa, tokoh masyarakat, serta senantiasa berkoordinasi dengan dosen pembimbing lapangan (DPL) apabila menghadapi kendala di lapangan.
Pembekalan ini menjadi bekal penting bagi mahasiswa sebelum diterjunkan ke lokasi KPM. Tidak hanya siap mengabdi, mereka juga diharapkan mampu mengabadikan setiap proses pengabdian dalam bentuk karya visual yang berkualitas. Sebab, dari sebuah foto dan video yang baik, cerita tentang semangat gotong royong, pemberdayaan masyarakat, dan dedikasi mahasiswa dapat terus hidup dan menginspirasi banyak orang.
Bagi mahasiswa KPM 07 STAIMAS Wonogiri, pengabdian bukan hanya tentang bekerja di desa, tetapi juga tentang belajar melihat, mendengar, dan menceritakan kehidupan masyarakat dengan lebih bermakna.(NDR /pimred Cahyospirit)

















