Ketua DPC PWRI : Alasan Trauma Tak Masuk Akal, Akan Kita Kawal Hingga Tuntas
Ketua DPC PWRI (Persatuan Wartawan Republik Indonesia) Kabupaten Purwakarta, Didi yang menyesalkan sikap kepala sekolah yang terkesan menghindar ketika hendak di konfirmasi.di sekolahnya.
Purwakarta MR -Sorotan tajam publik kini tertuju ke MTsN 3 Bojong, Purwakarta. Peristiwa terjadinya dugaan pungutan terhadap orang tua siswa yang diduga kuat terindikasi pungutan liar ini memasuki babak baru.
Kali ini datang dari Ketua DPC PWRI (Persatuan Wartawan Republik Indonesia) Kabupaten Purwakarta, Didi yang menyesalkan sikap kepala sekolah yang terkesan menghindar ketika hendak di konfirmasi.di sekolahnya.
Dirinya menjelaskan, beberapa hari yang lalu atau tepatnya Rabu, 08 April 2026. ia bersama rekan media lainnya sengaja berkunjung ke sekolah tersebut, untuk konfirmasi terkait panasnya isu dugaan pungli.
"Untuk menyajikan pemberitaan yang akurat & berimbang, kami berkunjung ke sekolah tersebut. Kami mengedepankan etika & kode etik jurnalistik, namun sayang menurut keterangan salah seorang guru bahwa kepala sekolah tidak mau menemui karena masih mengalami trauma," jelas Didi mengawali.
Hal ini sontak menjadi tanda tanya besar, "Bagaimana mungkin hanya karena alasan dirinya mengaku mengalami trauma tidak bersedia menemui. Seharusnya trauma itu bisa dibenarkan berdasarkan hasil pemeriksaan medis/ahlinya, bukan asumsi pribadi," tambahnya.
Sikap kepala sekolah ini kian menguatkan isu yang tengah memanas.dan memantik praduga liar ini sebagai jawabannya. Sampai berita ini ditayangkan belum ada informasi lanjutan terkait ini..
"Kita akan terus pantau dan kawal dugaan pungli di MTsN 3 Bojong ini. Dan kami sudah berencana untuk menyampaikan hal ini ke Kementrian Agama di Jakarta sambil melengkapi data pendukungnya," pungkas Didi.(Edy Kusnendy/Pimpred Cahyospirit)
