Gema Takbir dan Hangatnya Tradisi 'Sedan Ijo' di Masjid Taqwa Krapyak .
Ratusan jamaah tampak memadati area masjid hingga meluber ke jalanan desa, beralaskan tikar dan sajadahNguntoronadi, Wonogiri MR– Suasana syahdu menyelimuti Masjid Taqwa Krapyak, Bulurejo, Nguntoronadi, Wonogiri pagi ini 21 Maret 2026.
Ratusan jamaah tampak memadati area masjid hingga meluber ke jalanan desa, beralaskan tikar dan sajadah. Di bawah langit pagi yang cerah, gema takbir bersahut-sahutan menandai datangnya hari kemenangan, IdulFitri. Sebagai Imam dan Khatib yaitu Ustadz Beki dari Tirtomoyo Namun, ada yang berbeda dan istimewa dari perayaan di wilayah ini.
Selain ibadah sholat yang khusyuk, masyarakat Krapyak tetap teguh menjaga tradisi leluhur yang unik dan penuh makna. Tradisi 'Sedan Ijo': Simbol Keikhlasan dari Daun Pisang. Sesaat setelah rangkaian sholat Id usai, pemandangan unik mulai terlihat. Warga mulai mengeluarkan "Sedan Ijo".
Bukan kendaraan mewah, melainkan sebutan akrab warga setempat untuk paket makanan yang dibungkus rapi menggunakan daun pisang segar (hijau). Di dalam balutan daun tersebut, tersaji menu khas lebaran hasil olahan dapur setiap KK membawa beberapa bungkus yang nantinya dimakan bersama-sama.
Tradisi ini bukan sekadar urusan perut, melainkan simbol kerendahan hati dan kedekatan dengan alam. Wangi aroma nasi hangat yang berpadu dengan daun pisang menciptakan suasana kekeluargaan yang begitu kental di pelataran masjid.
Asep Saotono sebagai Ketua Panitia menegaskan bahwa Ibadah dan tradisi berjalan beriringan harmonis, selain itu setelah acara sholat IdulFitri dilanjutkan Halal Bihalal Wajah Toleransi di Pelataran Masjid Puncak dari perayaan hari ini terjadi setelah khotbah IdulFitri selesai dibacakan.
Suasana formal ibadah seketika berubah menjadi ajang silaturahmi yang mengharukan.Yang menarik perhatian, momen Halal Bihal al ini tidak hanya diikuti oleh umat Muslim. Begitu doa penutup khotbah selesai, terlihat warga non-muslim dari lingkungan sekitar mulai berdatangan menuju halaman Masjid Taqwa Krapyak. Mereka datang dengan senyum merekah untuk memberikan ucapan selamat kepada tetangga dan kerabat yang baru saja merayakan lebaran.
"Di sini, IdulFitri adalah hari milik semua orang. Kami sudah terbiasa saling mengunjungi tanpa melihat latar belakang keyakinan. Ini adalah warisan orang tua kami," ujar salah satu warga setempat di sela-sela jabat tangan.
Tawa renyah dan jabatan tangan erat antara Muslim dan non-Muslim menjadi pemandangan yang menyejukkan. Mereka duduk melingkar, berbagi isi dari Sedan Ijo, dan saling memaafkan.(Dwi s/Pimred Cahyospirit)
























