BREAKING NEWS
SPACE IKLAN INI DISEWAKAN
untuk informasi hubungi Dewan Redaksi 0877-9361-6743

Voice of Ramadan, Akademisi dan Praktisi Bedah Strategi Dakwah Digital di Era Konvergensi

Empat Perguruan Tinggi Swasta (PTS) menyelenggarakan agenda VOICE OF RAMADAN – SESI I dengan tema Membangun Peradaban melalui Narasi Dakwah Digital, Kamis (26/2/2026), secara online melalui Zoom Meeting

Wonogiri MR– Empat Perguruan Tinggi Swasta (PTS) menyelenggarakan agenda VOICE OF RAMADAN – SESI I dengan tema Membangun Peradaban melalui Narasi Dakwah Digital, Kamis (26/2/2026), secara online melalui Zoom Meeting.

Hadir sebagai pembicara, Dr. KH. Ibrohim Nawawi, S.Ag., M.Pd.I (Dosen Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam STIDKI NU Indramayu), Nadia Cahaya Amanda, M.Sos. (Dosen Prodi Manajemen Dakwah STAI Terpadu Yogyakarta), Mahfudz, S.Sos.I., M.I.Kom (Dosen Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UNUJA Probolinggo). Acara itu dipandu moderator Achmad Zaky Faiz, M.Sos. (Kaprodi Komunikasi dan Penyiaran Islam STAIMAS Wonogiri) 

Ketua STAIMAS Wonogiri, Atik Nurfatmawati, S.E., M.I.Kom dalam sambutannya menyampaikan bahwa agenda Voice of Ramadan merupakan ikhtiar bersama untuk saling mempererat hubungan Kerjasama PTS.


"Hari ini melaksanakan agenda ini untuk menuntut ilmu. Kita berharap di empat kampus, saling melengkapi bukan hanya dari dosen tapi juga dari mahasiswa. Bagaimana upaya kita menghadirkan dakwah yang inklusif dan transformatif. Mari kita saling bekerjasama, saling merekognisi. Jangan minder meski dari kampus yang masih kecil," ucap Atik.

Perkembangan teknologi informasi yang masif telah mengubah wajah dakwah dari mimbar konvensional menuju layar digital. Dalam serangkaian materi seminar yang dihimpun baru-baru ini, para pakar komunikasi Islam dan akademisi menekankan pentingnya adaptasi strategi bagi para dai agar tetap relevan di era konvergensi media.

Menurut Mahfudz, dakwah digital di era konvergensi bukan sekadar memindahkan ceramah ke media sosial. Ia menegaskan bahwa dakwah adalah proses komunikasi transformatif.

"Objek dakwah kita sekarang adalah digital society yang bersifat global dan lintas budaya. Strateginya harus terintegrasi, mulai dari video kajian di YouTube, konten pendek di TikTok dan Reels, hingga infografis di Instagram," jelasnya dalam materi bertajuk Dakwah Digital di Era Konvergensi Media.

Namun, kemudahan akses informasi digital juga membawa risiko. Nadia Cahaya Amanda, M.Sos, dosen dari STAIT Yogyakarta, menyoroti fenomena dangkalnya pemahaman agama akibat konten berdurasi pendek.

"Ada tantangan besar di mana masyarakat cenderung belajar agama secara instan hanya melalui judul atau cuplikan pendek (Shorts/TikTok). Hal ini berisiko membuat pemahaman agama menjadi tidak utuh atau tidak kaffah," ungkap Nadia. 

Ia menekankan pentingnya konsep Tafaqquh Fiddin (pendalaman ilmu agama) agar masyarakat tidak terjebak pada narasi yang dangkal.

Menariknya, Dr. K.H. Ibrohim Nawawi dari STIDKI-NU Indramayu menawarkan pendekatan yang lebih membumi dengan menggabungkan teknologi dan kearifan lokal. Sosok yang juga dikenal sebagai "Ki Dalang Wayang Potel" ini memperkenalkan metode Story Healing.

"Dakwah digital bisa dikemas melalui kisah-kisah yang menyembuhkan, baik dari Al-Qur'an, naskah kuno, hingga tutur tinular. Kita bisa merevitalisasi kearifan lokal seperti 'Kembang Kilaras' sebagai sumber pembelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam-red) yang menarik bagi milenial," ujarnya.

Para pemateri sepakat bahwa dakwah digital masa kini memerlukan manajemen yang profesional. Bukan lagi kerja individu, melainkan kerja tim yang melibatkan:

1. Dai Digital: Sebagai penyampai pesan.

2. Content Creator & Editor: Untuk mengemas pesan secara visual.

3. Social Media Strategist: Untuk memetakan algoritma dan jangkauan audiens.

Transformasi ini diharapkan dapat memperluas jangkauan dakwah secara global dan membangun opini publik yang berbasis nilai-nilai Islam yang moderat. Dengan memanfaatkan perangkat Artificial Intellegence (AI), analisis data, dan kalender konten yang teratur, dakwah diharapkan dapat menjadi solusi atas problematika masyarakat modern di ruang siber.(NDR /Pimpred Cahyospirit)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar