BREAKING NEWS
SPACE IKLAN INI DISEWAKAN
untuk informasi hubungi Dewan Redaksi 0877-9361-6743

Tradisi Sadranan Desa Karangtalun Digelar di Makam Ki Ageng Karang, Warga Doakan Keselamatan dan Panen Raya

tradisi Sadranan sebagai bentuk pelestarian adat dan budaya leluhur

Klaten MR– Pemerintah Desa Karangtalun, Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten kembali menggelar tradisi Sadranan sebagai bentuk pelestarian adat dan budaya leluhur. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 2 Februari 2026, mulai pukul 15.00 WIB, bertempat di area pelataran makam Ki Ageng Karang atau yang dikenal masyarakat sebagai Eyang Karang, tokoh cikal bakal berdirinya Desa Karangtalun.

Acara tersebut diikuti oleh ratusan warga Desa Karangtalun dari berbagai kalangan. Sejak siang hari, masyarakat tampak antusias mempersiapkan prosesi dengan membawa ubarampe, tumpeng, serta hasil bumi sebagai simbol rasa syukur. Pelataran makam dipenuhi oleh warga yang mengenakan pakaian adat maupun busana sopan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

Ketua Panitia Sadranan Desa Karangtalun, Bayu Jati, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan agenda kelima yang dilaksanakan sebelum acara puncak Sadranan desa. Menurutnya, tradisi ini sudah menjadi kegiatan rutin tahunan yang selalu dipusatkan di makam Ki Ageng Karang.

“Agenda ini adalah rangkaian kelima sebelum acara puncak Sadranan desa. Setiap tahun selalu kita adakan di makam Ki Ageng Karang sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah membuka dan membangun Desa Karangtalun,” ujar Bayu Jati di sela-sela kegiatan.

Ia menambahkan, Sadranan tidak hanya menjadi tradisi seremonial, tetapi juga mengandung nilai spiritual yang kuat. Melalui kegiatan ini, seluruh warga Desa Karangtalun bersama-sama memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar desa senantiasa diberi keselamatan, ketentraman, dan keberkahan.

“Hajat kegiatan ini adalah doa bersama seluruh warga Karangtalun kepada Tuhan. Kami memohon keselamatan, kesehatan, serta kesejahteraan untuk seluruh masyarakat desa,” lanjutnya.

Menariknya, pelaksanaan Sadranan di Desa Karangtalun dikemas dengan konsep inovatif tanpa meninggalkan nilai-nilai adat yang diwariskan secara turun-temurun. Prosesi yang cukup panjang dilakukan secara estafet dari tahun ke tahun sebagai simbol kesinambungan budaya dan komitmen masyarakat dalam menjaga tradisi leluhur.

Bayu Jati menyebutkan bahwa panjangnya prosesi bukanlah sebuah kendala, justru menjadi kekuatan utama dalam menjaga semangat gotong royong dan kebersamaan warga. Dengan sistem estafet tahunan, generasi muda diharapkan dapat terus terlibat dan memahami makna dari tradisi tersebut.

“Dengan adanya prosesi yang cukup panjang ini, acara Sadranan dilaksanakan secara estafet setiap tahun. Harapannya agar adat dan budaya tetap lestari dan tidak tergerus oleh perkembangan zaman,” jelasnya.

Selain nilai budaya dan spiritual, Sadranan juga memiliki harapan besar bagi sektor pertanian yang menjadi mata pencaharian utama warga Karangtalun. Melalui doa bersama dan ungkapan rasa syukur, masyarakat berharap agar hasil pertanian ke depan semakin melimpah.

“Untuk pertanian, harapannya semoga panen raya bisa meningkat dan membawa kesejahteraan bagi seluruh warga Karangtalun,” pungkas Bayu Jati.

Dengan digelarnya tradisi Sadranan ini, Desa Karangtalun menunjukkan komitmennya dalam menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat persatuan masyarakat. Tradisi ini tidak hanya menjadi identitas desa, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya keseimbangan antara kehidupan spiritual, budaya, dan kesejahteraan sosial.(Aulia/Pimpred Cahyospirit )














Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar