Gempa Magnitudo 5,5 Guncang Pacitan, Getarannya Terasa hingga Wonogiri
Wonogiri MR– Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,5 mengguncang wilayah Pacitan, Jawa Timur, pada Selasa pagi, 27 Januari 2026. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 08.22 WIB dan sempat menghebohkan warga di sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
Berdasarkan informasi resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada pada koordinat 8,14 Lintang Selatan dan 111,33 Bujur Timur. Lokasi tersebut berada sekitar 25 kilometer timur laut Pacitan, Jawa Timur, dengan kedalaman mencapai 105 kilometer. Gempa ini tergolong gempa menengah yang bersumber dari aktivitas subduksi di selatan Pulau Jawa.
Getaran gempa dirasakan cukup jelas oleh warga Wonogiri, terutama di wilayah selatan. Sejumlah warga mengaku panik dan sempat berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Meski tidak menimbulkan kerusakan besar, guncangan yang terjadi membuat aktivitas warga sempat terhenti.
Yuli, salah satu warga Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri, mengatakan bahwa gempa terasa cukup lama dibandingkan biasanya. Ia mengaku awalnya tidak langsung menyadari adanya gempa, namun setelah merasakan getaran yang terus berlangsung, ia segera berlari keluar rumah karena khawatir terjadi sesuatu yang lebih buruk.
“Getarannya agak lama, bikin kaget. Setelah sadar itu gempa, saya langsung lari keluar rumah,” ujar Yuli saat ditemui.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan maupun korban jiwa di wilayah Wonogiri dan sekitarnya. Aparat setempat masih melakukan pemantauan dan koordinasi untuk memastikan kondisi masyarakat tetap aman.
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Warga juga diminta untuk selalu mengikuti arahan dari pihak berwenang serta memperhatikan kondisi bangunan tempat tinggal, terutama jika terjadi gempa susulan.
Gempa bumi ini menjadi pengingat bahwa wilayah selatan Jawa merupakan daerah rawan aktivitas seismik. Oleh karena itu, kesiapsiagaan dan kewaspadaan masyarakat sangat diperlukan guna meminimalkan risiko apabila bencana serupa kembali terjadi.( Ari saman /Pimpred Cahyospirit)


















