Temu Kangen Kepek Betal Lawas (KBL): Kisah Kebersamaan yang Terjalin Kembali
Nguntoronadi, Wonogiri MR – Di tahun 1979, pembangunan Waduk Gajah Mungkur memaksa warga Desa Betal mengikuti program bedol desa, meninggalkan kampung halaman tercinta.
Kini, setelah 46 tahun berpisah, sekitar 40 orang mantan warga Kepek Betal Lawas (KBL) berhasil berkumpul kembali berkat kerja keras Mbak woro ,pak narso yang telaten menghubungi satu per satu teman dan tetangga lama.
Dulu, Betal Lawas adalah pusat pemerintahan dan perdagangan Kecamatan Nguntoronadi. Terdapat pasar, kantor kecamatan, Koramil, bahkan stasiun kereta api semuanya berperan penting bagi pergerakan masyarakat setempat.
Namun sejak pembangunan Waduk Gajah Mungkur (1976–1981) waduk terbesar di Jawa Tengah desa ini tenggelam.
Proyek ini menenggelamkan 51 desa dan menggusur puluhan ribu jiwa melalui program transmigrasi ke berbagai wilayah di Sumatera
Kini, sisa-sisa Betal Lawas hanya muncul saat musim kemarau, ketika batu fondasi, sumur, bekas pasar, dan jalur kereta terlihat kembali dari dasar waduk.
Dengan tekad menghidupkan lagi rasa kebersamaan, Maryoto memulai pencarian menghubungi mantan tetangga dan teman lama satu per satu.
Tantangan komunikasi dipenuhi kesabaran dan rasa rindu yang mendalam hingga berhasil menemukan sekitar 40 orang yang bersedia datang.
Ini merupakan ko, seluruh yang berhasil ditemukan berkumpul di rumah makan di Dingadirojo. Suasana batin terasa hangat penuh nostalgia berbagi cerita lama, kenangan masa kecil, serta ikatan yang dulu erat adanya. Hadirnya kembali rasa kebersamaan di satu meja menjadi momen pelipur lara yang tak ternilai. Makna Berharga dari Reuni KBL:
Menjembatani masa lalu dan masa kini – reuni ini menyatukan generasi yang pernah lahir, tumbuh, dan beraktivitas di Betal Lawas, lalu tercerabut akibat pembangunan. Kini, nostalgia jadi jembatan emosional agar sejarah tetap hidup.
Melestarikan kisah komunitas – reuni menjadi momentum berharga untuk mendokumentasikan pengalaman sirna itu, agar generasi selanjutnya memahami asal-usul dan perjuangan leluhur.
Penguat identitas lokal – meski fisik kampung hilang, semangat Kepek Betal Lawas kembali terpatri dalam komunitas—menyirami akar yang hampir pudar.
Temu kangen KBL mengingatkan kita bahwa, meski tanah kelahiran bisa hilang terbawah genangan, persahabatan dan rasa kebersamaan tak pernah lenyap. Betal Lawas mungkin sirna dalam wujud, namun hidup dalam kenangan dan ikatan hati.
Semoga reuni ini menjadi pelita kecil yang menyalakan kembali semangat komunitas, hingga suatu hari bisa dilanjutkan dengan dokumentasi atau pertemuan generasi muda untuk menjaga agar kisah Betal Lawas tetap abadi.( Sunaryo / Pimred Cahyospirit )
















