KLH Tinjau Inovasi Pengelolaan Sampah di Rumah Edukasi Griya Karebet Sukoharjo
Sukoharjo, MR — Upaya penguatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat terus menjadi perhatian pemerintah pusat. Hal ini terlihat dari kunjungan lapangan yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia bersama Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sukoharjo ke Rumah Edukasi Griya Karebet yang berlokasi di Dusun I, Desa Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo pada Rabu (1/4/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda pemantauan sekaligus pendataan terhadap sistem pengelolaan sampah di tingkat masyarakat. Fokus utama kunjungan adalah menilai sejauh mana program pengurangan sampah dari sumber dapat berjalan efektif melalui pendekatan edukatif dan partisipatif.
Rombongan KLH yang dipimpin oleh Vinda Damayanti bersama jajaran DLH Sukoharjo yang dikomandoi Agus Suprapto disambut langsung oleh Mulyani, S.Pd., selaku pengelola Rumah Edukasi Griya Karebet. Dalam sambutannya, Mulyani menyampaikan bahwa Griya Karebet hadir sebagai ruang belajar bersama bagi masyarakat dalam mengelola limbah menjadi produk bernilai guna.
Dalam kunjungan tersebut, tim KLH melakukan peninjauan menyeluruh terhadap berbagai program pengelolaan sampah yang telah berjalan. Beberapa di antaranya meliputi bank sampah, Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R), rumah kompos, hingga program kampung iklim (Proklim). Selain itu, perhatian juga diberikan pada peran rumah edukasi sebagai pusat pembelajaran masyarakat dalam mengelola limbah secara kreatif dan berkelanjutan.
Vinda Damayanti menjelaskan bahwa kunjungan ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi aktual di lapangan, termasuk tantangan yang dihadapi serta potensi pengembangan ke depan. “Kami ingin memastikan bahwa sistem pengelolaan sampah di daerah berjalan optimal, sekaligus melihat peluang untuk memperkuat program berbasis masyarakat seperti yang dilakukan di Griya Karebet,” ujarnya.
Salah satu hal yang menarik perhatian rombongan adalah berbagai produk kerajinan yang dihasilkan dari limbah anorganik. Beragam karya seperti tas, pakaian, vas bunga, hiasan dekoratif, bros, boneka, lukisan, tempat tisu, hingga topi dipamerkan sebagai hasil kreativitas warga. Produk-produk tersebut merupakan implementasi nyata dari konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle), yang tidak hanya mengurangi volume sampah tetapi juga memberikan nilai ekonomi tambahan bagi masyarakat.
Kegiatan ini juga memperlihatkan peran aktif ibu-ibu dari berbagai komunitas yang terlibat langsung dalam proses produksi kerajinan. Mereka tampak antusias mengolah limbah menjadi barang yang memiliki nilai estetika dan fungsi. Hal ini menjadi bukti bahwa pemberdayaan masyarakat dapat menjadi kunci dalam mengatasi persoalan lingkungan secara berkelanjutan.
KLH memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif yang dilakukan oleh Griya Karebet. Menurut mereka, keberadaan rumah edukasi seperti ini sangat penting untuk direplikasi di berbagai daerah, khususnya di tingkat desa. Selain sebagai pusat pembelajaran, tempat ini juga menjadi wadah kolaborasi antarwarga dalam menciptakan solusi lingkungan yang inovatif.
Lebih lanjut, peran Mulyani sebagai relawan yang aktif melakukan pembinaan di berbagai desa turut mendapat perhatian khusus. Dedikasinya dinilai mampu mendorong kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah yang baik dan benar.
Meski kunjungan berlangsung singkat karena keterbatasan waktu, kegiatan ini memberikan gambaran nyata tentang potensi besar pengelolaan sampah berbasis komunitas. Setelah meninjau Griya Karebet, rombongan KLH dan DLH melanjutkan agenda kunjungan ke wilayah Wonogiri untuk melakukan kegiatan serupa.
Kunjungan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam memperkuat sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif, berkelanjutan, dan berdampak luas bagi lingkungan.(Taufiq/Pimred Cahyospirit)















