BREAKING NEWS
🍃 🌿 🍃
🌱 PENGEN INFORMASI SEPUTAR AGROTECH?
Kunjungi agrotechindonesia.com
🌾 Membangun Pertanian Cerdas dan Berkelanjutan
👆 KLIK DI SINI

Festival Payung Indonesia XIII Angkat Jejak Sejarah Padi dan Diplomasi Budaya Asia di Solo

festival yang dikenal sebagai salah satu perayaan seni dan budaya berbasis payung tersebut mengangkat tema “Catra Padi – Sepayung Dewi Sri”.

SOLO KMR  — Festival Payung Indonesia (FESPIN) XIII kembali digelar di Kota Solo pada 4–6 September 2026. Memasuki penyelenggaraan ke-13, festival yang dikenal sebagai salah satu perayaan seni dan budaya berbasis payung tersebut mengangkat tema “Catra Padi – Sepayung Dewi Sri”.

Tema tersebut membawa pengunjung pada perjalanan panjang padi di Nusantara, mulai dari sejarah masuknya tanaman padi, perubahan pola pangan masyarakat, mitologi Dewi Sri, hingga keterkaitannya dengan seni, tradisi pertanian, ketahanan pangan, dan identitas budaya masyarakat Indonesia.

FESPIN 2026 tidak sekadar menawarkan kemeriahan pertunjukan dan parade payung. Festival ini mencoba menghadirkan ruang perenungan mengenai bagaimana sebuah bahan pangan dapat berkembang menjadi bagian penting dari kebudayaan dan kehidupan masyarakat.



Bagi masyarakat Indonesia saat ini, ungkapan “belum makan kalau belum makan nasi” telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Nasi bahkan kerap ditempatkan sebagai tolok ukur apakah seseorang sudah makan atau belum.

Namun, posisi nasi sebagai makanan pokok ternyata bukan sesuatu yang terjadi sejak awal peradaban masyarakat Nusantara.

Secara historis, padi bukan tanaman asli Indonesia. Sebelum budaya konsumsi beras berkembang luas, masyarakat Nusantara telah mengenal berbagai sumber pangan lain, antara lain umbi-umbian, singkong, ubi jalar, talas, serta jewawut.

Benih padi diperkirakan telah masuk ke kawasan Nusantara sekitar 1.500 sebelum Masehi melalui jalur perdagangan dan pergerakan manusia dari wilayah Asia, termasuk Tiongkok dan India. Seiring perjalanan waktu, tanaman tersebut beradaptasi dengan lingkungan Nusantara dan berkembang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Jejak keberadaan padi juga dapat ditemukan dalam berbagai peninggalan arkeologis. Temuan sekam padi di kawasan Gua Maros, Sulawesi Selatan, misalnya, menjadi salah satu bukti mengenai sejarah panjang keberadaan tanaman tersebut. Jejak sekam juga ditemukan di kawasan Candi Batujaya, Karawang, yang berasal dari rentang abad ke-7 hingga ke-13 Masehi.

Sementara itu, relief di Candi Borobudur yang menggambarkan aktivitas pertanian dan kehidupan masyarakat, termasuk keberadaan hama tikus, menunjukkan bahwa persoalan dan praktik pertanian telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa sejak berabad-abad silam.

Dari Padi Menjadi Simbol Kehidupan

Perjalanan padi kemudian tidak berhenti pada persoalan pangan. Dalam perkembangan kebudayaan Nusantara, padi memperoleh posisi simbolis yang kuat.

Masyarakat di berbagai daerah mengembangkan penghormatan terhadap figur dewi kesuburan atau dewi padi. Di Jawa, Bali, Lombok, dan sejumlah wilayah lain, sosok tersebut dikenal sebagai Dewi Sri. Dalam tradisi Sunda terdapat figur Nyi Pohaci, sementara masyarakat Bugis mengenal Sangiang Serri.

Kepercayaan terhadap figur kesuburan juga memiliki kemiripan dengan tradisi sejumlah negara Asia. Thailand mengenal Phosop, Kamboja memiliki Po Nagar, sedangkan dalam tradisi Jepang terdapat Inari yang memiliki keterkaitan dengan pertanian dan kesuburan.

Kisah-kisah tersebut memperlihatkan bahwa hubungan manusia dengan pangan tidak semata-mata bersifat ekonomi. Padi juga ditempatkan sebagai bagian dari hubungan manusia dengan alam, kehidupan, kesuburan, kerja, dan keberlangsungan generasi.

Di Nusantara, penghormatan terhadap padi kemudian melahirkan berbagai bentuk ekspresi budaya. Mulai dari ritual pertanian, tradisi panen, musik, tari, hingga sistem pengetahuan masyarakat mengenai musim dan waktu tanam.

Salah satunya tercermin dalam Pranata Mangsa, sistem penanggalan tradisional Jawa yang digunakan masyarakat agraris untuk membaca perubahan musim dan menentukan waktu yang berkaitan dengan kegiatan pertanian.

Semangat itulah yang menjadi salah satu pijakan FESPIN XIII tahun ini. Melalui tema “Catra Padi – Sepayung Dewi Sri”, festival mengajak masyarakat melihat padi bukan hanya sebagai makanan yang tersaji di meja makan, melainkan sebagai hasil dari perjalanan sejarah, pengetahuan, kreativitas, dan kerja kolektif yang berlangsung selama ribuan tahun.

Parade Payung hingga Pasar Kreatif

Rangkaian FESPIN 2026 diawali dengan Parade Payung Nusantara yang menjadi salah satu daya tarik utama festival. Payung tidak hanya diposisikan sebagai benda pelindung dari panas dan hujan, tetapi diolah menjadi medium ekspresi seni dan simbol kebudayaan.

Kemeriahan kemudian berlanjut di area Pasar Festival. Ruang ini mempertemukan berbagai potensi ekonomi kreatif masyarakat melalui pameran produk craft dan fashion.

Sejumlah UMKM dan komunitas turut mengambil bagian dengan membawa produk-produk kreatif yang merepresentasikan kekayaan lokal. Kehadiran pelaku usaha kreatif tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana festival dapat menjadi ruang pertemuan antara seni, budaya, masyarakat, dan aktivitas ekonomi.

Nuansa internasional juga hadir melalui partisipasi artisan asal Jepang, Sachiyo Sakakibara, yang menampilkan karya desain fashion dalam rangkaian festival.

Pengunjung juga dapat menikmati Pasar Kuliner yang menghadirkan beragam pilihan makanan. Keberadaan area kuliner menjadi bagian penting dari pengalaman festival, sekaligus membuka ruang bagi produk pangan lokal untuk bertemu dengan masyarakat yang lebih luas.

150 Grup Seni Ramaikan Panggung Pertunjukan

Sektor seni pertunjukan menjadi bagian penting dari FESPIN XIII. Sebanyak sekitar 150 grup seni dari berbagai daerah di Indonesia dijadwalkan mengambil bagian dalam rangkaian pertunjukan.

Peserta datang dari berbagai kota dan wilayah, antara lain Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Tangerang Selatan, Sulawesi Selatan, Bogor, Bandar Lampung, Samarinda, Banyuasin di Sumatera Selatan, Malang, Pasuruan, Yogyakarta, Cilacap, serta sejumlah daerah lainnya.

Keragaman peserta tersebut memperlihatkan bahwa FESPIN tidak hanya menjadi panggung bagi komunitas seni dari Solo dan sekitarnya. Festival berkembang menjadi ruang pertemuan berbagai kelompok seni dari lintas daerah.

Tari, musik, hingga dance fashion akan menjadi bagian dari pertunjukan yang mewarnai suasana festival.

Melalui panggung tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga dapat melihat bagaimana tema padi diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa artistik.

Diplomasi Budaya Asia dalam Satu Panggung

Salah satu agenda yang menjadi perhatian dalam FESPIN 2026 adalah program Diplomasi Budaya Asia.

Program tersebut mempertemukan delegasi dari sejumlah negara Asia melalui ekspresi busana dan seni pertunjukan. Empat negara, yakni Indonesia, Thailand, Korea Selatan, dan India, akan hadir melalui kekayaan busana tradisional masing-masing.

Indonesia membawa kebaya, Thailand menampilkan busana khasnya, Korea Selatan menghadirkan hanbok, sedangkan India memperkenalkan sari.

Keempat unsur busana tradisional tersebut akan dipertemukan dalam sebuah fashion show yang menggambarkan keberagaman budaya Asia. Perbedaan bentuk, warna, bahan, dan karakter busana justru menjadi kekuatan untuk memperlihatkan kekayaan identitas masing-masing negara.

Selain fashion show, seniman Korea Selatan Hueng Won Lee akan menampilkan karya tari tunggal.

Kehadiran seniman dan delegasi internasional ini menempatkan festival bukan hanya sebagai agenda kesenian lokal, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan budaya antarnegara.

Seni rupa turut mendapat ruang melalui pameran sekitar 250 karya seni anak-anak dan remaja dari Korea, India, Mongolia, Polandia, Jepang, dan Vietnam.

Kegiatan tersebut dilengkapi dengan Workshop Lukis Kipas Korea, yang membuka kesempatan bagi pengunjung untuk mengenal seni dan tradisi kreatif dari negara tersebut secara lebih dekat.

Festival sebagai Ruang Belajar

FESPIN XIII juga mengembangkan konsep festival sebagai ruang edukasi dan literasi.

Salah satu pusat kegiatan edukasi berada di Stand Rumah Padi, yang menghadirkan sejumlah diskusi, sarasehan, dan workshop dengan berbagai tema.

Program tersebut antara lain membahas sejarah padi di Nusantara melalui sarasehan yang menghadirkan Temanggung Heritage. Ada pula workshop bubur sorgum yang memperkenalkan alternatif sumber pangan, sarasehan bertema “Dari Sawah ke Meja Makan”, serta workshop pembuatan pupuk organik cair.

Agenda edukasi tersebut memperluas perspektif festival. Pengunjung tidak hanya diajak melihat hasil kreativitas, tetapi juga memahami proses di balik pangan, pertanian, lingkungan, dan kehidupan masyarakat.

Isu ekonomi kreatif juga mendapat perhatian melalui workshop “Naik Kelas Lewat Festival: Strategi Branding & Promosi Produk di Era Experience Economy” yang menghadirkan Vega Viditama.

Pembahasan tersebut menjadi relevan bagi pelaku UMKM dan komunitas kreatif yang ingin memanfaatkan festival sebagai ruang untuk memperkenalkan sekaligus memperkuat identitas produk.

Festival pada akhirnya tidak hanya menjadi tempat untuk berjualan atau mempertontonkan karya, tetapi juga dapat menjadi ruang membangun pengalaman, memperluas jejaring, serta memperkenalkan cerita di balik sebuah produk.

Memperkuat Jejaring Festival dan Diplomasi Budaya

Semangat membangun jejaring juga hadir melalui Sister Festival Talkshow bertajuk “Dari Jejaring Kerja Festival Menuju Diplomasi Budaya dan Kolaborasi Global.”

Forum tersebut membicarakan bagaimana festival dapat menjadi sarana untuk mempertemukan berbagai komunitas, lembaga, seniman, pengelola festival, hingga masyarakat lintas negara.

Warisan budaya dinilai memiliki kemampuan untuk membuka ruang komunikasi yang lebih luas. Dari perjumpaan tersebut dapat tumbuh kolaborasi di bidang seni, pariwisata, ekonomi kreatif, pendidikan, hingga pengembangan jejaring internasional.

FESPIN juga menghadirkan Festival Futures Forum, sebuah forum yang mempertemukan pengelola festival untuk bertukar pengalaman dan gagasan mengenai masa depan festival.

Forum tersebut diikuti oleh pengelola Festival Cisadane, Asia Africa Festival, dan Atourin.

Pembahasan tidak hanya berkutat pada bagaimana festival diselenggarakan, tetapi juga bagaimana festival dapat tumbuh sebagai ekosistem kebudayaan yang memberikan dampak nyata terhadap masyarakat.

Aspek ekonomi kreatif, pariwisata, diplomasi budaya, jejaring internasional, hingga keberlanjutan lingkungan menjadi bagian dari pembicaraan.

Sebagai pelengkap, Festival Futures Forum juga menghadirkan ruang pameran dokumentasi festival. Foto, poster, dan berbagai materi visual menjadi arsip perjalanan festival sekaligus memperlihatkan bagaimana sebuah perhelatan budaya dapat tumbuh dari waktu ke waktu.

Buku Kelima dan Gerakan Literasi

Selain panggung pertunjukan dan pameran, FESPIN XIII juga membawa misi literasi.

Pada penyelenggaraan tahun ini akan diluncurkan buku kelima berjudul “Catra Padi, Kumpulan Dewa Dewi Kesuburan.”

Buku tersebut merupakan hasil kolaborasi 47 partisipan penulis. Kehadirannya memperkuat posisi festival sebagai ruang produksi pengetahuan, bukan sekadar tempat pertunjukan.

Tema mengenai dewa dan dewi kesuburan menjadi relevan dengan gagasan utama festival. Cerita tentang padi tidak hanya dapat dilihat melalui perspektif pertanian, tetapi juga melalui mitologi, sejarah, antropologi, seni, dan kehidupan masyarakat.

Penerbitan buku tersebut sekaligus menjadi bentuk dokumentasi pengetahuan agar cerita dan pemaknaan terhadap pangan serta kebudayaan tidak berhenti pada sebuah acara festival.

Belajar dari Padi tentang Kesabaran dan Proses

Di balik kemeriahan parade, pertunjukan, pameran, pasar, dan berbagai agenda internasional, FESPIN XIII membawa pesan yang lebih luas.

Padi menjadi metafora mengenai proses.

Seperti tanaman padi yang membutuhkan benih, tanah, air, perawatan, waktu, serta kerja manusia sebelum akhirnya menghasilkan bulir yang dapat dikonsumsi, kebudayaan juga tidak lahir dalam satu malam.

Identitas sebuah bangsa terbentuk melalui perjalanan panjang. Ada proses perjumpaan, pertukaran, adaptasi, penerimaan, dan penciptaan ulang yang terus berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu, masyarakat diajak untuk tidak hanya memandang nasi sebagai hasil akhir yang berada di atas piring. Di balik sepiring nasi terdapat sejarah panjang mengenai perpindahan manusia, perkembangan pertanian, pengetahuan lokal, ritual, mitologi, kerja petani, hingga kebijakan pangan.

Pesan tersebut menjadi semakin penting ketika ketahanan pangan menjadi bagian dari pembicaraan mengenai masa depan bangsa.

FESPIN 2026 berupaya menghadirkan kesadaran bahwa membicarakan pangan berarti juga membicarakan budaya. Menjaga pangan berarti menjaga pengetahuan dan tradisi yang mengiringinya. Sementara menghargai petani berarti menghargai proses panjang yang membuat makanan dapat sampai ke meja makan.

Pada akhirnya, “Catra Padi – Sepayung Dewi Sri” bukan hanya sebuah tema festival, melainkan ajakan untuk melihat kembali hubungan manusia dengan pangan, alam, sejarah, dan kebudayaan.

Melalui seni, festival mempertemukan masa lalu dengan masa kini. Melalui edukasi, masyarakat diajak memahami proses yang berada di balik sebuah tradisi. Sementara melalui diplomasi budaya, Solo menjadi ruang perjumpaan masyarakat dari berbagai wilayah Indonesia dan negara-negara Asia.

Festival Payung Indonesia XIII pun hadir sebagai sebuah perayaan yang menggabungkan seni, tradisi, ekonomi kreatif, literasi, pendidikan, dan jejaring budaya dalam satu ruang.

Selama tiga hari, 4–6 September 2026, Taman Balekambang, Solo, menjadi ruang bertemunya berbagai gagasan dan ekspresi budaya.

Di tengah payung-payung yang menghiasi festival, tersimpan pesan sederhana namun mendalam: setiap hasil yang dinikmati hari ini selalu memiliki sejarah panjang di belakangnya.

Begitu pula dengan nasi di atas piring. Ia bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari perjalanan kebudayaan yang terus tumbuh dan diwariskan.

Melalui FESPIN XIII, masyarakat diajak untuk kembali menghargai perjalanan tersebut dari benih hingga padi, dari padi hingga nasi, dan dari tradisi hingga identitas budaya yang membentuk Indonesia hari ini.(Cahyospirit)












Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar