Tim Rescue Exalos Indonesia Tangani King Kobra Hasil Evakuasi Damkar di Tondomulo Bojonegoro
BOJONEGORO KMR — Upaya penyelamatan satwa liar kembali dilakukan di wilayah Kabupaten Bojonegoro. Seekor king kobra yang berhasil dievakuasi oleh tim pemadam kebakaran (Damkar) Kabupaten Bojonegoro dari kawasan Desa Tondomulo, Kecamatan Kedungadem, kemudian mendapat penanganan lanjutan dari tim rescue EXALOS INDONESIA.
Penanganan tersebut dilakukan setelah tim Damkar Kabupaten Bojonegoro mempercayakan proses tindak lanjut terhadap ular berbisa tersebut kepada tim rescue EXALOS INDONESIA yang terdiri dari Eko Exbr dan Mardam.
Keberadaan king kobra di sekitar wilayah permukiman menjadi perhatian karena satwa tersebut termasuk salah satu jenis ular berbisa dengan kemampuan pertahanan yang tinggi. Penanganan terhadap ular semacam ini membutuhkan keahlian, perlengkapan yang memadai, serta kehati-hatian agar tidak membahayakan petugas maupun masyarakat di sekitar lokasi.
Tim EXALOS INDONESIA menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada jajaran Damkar Kabupaten Bojonegoro atas kepercayaan yang diberikan dalam penanganan lanjutan satwa hasil rescue tersebut.
“Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih kepada tim Damkar Kabupaten Bojonegoro yang telah mempercayakan tindak lanjut penanganan king kobra hasil rescue di Desa Tondomulo, Kecamatan Kedungadem, Bojonegoro kepada tim rescue EXALOS INDONESIA,” demikian apresiasi yang disampaikan tim.
King kobra merupakan salah satu ular yang dikenal memiliki ukuran tubuh besar dan kemampuan berbisa yang sangat kuat. Satwa ini dikenal aktif pada siang hari dan umumnya lebih banyak beraktivitas di permukaan tanah. Meski demikian, king kobra juga memiliki kemampuan memanjat yang baik sehingga dapat ditemukan di berbagai kondisi lingkungan.
Secara umum, warna tubuh king kobra dapat terlihat cokelat zaitun hingga kehitaman. Pada individu yang masih muda, tubuh biasanya memiliki pola belang atau warna pucat yang lebih jelas. Seiring bertambahnya usia, pola tersebut dapat berkurang atau memudar sehingga warna tubuh ular dewasa tampak lebih seragam.
King kobra juga memiliki perilaku pertahanan yang khas ketika merasa terancam. Ular dapat mengangkat bagian depan tubuhnya, kemudian melebarkan bagian leher menyerupai tudung. Dalam kondisi tersebut, ular biasanya memberikan peringatan dengan suara desisan yang cukup keras.
Perilaku tersebut merupakan bentuk pertahanan dan peringatan. Karena itu, masyarakat yang menemukan ular dengan karakteristik seperti king kobra tidak dianjurkan melakukan tindakan sendiri, terlebih mencoba menangkap, memukul, atau mengejar ular tersebut.
Keberadaan king kobra di alam tidak terlepas dari rantai makanan. Ular ini dikenal sebagai predator yang banyak memangsa ular lainnya. Dengan demikian, keberadaannya mempunyai fungsi tersendiri dalam menjaga keseimbangan ekosistem.
Habitat king kobra cukup beragam. Satwa ini dapat ditemukan di kawasan hutan, kebun, area dengan vegetasi rapat, kebun bambu, tepian sungai, hingga lingkungan yang berada tidak jauh dari permukiman manusia.
Pertemuan antara manusia dan satwa liar dapat terjadi ketika habitat atau jalur pergerakan satwa berada berdekatan dengan aktivitas masyarakat. Kondisi lingkungan, ketersediaan makanan, serta perubahan habitat dapat menjadi sejumlah faktor yang membuat satwa liar masuk atau terlihat di sekitar kawasan yang dihuni manusia.
Karena itu, penanganan satwa liar perlu mengutamakan keselamatan sekaligus memperhatikan aspek konservasi. Ular yang ditemukan sebaiknya tidak langsung dibunuh apabila masih memungkinkan untuk dilakukan evakuasi secara aman oleh pihak yang memiliki kemampuan menangani satwa tersebut.
King kobra termasuk ular yang memiliki bisa dengan efek serius terhadap tubuh manusia. Racunnya terutama dapat memengaruhi sistem saraf dan fungsi otot. Dalam kasus gigitan yang berat, gangguan tersebut dapat berkembang menjadi kelemahan otot, kelumpuhan, hingga gangguan pernapasan.
Masyarakat perlu memahami bahwa gigitan ular berbisa merupakan kondisi darurat medis. Penanganan tidak boleh ditunda hanya karena luka gigitan terlihat kecil atau korban pada awalnya belum merasakan gejala berat.
Beberapa tanda yang dapat muncul setelah gigitan ular berbisa antara lain kelopak mata turun, gangguan atau penglihatan ganda, kesulitan menelan, kelemahan otot, serta gangguan pernapasan. Tingkat keparahan gejala dapat berbeda-beda pada setiap korban.
Apabila seseorang diduga terkena gigitan king kobra atau ular berbisa lainnya, langkah paling penting adalah segera mendapatkan pertolongan medis. Korban harus dibawa ke fasilitas kesehatan secepat mungkin agar dapat dilakukan pemeriksaan dan penanganan sesuai kondisi, termasuk pemberian antivenom apabila memang diperlukan serta dukungan pernapasan bila terjadi gangguan fungsi pernapasan.
Masyarakat juga perlu menghindari tindakan yang berpotensi memperburuk kondisi korban. Jangan mencoba mengisap bisa dari luka, menyayat bagian yang terkena gigitan, atau melakukan tindakan tradisional yang tidak memiliki dasar medis.
Temuan king kobra di lingkungan masyarakat seharusnya menjadi pengingat bahwa interaksi dengan satwa liar membutuhkan kewaspadaan. Ular yang merasa terpojok atau terancam dapat melakukan tindakan pertahanan.
Apabila masyarakat menemukan ular yang diduga berbisa, langkah yang paling aman adalah menjaga jarak, menjauhkan anak-anak serta hewan peliharaan dari lokasi, dan segera menghubungi petugas atau tim rescue yang memiliki pengalaman dalam penanganan ular.
Masyarakat juga diimbau tidak berkerumun di sekitar ular hanya untuk mengambil foto atau video dari jarak dekat. Pergerakan orang yang terlalu banyak dapat membuat ular merasa terancam dan meningkatkan risiko terjadinya serangan.
Kejadian di Desa Tondomulo menjadi salah satu contoh pentingnya kolaborasi antara petugas pemadam kebakaran dan komunitas rescue dalam merespons keberadaan satwa liar di sekitar masyarakat.
Penanganan yang dilakukan secara terukur bukan hanya bertujuan melindungi warga dari potensi bahaya, tetapi juga memberikan kesempatan bagi satwa untuk ditangani dengan cara yang lebih aman dan bertanggung jawab.
Selain melakukan penyelamatan, edukasi mengenai ular juga menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman masyarakat. Tidak semua ular harus dianggap sebagai hewan yang harus dibunuh. Sebagian besar ular memiliki peran ekologis dan justru membantu mengendalikan populasi satwa lain(Eko Tito/Pimred Cahyospirit)
