BREAKING NEWS
🍃 🌿 🍃
🌱 PENGEN INFORMASI SEPUTAR AGROTECH?
Kunjungi agrotechindonesia.com
🌾 Membangun Pertanian Cerdas dan Berkelanjutan
👆 KLIK DI SINI

Mengapa Ular Kian Sering Muncul di Sekitar Permukiman? Adaptasi Satwa Liar di Tengah Aktivitas Manusia

Fenomena meningkatnya kemunculan ular di sekitar manusia pada dasarnya merupakan cerminan dari perubahan lingkungan yang terus berlangsung.

koranmediarakyat.com  – Kemunculan ular di lingkungan permukiman dalam beberapa tahun terakhir semakin sering menjadi perhatian masyarakat. Mulai dari ular sanca yang ditemukan di plafon rumah, ular koros yang bersembunyi di tumpukan barang, hingga kobra yang memasuki pekarangan warga, seluruh kejadian tersebut memunculkan pertanyaan yang sama: mengapa ular semakin dekat dengan kehidupan manusia?

Para peneliti menjelaskan bahwa fenomena ini bukanlah peristiwa yang terjadi secara kebetulan. Banyak spesies ular yang dijumpai di kawasan permukiman termasuk ke dalam kelompok satwa sinantropik, yaitu hewan liar yang mampu beradaptasi dengan lingkungan hasil aktivitas manusia. Satwa ini tidak dipelihara ataupun dijinakkan, tetapi memanfaatkan perubahan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Lingkungan perkotaan maupun perdesaan yang telah berkembang justru menyediakan berbagai sumber daya yang dibutuhkan ular. Salah satu faktor terpenting adalah melimpahnya mangsa. Keberadaan manusia sering kali diikuti dengan meningkatnya populasi tikus, katak, burung kecil, hingga ikan di kolam atau tambak. Hewan-hewan tersebut merupakan sumber makanan utama bagi banyak jenis ular, sehingga kawasan permukiman menjadi lokasi berburu yang menguntungkan.

Selain makanan yang melimpah, lingkungan buatan manusia juga menyediakan banyak tempat persembunyian. Gudang yang jarang dibersihkan, tumpukan material bangunan, saluran drainase, semak di sekitar rumah, plafon, kolong bangunan, hingga selokan menjadi lokasi ideal bagi ular untuk beristirahat maupun menghindari predator. Kondisi tersebut diperkuat dengan adanya sumber air yang relatif stabil, baik dari saluran irigasi, drainase, maupun genangan air yang sering ditemukan di sekitar permukiman.

Faktor lain yang turut memengaruhi adalah kondisi suhu dan kelembapan. Sebagai hewan berdarah dingin, ular sangat bergantung pada suhu lingkungan untuk mengatur metabolisme tubuhnya. Celah bangunan, bebatuan, maupun area yang teduh sering memberikan kondisi mikroklimat yang sesuai sehingga menjadi tempat favorit bagi berbagai spesies ular.

Di sisi lain, penyusutan habitat alami akibat alih fungsi lahan, pembangunan kawasan permukiman, hingga pembukaan hutan menyebabkan ruang hidup satwa liar semakin sempit. Kondisi tersebut memaksa sebagian spesies beradaptasi dengan lingkungan yang telah didominasi manusia. Akibatnya, peluang pertemuan antara manusia dan ular pun meningkat dari waktu ke waktu.

Penelitian terbaru oleh Zakky dan rekan-rekannya pada tahun 2025 mencatat sedikitnya 36 spesies ular sinantropik yang ditemukan di kawasan perkotaan Indonesia. Beberapa spesies yang paling sering dijumpai di antaranya adalah Naja sputatrix (kobra jawa), Bungarus candidus (weling), Lycodon capucinus (ular serasah rumah), Malayopython reticulatus (sanca batik), serta Ptyas mucosa atau ular tikus. Keberadaan spesies-spesies tersebut menunjukkan kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perubahan lingkungan akibat aktivitas manusia.

Meski demikian, keberadaan ular tidak selalu membawa dampak negatif. Dalam ekosistem, ular memiliki peran penting sebagai predator alami yang membantu mengendalikan populasi tikus dan hewan pengerat lainnya. Peran tersebut secara tidak langsung dapat mengurangi kerusakan tanaman pertanian serta menekan penyebaran penyakit yang ditularkan oleh tikus.

Namun, manfaat ekologis tersebut juga diiringi dengan meningkatnya potensi konflik antara manusia dan satwa liar. Risiko terbesar muncul ketika spesies berbisa tinggi seperti kobra dan weling memasuki area permukiman. Kedua jenis ular tersebut memiliki bisa yang berbahaya sehingga memerlukan penanganan khusus apabila ditemukan di sekitar rumah.

Sebagian besar ular sinantropik juga bersifat nokturnal atau lebih aktif pada malam hari. Aktivitas yang berlangsung ketika kondisi gelap membuat keberadaan mereka sering tidak disadari masyarakat. Tidak sedikit kasus gigitan ular terjadi ketika seseorang menginjak ular secara tidak sengaja di halaman, kebun, maupun di dalam rumah pada malam hari.

Para ahli menyarankan masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan sebagai langkah pencegahan. Mengurangi populasi tikus, menutup celah yang memungkinkan ular masuk ke rumah, membersihkan tumpukan barang yang tidak terpakai, memangkas semak di sekitar bangunan, serta memperbaiki saluran drainase dapat mengurangi peluang ular menjadikan lingkungan permukiman sebagai habitatnya.

Apabila menemukan ular di dalam rumah atau pekarangan, masyarakat diimbau untuk tidak panik maupun mencoba menangkapnya tanpa pengetahuan dan peralatan yang memadai. Langkah paling aman adalah menjaga jarak, mengawasi lokasi keberadaan ular, kemudian menghubungi petugas pemadam kebakaran, komunitas penyelamat satwa, atau pihak berwenang yang memiliki kompetensi dalam evakuasi ular.

Fenomena meningkatnya kemunculan ular di sekitar manusia pada dasarnya merupakan cerminan dari perubahan lingkungan yang terus berlangsung. Kehadiran mereka bukan semata-mata karena ular mencari manusia, melainkan karena lingkungan yang dibangun manusia telah menyediakan sumber makanan, tempat berlindung, serta kondisi yang mendukung kelangsungan hidup mereka. Memahami perilaku ular dan menjaga keseimbangan lingkungan menjadi langkah penting untuk meminimalkan konflik sekaligus menjaga kelestarian satwa liar di Indonesia.(Eko Tito/Pimred Cahyospirit)


















Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar