BREAKING NEWS
🍃 🌿 🍃
🌱 PENGEN INFORMASI SEPUTAR AGROTECH?
Kunjungi agrotechindonesia.com
🌾 Membangun Pertanian Cerdas dan Berkelanjutan
👆 KLIK DI SINI

Kemarau Panjang Mengancam Produktivitas Pertanian di Tirtomoyo, Petani Keluhkan Kekurangan Air dan Serangan Hama

Minimnya ketersediaan air membuat sejumlah petani kesulitan mempertahankan kondisi tanaman mereka

Tirtomoyo, Wonogiri KMR— Kemarau panjang mulai memberikan tekanan serius terhadap sektor pertanian di Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri. Minimnya ketersediaan air membuat sejumlah petani kesulitan mempertahankan kondisi tanaman mereka. Jika berlangsung dalam waktu lama, kekeringan tidak hanya berpotensi menurunkan hasil panen, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi tanah dan keberlanjutan kegiatan pertanian masyarakat,Kamis(20/8).

Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh petani yang menggantungkan penghasilan dari lahan pertanian. Tanaman yang seharusnya memasuki masa pertumbuhan dan mulai menghasilkan buah justru mengalami perkembangan yang tidak maksimal karena kebutuhan air tidak terpenuhi.

Salah satu petani yang merasakan dampak tersebut adalah Sukimin, warga Balong, Ngarjosari, Kecamatan Tirtomoyo. Ia mengaku kesulitan menghadapi kondisi lahan yang semakin membutuhkan pasokan air di tengah kemarau.

Menurut Sukimin, kondisi tanaman yang dirawatnya seharusnya sudah memasuki masa berbuah. Namun, minimnya air membuat pertumbuhan tanaman terhambat. Ia pun harus mencari berbagai cara agar tanaman tetap mendapatkan air, meskipun upaya tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Salah satu cara yang pernah dilakukan Sukimin adalah mengambil air dari sungai yang berjarak sekitar 800 meter dari lahan pertaniannya. Untuk mengalirkan air dari sumber tersebut menuju lahan, ia membutuhkan bantuan dua mesin diesel pompa air.

Upaya tersebut sempat dilakukan beberapa kali. Namun, penggunaan mesin diesel tidak dapat terus dipertahankan karena biaya sewanya cukup tinggi. Sukimin menyebut biaya sewa satu mesin diesel dapat mencapai sekitar Rp80.000 per jam.

Dengan kondisi tersebut, biaya pengairan menjadi beban tambahan bagi petani. Setelah dua kali mencoba menggunakan pompa diesel, Sukimin mengaku tidak mampu melanjutkan upaya tersebut karena harus mempertimbangkan biaya yang harus dikeluarkan.

“Tanaman seharusnya sudah masuk musim buah, tetapi karena airnya sulit, perkembangannya tidak maksimal,” keluh Sukimin.

Persoalan kekeringan di wilayah tersebut menjadi semakin berat karena sejumlah komoditas pertanian membutuhkan ketersediaan air yang cukup selama masa pertumbuhan. Padi, misalnya, merupakan salah satu tanaman pangan yang sangat membutuhkan air agar dapat tumbuh secara optimal. Ketika pasokan air berkurang, pertumbuhan tanaman dapat terganggu dan pada akhirnya berpotensi memengaruhi hasil produksi.

Selain padi, masyarakat di Kecamatan Tirtomoyo juga membudidayakan sejumlah tanaman pangan lain, seperti jagung dan kedelai. Kedua komoditas tersebut juga tidak terlepas dari dampak kondisi cuaca yang kering. Kekurangan air selama fase pertumbuhan dapat membuat perkembangan tanaman tidak optimal sehingga produktivitas berpotensi mengalami penurunan.

Bagi petani, persoalan air bukan sekadar masalah teknis pengairan. Ketersediaan air berkaitan langsung dengan biaya produksi, kondisi tanaman, hingga peluang memperoleh hasil panen yang mencukupi. Ketika sumber air berada cukup jauh dari lahan, petani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memindahkan air.

Kondisi ini menjadi dilema tersendiri. Di satu sisi, tanaman membutuhkan air agar tetap tumbuh. Di sisi lain, petani harus menghitung kemampuan finansial untuk membayar biaya sewa mesin pompa dan kebutuhan bahan bakar selama proses pengambilan air.

Sukimin menjadi salah satu gambaran bagaimana petani harus berusaha mempertahankan tanaman di tengah kondisi kekeringan. Jarak sumber air yang mencapai ratusan meter membuat pengairan secara manual menjadi pekerjaan yang tidak mudah. Sementara penggunaan mesin pompa membutuhkan biaya yang harus disesuaikan dengan kemampuan petani.

Tidak hanya menghadapi persoalan kekurangan air, petani di kawasan tersebut juga mengeluhkan gangguan hama. Tanaman yang masih berusaha tumbuh di tengah kondisi kering juga menghadapi ancaman dari tikus dan semut.

Menurut Sukimin, keluhan mengenai serangan hama tersebut juga dirasakan oleh sejumlah petani lainnya. Tikus menjadi salah satu hama yang cukup mengganggu tanaman, sementara keberadaan semut juga dikeluhkan karena dapat memengaruhi kondisi tanaman yang sedang dibudidayakan.

Persoalan tersebut membuat tantangan yang dihadapi petani menjadi berlapis. Di tengah ketersediaan air yang terbatas, mereka juga harus menghadapi gangguan organisme pengganggu tanaman. Akibatnya, perhatian dan biaya yang harus dikeluarkan petani semakin besar.

Bagi masyarakat yang menggantungkan kehidupan dari sektor pertanian, keberhasilan tanaman menjadi salah satu penentu kondisi ekonomi keluarga. Ketika tanaman tidak tumbuh dengan baik atau produktivitas menurun, pendapatan petani juga berpotensi ikut terdampak.

Kemarau panjang karena itu tidak hanya dapat dipandang sebagai persoalan cuaca. Bagi petani, kekeringan berkaitan dengan keberlangsungan produksi pangan dan penghasilan rumah tangga. Semakin panjang periode tanpa hujan, semakin besar pula kebutuhan petani untuk mencari sumber air alternatif.

Kondisi tanah juga menjadi perhatian dalam situasi kekeringan yang berlangsung lama. Minimnya kelembapan tanah dapat membuat lahan semakin sulit diolah dan membutuhkan upaya lebih besar ketika petani kembali melakukan kegiatan budidaya. Karena itu, keberadaan sumber air yang memadai menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga keberlanjutan pertanian di kawasan tersebut.

Petani berharap persoalan air dapat memperoleh perhatian sehingga mereka tidak harus menanggung seluruh biaya pengairan secara mandiri. Terlebih, kemampuan setiap petani dalam menyewa mesin pompa tentu berbeda-beda. Bagi petani dengan kemampuan ekonomi terbatas, biaya puluhan ribu rupiah setiap jam untuk pengoperasian mesin dapat menjadi pengeluaran yang berat jika harus dilakukan berulang kali.

Di tengah kondisi tersebut, petani tetap berupaya mempertahankan tanaman yang sudah mereka tanam. Tanaman yang telah dirawat sejak awal tentu tidak mudah ditinggalkan begitu saja. Namun, tanpa dukungan air yang cukup, usaha tersebut menghadapi risiko kegagalan.

Kondisi yang dialami Sukimin juga menunjukkan bahwa persoalan kekeringan perlu dilihat dari sisi petani yang berada langsung di lapangan. Bukan hanya soal ada atau tidaknya hujan, tetapi juga mengenai sejauh mana sumber air dapat dijangkau dan apakah petani memiliki kemampuan untuk membiayai proses pengairan.

Sementara itu, serangan tikus dan semut menambah pekerjaan petani dalam menjaga tanaman. Jika kondisi tersebut terus berlangsung bersamaan dengan kekeringan, petani harus menghadapi risiko berkurangnya produktivitas dari dua sisi, yakni gangguan pertumbuhan akibat kekurangan air dan kerusakan tanaman akibat hama.

Bagi petani di Tirtomoyo, musim kemarau panjang menjadi ujian tersendiri. Harapan untuk mendapatkan hasil panen yang baik harus berhadapan dengan keterbatasan air dan meningkatnya gangguan terhadap tanaman.

Kisah Sukimin menjadi salah satu potret kecil dari persoalan yang dirasakan petani di kawasan tersebut. Upaya mengambil air dari sungai yang berjarak sekitar 800 meter dengan bantuan dua mesin diesel pompa air menunjukkan besarnya usaha yang harus dilakukan untuk mempertahankan tanaman. Namun, biaya sewa mesin yang mencapai sekitar Rp80.000 per jam membuat langkah tersebut sulit dilakukan secara terus-menerus.

Di tengah kondisi itu, kebutuhan terhadap pengelolaan sumber air menjadi semakin penting. Ketersediaan air yang lebih mudah dijangkau dapat membantu petani mengurangi beban biaya sekaligus menjaga tanaman selama periode kering.

Bagi para petani, air bukan hanya kebutuhan tanaman, tetapi juga bagian penting dari keberlangsungan mata pencaharian mereka. Ketika air sulit diperoleh, dampaknya dapat merambat dari lahan pertanian hingga kondisi ekonomi keluarga.

Kemarau panjang di Tirtomoyo pun menjadi pengingat bahwa sektor pertanian sangat bergantung pada kondisi lingkungan. Ketika keseimbangan antara kebutuhan air dan ketersediaannya terganggu, petani menjadi pihak yang paling cepat merasakan dampaknya.

Dengan kondisi tanaman yang mulai terhambat pertumbuhannya serta keluhan mengenai serangan tikus dan semut, para petani kini berharap situasi tersebut tidak berlangsung semakin lama. Mereka membutuhkan kondisi yang memungkinkan tanaman tetap bertahan dan dapat menghasilkan sesuai harapan.

Bagi Sukimin dan petani lainnya, setiap tanaman yang berhasil tumbuh hingga masa panen memiliki arti penting. Karena itu, keterbatasan air dan serangan hama bukan sekadar persoalan di lahan, melainkan tantangan nyata terhadap usaha mereka dalam mempertahankan sumber penghasilan dari pertanian.(Yayok /Pimred Cahyospirit)
















Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar