BREAKING NEWS
🍃 🌿 🍃
🌱 PENGEN INFORMASI SEPUTAR AGROTECH?
Kunjungi agrotechindonesia.com
🌾 Membangun Pertanian Cerdas dan Berkelanjutan
👆 KLIK DI SINI

Kecamatan Girimarto Gelar Sosialisasi Inovasi, Dorong Potensi Desa Masuk Perencanaan 2027

 

Sekretaris kecamatan  Girimarto, Roni Imam Prabowo, S.STP., M.Si., dalam sambutan singkatnya saat membuka kegiatan menyampaikan bahwa Kecamatan Girimarto memiliki banyak potensi

Girimarto , Wonogiri KMR— Pemerintah Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri, menggelar Sosialisasi Inovasi Kecamatan yang dilanjutkan dengan rapat koordinasi pada Rabu (26/8/2026). Kegiatan berlangsung di Ruang Peringgitan Kecamatan Girimarto mulai pukul 08.30 WIB hingga selesai.

Kegiatan tersebut diikuti oleh kepala desa/lurah se-Kecamatan Girimarto serta kepala dinas dan instansi yang berada di wilayah Kecamatan Girimarto. Masing-masing desa/kelurahan juga diminta mengikutsertakan satu orang perangkat desa/kelurahan.

Sosialisasi ini menjadi bagian dari upaya mendorong pemerintah kecamatan dan desa/kelurahan untuk menggali potensi wilayah sekaligus mengembangkan inovasi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.


Sekretaris kecamatan  Girimarto, Roni Imam Prabowo, S.STP., M.Si., dalam sambutan singkatnya saat membuka kegiatan menyampaikan bahwa Kecamatan Girimarto memiliki banyak potensi yang perlu didata dan dikembangkan secara lebih terarah.

Menurutnya, hasil pemetaan potensi tersebut diharapkan dapat menjadi bahan dalam persiapan pembahasan RKPDes Tahun 2027, sehingga potensi yang dimiliki masing-masing desa tidak hanya menjadi data, tetapi dapat diterjemahkan menjadi program pembangunan.

“Girimarto memiliki banyak potensi. Maka dari itu, potensi yang ada perlu didata dan dirumuskan untuk menjadi bahan persiapan pembahasan RKPDes tahun 2027,” demikian disampaikan dalam sambutannya.

Salah satu potensi yang disoroti adalah komoditas kopi dan kakao. Kedua komoditas tersebut telah banyak dibudidayakan oleh masyarakat Girimarto. Namun, selama ini hasil produksi masih banyak dipasarkan dalam bentuk biji mentah.

Kondisi tersebut dinilai masih membuka peluang untuk menciptakan nilai tambah melalui pengembangan produk turunan. Dengan adanya inovasi pengolahan, komoditas lokal tidak hanya menjadi bahan mentah, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Sementara itu, narasumber kegiatan, Aziz Widhi Nugroho, S.H., M.H., yang merupakan Tenaga Ahli DPRD Kabupaten Wonogiri sekaligus fasilitator Kementerian BKBM, menekankan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Menurut Aziz, inovasi dapat dimulai dari ide-ide kecil dan sederhana yang kemudian dikelola secara konsisten. Apabila ide tersebut mampu dikembangkan dan memberikan manfaat, maka secara bertahap dapat tumbuh menjadi sebuah karya inovasi yang lebih besar dan memiliki dampak bagi masyarakat.

“Untuk menciptakan sebuah inovasi bisa dimulai dengan mengerjakan ide-ide kecil dan sederhana terlebih dahulu. Apabila dapat dikelola dengan baik dan dikembangkan secara konsisten, ide tersebut akan menjadi karya inovasi yang semakin besar dan berdampak,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut juga disampaikan sejumlah contoh inovasi yang telah dilaksanakan di wilayah Kecamatan Girimarto. Salah satunya adalah video inovasi DERING dari TBM Rejo Pintar, yang menjadi salah satu gambaran bahwa inovasi dapat tumbuh dari inisiatif masyarakat maupun lembaga di tingkat lokal.

Contoh lainnya adalah revitalisasi Pasar Gembol di Desa Waleng. Pasar yang memiliki nilai sejarah dan telah ada sejak sebelum kemerdekaan tersebut sempat mengalami penurunan aktivitas seiring perkembangan zaman.

Melalui inovasi Konektivitas Wisata, Pasar Gembol dikembangkan dengan menghubungkan ekosistem jual beli pasar tradisional dengan kawasan wisata air di sekitar embung. Konsep tersebut menunjukkan bahwa potensi lama tidak harus ditinggalkan, tetapi dapat dihidupkan kembali melalui pendekatan dan konektivitas baru.

Berbagai contoh tersebut diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pemerintah desa, kelurahan, maupun masyarakat untuk lebih berani mengidentifikasi persoalan dan potensi yang ada di lingkungan masing-masing, kemudian mengubahnya menjadi gagasan yang dapat dikerjakan.

Dalam pemaparannya, Aziz juga menyoroti tantangan yang kerap muncul dalam pengembangan inovasi di tingkat desa. Salah satunya adalah ketika sebuah desa sebenarnya memiliki potensi, tetapi belum memiliki kemauan untuk mengembangkan maupun mengolaborasikannya dengan pihak lain.

Kegiatan pembangunan juga jangan sampai berhenti pada kegiatan seremonial yang hanya dilakukan sebagai pelengkap laporan. Jika tidak dikembangkan dan memberikan dampak setelah kegiatan selesai, inovasi tersebut berisiko menjadi sekadar “patung” ada secara fisik atau tercatat dalam laporan, tetapi tidak benar-benar hidup dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Persoalan "dilema fiskal" juga menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan inovasi desa. Namun, keterbatasan anggaran bukan berarti seluruh gagasan harus berhenti.

Pengembangan kegiatan dapat dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, BUMD, maupun perusahaan swasta. Dalam skema tersebut, dana desa tidak harus menjadi satu-satunya sumber pembiayaan, tetapi dapat digunakan secara strategis untuk menekan biaya atau menjadi pemantik awal sebuah kegiatan.

Karena itu, desa perlu memberikan ruang yang cukup bagi masyarakat untuk tumbuh dan melahirkan inovasi dari lingkungan mereka sendiri.

Dalam konteks tersebut, peran kepala desa dinilai penting, terutama dalam memberikan motivasi dan membuka ruang bagi masyarakat untuk mencoba. Masyarakat desa juga didorong untuk tidak ragu menampilkan potensi yang dimiliki. Sebuah potensi tidak harus langsung besar untuk dapat dikembangkan. “Jangan melihat potensi itu masih kecil. Masyarakat harus berani mencoba dan mulai percaya diri,” menjadi salah satu pesan yang mengemuka dalam kegiatan tersebut.

Semangat tersebut menjadi penting karena inovasi pada dasarnya tidak selalu lahir dari fasilitas yang besar. Banyak inovasi justru berawal dari persoalan sederhana, potensi lokal, atau gagasan masyarakat yang kemudian dikerjakan secara konsisten.

Setelah sesi sosialisasi inovasi, kegiatan dilanjutkan dengan rapat koordinasi. Dalam forum tersebut, dinas dan instansi diminta menyampaikan program kegiatan masing-masing untuk kemudian diketahui dan dikoordinasikan bersama di tingkat Kecamatan Girimarto.

Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kecamatan Girimarto mendorong agar inovasi tidak berhenti sebatas gagasan. Potensi lokal yang telah teridentifikasi diharapkan dapat masuk dalam pembahasan perencanaan pembangunan desa dan dikembangkan secara bertahap melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, serta berbagai pihak terkait.

Dengan demikian, potensi seperti kopi, kakao, pertanian, maupun berbagai potensi lainnya di Girimarto dapat memiliki nilai tambah sekaligus membuka peluang baru bagi pengembangan ekonomi masyarakat di tingkat desa.(Fery/Pimred Cahyospirit)














Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar