BREAKING NEWS
SPACE IKLAN INI DISEWAKAN
untuk informasi hubungi Dewan Redaksi 0877-9361-6743

Unik,Gamelan Iringi Perpisahan Mahasiswa Australia di Wonogiri

mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) STAI Mulia Astuti (STAIMAS) Wonogiri, dan mahasiswa dari University of Sydney, Australia

WONOGIRI KMR– Alunan gamelan mengisi suasana malam di Rumah Seni Kridha Anganto, Dusun Sanan, Desa Waru, Rabu (22/7/2026). Denting kenong, saron, dan bonang menjadi saksi pertemuan hangat antara seniman lokal, mahasiswa Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) STAI Mulia Astuti (STAIMAS) Wonogiri, dan mahasiswa dari University of Sydney, Australia, yang sedang mengikuti program studi lapangan di Indonesia.

Malam itu menjadi momen spesial karena sekaligus menjadi pertemuan terakhir sebelum rombongan mahasiswa Australia melanjutkan perjalanan akademiknya ke Yogyakarta. Selama sekitar dua pekan berada di Indonesia, mereka mempelajari bahasa, kehidupan masyarakat, serta beragam budaya lokal, termasuk seni karawitan di Desa Waru.


Di Rumah Seni Kridha Anganto, para mahasiswa tidak hanya menyaksikan pertunjukan gamelan, tetapi juga diajak mencoba memainkan berbagai instrumen secara langsung. Para seniman dengan sabar mengenalkan fungsi setiap alat musik sekaligus membimbing cara memegang tabuh dan memainkan gamelan agar menghasilkan irama yang selaras.

Mahasiswa KPM STAIMAS Wonogiri turut berperan dalam kegiatan tersebut. Mereka membantu menjembatani komunikasi antara seniman lokal dan mahasiswa Australia, menerjemahkan penjelasan mengenai gamelan, sekaligus mendampingi proses belajar selama latihan berlangsung.

Suasana terasa akrab sejak awal. Sesekali tawa pecah ketika nada yang dimainkan belum tepat, namun hal itu justru mencairkan suasana. Perbedaan bahasa tidak menjadi penghalang. Melalui musik, seluruh peserta dapat berinteraksi dan belajar bersama dengan penuh antusias.

Bagi mahasiswa University of Sydney, pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian paling berkesan selama berada di Wonogiri. Mereka tidak hanya mengenal gamelan sebagai warisan budaya Indonesia, tetapi juga menyaksikan secara langsung nilai kebersamaan, gotong royong, dan keramahan masyarakat desa yang masih terjaga.

Sementara itu, salah satu mahasiswa KPM, Sita Thobiatu Nur Karimah menuturkan, bagi mahasiswa KPM STAIMAS Wonogiri, kesempatan mendampingi mahasiswa internasional menjadi pengalaman yang tak kalah berharga. Selain melatih kemampuan komunikasi lintas budaya, mereka juga ikut memperkenalkan kekayaan seni tradisional Indonesia kepada tamu dari mancanegara.

Kegiatan di Desa Waru menjadi penutup rangkaian kunjungan mahasiswa University of Sydney di Wonogiri. Sebelumnya mereka juga mengunjungi sejumlah daerah, seperti Demak dan Jepara, untuk mempelajari sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat Indonesia.

Saat latihan karawitan berakhir dan satu per satu peserta berpamitan, tersisa kesan hangat yang sulit dilupakan. Pertemuan sederhana di sebuah rumah seni di Desa Waru itu menjadi bukti bahwa budaya mampu menghadirkan ruang dialog yang akrab, mempertemukan orang-orang dari latar belakang berbeda dalam semangat saling belajar dan menghargai.

Denting gamelan yang mengiringi malam perpisahan itu mungkin telah usai, namun pengalaman yang terjalin di Desa Waru akan menjadi kenangan yang terus dibawa pulang oleh para mahasiswa Australia. Dari sebuah desa di Wonogiri, mereka belajar bahwa budaya bukan sekadar warisan, melainkan jembatan yang mampu menghubungkan manusia dari berbagai penjuru dunia. (Sandi Dwi Yulianto/Pimpred Cahyospirit)















Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar