Poster Salah tentang Ciri Ular Berbisa Masih Beredar, Ahli Ingatkan Masyarakat Jangan Mudah Percaya
Koranmediarakyat.com -Sebuah poster yang mengklaim dapat membedakan ular berbisa dan tidak berbisa hanya dari beberapa ciri fisik kembali beredar luas di media sosial. Poster tersebut banyak dibagikan tanpa disertai sumber ilmiah yang jelas, bahkan digunakan sebagai konten untuk menarik perhatian dan meningkatkan jumlah penonton atau interaksi. Sayangnya, informasi yang disampaikan justru berpotensi menyesatkan dan dapat membahayakan masyarakat apabila dijadikan pedoman saat berhadapan dengan ular di alam.
Para pemerhati dan pemerhati konservasi reptil mengingatkan bahwa tidak ada rumus sederhana untuk menentukan apakah seekor ular berbisa atau tidak hanya berdasarkan bentuk kepala, bentuk pupil, warna tubuh, maupun postur tubuhnya. Hampir seluruh ciri yang sering disebut dalam poster tersebut memiliki banyak pengecualian sehingga tidak layak dijadikan acuan keselamatan.
Salah satu informasi yang paling sering disalahpahami adalah anggapan bahwa ular berkepala segitiga pasti berbisa. Faktanya, bentuk kepala bukanlah penentu tingkat bisa seekor ular. Banyak ular yang tidak berbisa dapat terlihat memiliki kepala berbentuk segitiga, baik karena bentuk anatominya maupun karena sedang menunjukkan perilaku defensif. Sebaliknya, sejumlah ular berbisa justru memiliki kepala yang tampak oval atau tidak begitu berbeda dengan lehernya.
Kesalahan lain adalah anggapan bahwa ular dengan pupil vertikal pasti berbisa. Kenyataannya, bentuk pupil lebih berkaitan dengan adaptasi terhadap aktivitas harian dan kondisi pencahayaan daripada tingkat bisa. Sejumlah ular berbisa yang sangat dikenal di Indonesia, seperti kobra, king kobra, welang, dan weling, justru memiliki pupil berbentuk bulat. Oleh karena itu, bentuk pupil sama sekali tidak dapat dijadikan patokan tunggal untuk mengidentifikasi ular berbisa.
Poster tersebut juga menyebutkan bahwa warna tubuh yang mencolok merupakan tanda ular berbisa. Pernyataan ini juga keliru. Banyak ular tidak berbisa memiliki warna yang sangat cerah sebagai bentuk kamuflase atau mimikri, sementara tidak sedikit ular berbisa yang justru memiliki warna kusam sehingga mudah menyatu dengan lingkungan sekitarnya.
Demikian pula dengan bentuk tubuh. Tubuh gemuk ataupun ramping tidak memiliki hubungan langsung dengan ada atau tidaknya bisa. Ada ular berbisa yang bertubuh ramping, seperti ular cabai, sementara ular sanca yang bertubuh besar dan kekar justru tidak berbisa. Hal ini kembali menunjukkan bahwa penilaian berdasarkan satu ciri fisik sangat berisiko menimbulkan kesalahan identifikasi.
Lalu bagaimana cara yang benar membedakan ular berbisa dan tidak berbisa?
Jawabannya adalah tidak ada satu ciri fisik sederhana yang dapat diandalkan untuk semua jenis ular. Satu-satunya cara identifikasi yang akurat adalah mengenali spesies ular tersebut dengan melihat kombinasi berbagai karakter anatomi, pola sisik, bentuk kepala, susunan sisik kepala, warna, pola tubuh, persebaran wilayah, hingga karakter biologinya. Proses ini membutuhkan pengetahuan dan pengalaman yang memadai, sehingga tidak dapat disederhanakan menjadi beberapa ciri seperti yang beredar di media sosial.
Di Indonesia sendiri terdapat banyak contoh yang membuktikan bahwa anggapan tersebut tidak benar. Kobra merupakan ular dengan bisa tinggi, namun kepalanya tidak selalu berbentuk segitiga dan memiliki pupil bulat. Welang dan weling juga merupakan ular dengan bisa yang sangat kuat, tetapi memiliki tubuh ramping dan kepala yang relatif kecil. Sebaliknya, ular sanca tidak berbisa meskipun kepalanya sering tampak berbentuk segitiga dan memiliki pupil vertikal.
Karena itu, pendekatan yang paling aman bukanlah menebak tingkat bahaya ular berdasarkan penampilannya, melainkan menerapkan prinsip kehati-hatian setiap kali menjumpai ular liar.
Masyarakat disarankan untuk selalu menganggap semua ular liar berpotensi membahayakan hingga dapat dipastikan spesiesnya oleh orang yang benar-benar kompeten. Jangan pernah mencoba memegang, menangkap, atau mendekati ular hanya karena terlihat "tidak berbisa". Kesalahan identifikasi dapat berakibat fatal.
Apabila identifikasi diperlukan, fokuslah pada pengenalan spesies secara menyeluruh, bukan hanya satu atau dua ciri fisik. Jika seseorang tergigit ular yang jenisnya tidak diketahui, segera lakukan pertolongan pertama yang benar sesuai prosedur medis, hindari tindakan yang tidak direkomendasikan, dan secepatnya menuju fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan.
Maraknya penyebaran poster yang tidak didasarkan pada ilmu herpetologi menunjukkan pentingnya literasi informasi di masyarakat. Konten yang dibuat hanya demi mengejar popularitas atau keuntungan tanpa memperhatikan akurasi dapat menciptakan rasa percaya diri yang keliru dan justru meningkatkan risiko kecelakaan saat berhadapan dengan ular.
Keselamatan harus selalu menjadi prioritas. Tidak ada "rumus cepat" seperti kepala segitiga, pupil vertikal, warna cerah, atau bentuk tubuh tertentu yang mampu membedakan seluruh ular berbisa dan tidak berbisa. Identifikasi yang benar harus dilakukan berdasarkan spesies dan kombinasi banyak karakter anatomi.
Untuk itu, perlakukan semua ular liar sebagai satwa yang berpotensi berbahaya. Jangan menyentuh atau menangani ular tanpa pengetahuan, teknik, dan peralatan yang tepat. Amati dari jarak aman, lalu hubungi petugas Damkar atau penyelamat ular (snake rescuer) yang berpengalaman agar penanganan dapat dilakukan secara aman bagi manusia maupun satwa.(Eko Tito/Pimred Cahyospirit)
.jpg)