Festival Gema Muharram 1448 H di Desa Gandamekar Jadi Ajang Membangun Generasi Muda yang Islami dan Kompetitif
0 menit baca
Festival Gema Muharram 1448 H pada Sabtu, 4 Juli 2026, bertempat di Gedung SDN 2 Gandamekar.
Purwakarta , Jawa Barat KMR - Dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, Pemerintah Desa Gandamekar, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, menggelar Festival Gema Muharram 1448 H pada Sabtu, 4 Juli 2026, bertempat di Gedung SDN 2 Gandamekar.
Kegiatan yang telah menjadi agenda tahunan tersebut melibatkan seluruh majelis taklim dari setiap wilayah RW di Desa Gandamekar.
Tahun ini, pelaksanaan festival dipercayakan kepada RW 03 sebagai tuan rumah dengan dukungan empat RW di wilayah tersebut. Hal itu disampaikan Kepala Desa Gandamekar, Heru Kurniawan, kepada awak media di sela-sela kegiatan.
Ketua Panitia, Budi Mulyana, menjelaskan bahwa festival diikuti sekitar 150 peserta dari jenjang RA, MI hingga MTs yang berasal dari sembilan majelis taklim se-Desa Gandamekar.
Beragam perlombaan digelar untuk meningkatkan pengetahuan agama, keterampilan, serta rasa percaya diri para peserta. Di antaranya Musabaqah Hifdzil Qur'an (MHQ), Nadom Sunda, pembacaan Al-Barzanji, adzan, kaligrafi, Pildacil, Rangking 1, Cerdas Cermat Islami, murattal, hingga lomba baca puisi Islami.
Festival tahun ini mengusung tema "Generasi Hijrah: Hebat, Islami, Jujur, Rajin, Amanah, dan Harmonis." Tema tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang berakhlak mulia, memiliki semangat belajar, serta siap menghadapi tantangan zaman.
Sekretaris Desa Gandamekar, Helmi Abdul Aziz, S.Pd.I, mengaku bangga melihat tingginya antusiasme peserta, para orang tua, guru ngaji, dan masyarakat yang hadir. Menurutnya, festival ini bukan sekadar ajang perlombaan, tetapi juga menjadi sarana mempererat tali silaturahmi antarguru ngaji dan majelis taklim di seluruh desa.
Sementara itu, Kepala Desa Gandamekar, Heru Kurniawan, menegaskan bahwa Festival Gema Muharram telah menjadi tradisi yang terus dipelihara setiap tahun sebagai bagian dari kegiatan desa dalam menyambut bulan Muharram.
"Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun, dan penyelenggaraannya digilir di setiap wilayah RW agar seluruh masyarakat merasa memiliki serta bersama-sama menjaga syiar Islam," ujarnya.
Pelaksanaan festival juga mendapat dukungan dari 13 mahasiswa Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) yang sedang menjalankan program pengabdian kepada masyarakat selama dua minggu di Desa Gandamekar.
Koordinator mahasiswa, Fatihul Noer Ihsan, mengatakan bahwa kegiatan tersebut memiliki nilai religius yang kuat bagi anak-anak sekaligus mampu menumbuhkan jiwa kompetitif dalam suasana yang sehat dan Islami.
Salah seorang peserta, Muhammad Adzkhan Yaqdan Nasrulloh, siswa kelas VI MI Miftahussalamah dari Majelis Taklim Riyadul Mutta'alimin, mengaku senang dapat mengikuti festival tersebut. Menurutnya, pengalaman mengikuti berbagai perlombaan menjadi motivasi untuk semakin giat mempelajari ilmu agama sekaligus melatih keberanian tampil di hadapan banyak orang.
Panitia juga menegaskan bahwa tujuan utama seluruh perlombaan bukan semata-mata mengejar gelar juara. Salah seorang panitia, Ai, menyampaikan bahwa khusus pada lomba mewarnai, yang terpenting adalah menumbuhkan keberanian, kreativitas, dan semangat berpartisipasi anak-anak, bukan hanya berorientasi pada hadiah.
Melalui Festival Gema Muharram 1448 H ini, Pemerintah Desa Gandamekar berharap semangat hijrah tidak hanya menjadi simbol pergantian Tahun Baru Islam, tetapi juga diwujudkan dalam langkah nyata membangun generasi yang religius, berkarakter, dan harmonis di tengah kehidupan masyarakat.
Dukungan juga datang dari Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kecamatan Plered, Miftah Parid, S.Pd.I. Menurutnya, Festival Gema Muharram merupakan program yang sangat positif dalam memperkuat karakter serta budaya Islami di kalangan generasi muda.
"Saya sangat mendukung program yang digagas oleh Kepala Desa Gandamekar. Di tengah kondisi saat ini, ketika anak-anak semakin akrab dengan gadget dan media digital, mereka tetap harus diperkenalkan dengan budaya Islam, nilai-nilai keagamaan, serta tradisi Islami yang baik.
Kegiatan seperti ini menjadi salah satu ikhtiar untuk menjaga akhlak, mempererat silaturahmi, dan membentuk generasi yang religius tanpa meninggalkan jati diri budaya Islam," ungkap Miftah Parid.
Ia berharap Festival Gema Muharram dapat terus diselenggarakan secara rutin setiap tahun, bahkan menjadi inspirasi bagi desa-desa lain dalam membangun generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan mencintai ajaran Islam.( Ragil.S/edi k/Pimred Cahyospirit)

