Dari Anak Petani dan Buruh Bangunan Menjadi Mahasiswa Terbaik Prodi Ekonomi Syariah STAIMAS Wonogiri, Kisah Inspiratif Dwi Cahya Mahdani
WONOGIRI KMR – Keterbatasan ekonomi tidak pernah menyurutkan langkah Dwi Cahya Mahdani untuk menggapai cita-cita. Putra kedua pasangan petani dan buruh bangunan asal Desa Ngambarsari, Wonogiri, ini berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan dinobatkan sebagai Mahasiswa Terbaik Sekolah Tinggi Agama Islam Mulia Astuti (STAIMAS) Wonogiri. Kisah hidupnya menjadi bukti bahwa kerja keras, ketekunan, dan semangat belajar mampu mengalahkan segala keterbatasan.
Lulusan SMK Muhammadiyah 1 Baturetno tahun 2022 itu tidak langsung melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sejak masih duduk di bangku sekolah, Dwi telah terbiasa mandiri. Ia berjualan sosis goreng, pulsa, hingga merintis usaha jual beli telepon genggam untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Setelah lulus, ia memilih bekerja demi meringankan beban kedua orang tuanya. Bersama sang ayah, Dwi terlibat dalam berbagai proyek pembangunan, mulai dari pekerjaan pengaspalan jalan hingga pembangunan Bendungan Pidekso. Hari-harinya dihabiskan mengangkat material dan bekerja di bawah terik matahari, bahkan tak jarang hingga lembur.
Di tengah perjalanan tersebut, ia memperoleh kesempatan menjadi asisten survei pemetaan tanah. Pengalaman itu membuka wawasan baru dan membuatnya sempat mendapat tawaran bekerja di luar kota. Namun, keinginan tersebut belum dapat diwujudkan karena orang tuanya khawatir melepas putranya merantau jauh.
Perjalanan hidup itu justru menjadi titik balik bagi Dwi. Ia menyadari bahwa kerja keras saja tidak cukup untuk mengubah masa depan tanpa bekal pendidikan.
"Saya sadar, jika saya terus bekerja keras tanpa bekal ilmu yang cukup, saya mungkin akan terus begini selamanya," ungkapnya.
Kesadaran itulah yang mendorongnya untuk melanjutkan pendidikan. Pada tahun 2023, setelah sekitar dua tahun bekerja, Dwi memutuskan mendaftar di STAIMAS Wonogiri. Baginya, kampus tersebut menjadi pilihan yang tepat karena dekat dengan keluarga sekaligus terjangkau secara ekonomi.
Perjalanan kuliah yang dijalaninya pun jauh dari kata mudah. Pada awal perkuliahan, ia harus menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam dari rumah menuju kampus. Di sela-sela kuliah, ia tetap membantu ayahnya ketika ada proyek. Demi menghemat biaya hidup, Dwi juga berjualan minuman di Kota Wonogiri, pernah menginap di balai pertemuan sambil membantu menjadi pengurus masjid, bahkan menumpang di rumah teman ketika kondisi tubuhnya terlalu lelah untuk pulang.
Memasuki semester ketiga, ia memutuskan menetap di Wonogiri agar lebih fokus menjalani perkuliahan. Berkat bantuan seorang rekannya, Ibnu, Dwi mendapat kesempatan tinggal di sebuah pondok pesantren. Di sana, ia mengabdi sekaligus memperdalam ilmu agama.
Rutinitasnya pun semakin terarah. Siang hari digunakan untuk kuliah, waktu luang dimanfaatkan untuk bekerja, sedangkan malam hari diisi dengan mengaji. Selain itu, ia juga aktif mengikuti berbagai kegiatan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) guna memperluas wawasan, pengalaman, dan jaringan pertemanan.
Menariknya, Dwi mengaku tidak pernah menargetkan diri menjadi mahasiswa terbaik. Ia hanya berusaha menjalani setiap peran dengan sungguh-sungguh.
"Saat belajar, lakukan sebaik mungkin. Saat bekerja, kerjakan dengan sungguh-sungguh. Dan saat beribadah, lakukan dengan khusyuk," tuturnya.
Prinsip sederhana itulah yang akhirnya mengantarkannya meraih predikat Mahasiswa Terbaik Prodi Ekonomi Syariah STAIMAS Wonogiri. Bagi Dwi, penghargaan tersebut bukan sekadar pengakuan atas prestasi akademik, melainkan hadiah terindah bagi kedua orang tuanya yang telah berjuang membesarkannya dalam keterbatasan.
"Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT. Kebahagiaan terbesar saya bukan gelar ini, tetapi melihat senyum bangga di wajah Ibu yang seorang petani dan Ayah yang bekerja sebagai buruh bangunan. Semoga kisah saya bisa menjadi semangat bagi anak-anak desa lainnya bahwa jangan pernah takut bermimpi, seberat apa pun jalan yang harus ditempuh," tutupnya penuh haru.
Perjalanan Dwi Cahya Mahdani menjadi pengingat bahwa kesuksesan tidak selalu lahir dari kemudahan. Dengan tekad, kerja keras, dan keyakinan kepada Allah SWT, keterbatasan justru dapat menjadi pijakan untuk meraih prestasi yang membanggakan.(Ari S/NDR/Pimpred Cahyospirit)
