BREAKING NEWS
SPACE IKLAN INI DISEWAKAN
untuk informasi hubungi Dewan Redaksi 0877-9361-6743

Lare Angon, Ular Penjaga Keseimbangan Ekosistem yang Sering Disalahpahami

DOKUMENTASI: Penanganan ular lare angon di tempat kerja wilayah Bandung Barat oleh Rukmana, keluarga besar EXALOS INDONESIA Regional Bandung Raya

Bandung Barat  KMR– Di balik citra menyeramkan yang selama ini melekat pada ular, terdapat banyak spesies yang justru memberikan manfaat besar bagi keseimbangan alam. Salah satunya adalah lare angon (Xenochrophis vittatus), ular asli Indonesia yang telah lama menghuni berbagai kawasan di Pulau Jawa dan wilayah lainnya. Sayangnya, satwa ini masih sering menjadi korban kesalahpahaman karena dianggap berbahaya, padahal kenyataannya lare angon merupakan ular yang tidak berbisa dan tidak memiliki sifat agresif terhadap manusia.

Lare angon dikenal sebagai ular semiakuatik yang mampu hidup di berbagai habitat yang memiliki sumber air, seperti persawahan, rawa, saluran irigasi, tepian sungai, hingga kawasan permukiman yang masih memiliki lingkungan alami. Keberadaannya sering kali tidak disadari karena ular ini lebih memilih menghindari manusia dan aktif mencari mangsa di area yang tenang.

Secara fisik, lare angon memiliki panjang tubuh rata-rata sekitar 60–70 sentimeter dengan bentuk tubuh yang ramping. Warna tubuhnya didominasi cokelat tua hingga kehitaman yang dihiasi garis memanjang berwarna putih atau kekuningan di sepanjang sisi tubuh. Pola tersebut menjadi ciri khas yang membedakannya dari beberapa spesies ular lain yang hidup di habitat serupa.

Meski penampilannya cukup mencolok, lare angon bukanlah ancaman bagi manusia. Ketika bertemu manusia, ular ini umumnya akan memilih melarikan diri dibandingkan menyerang. Gigitan hanya mungkin terjadi apabila satwa tersebut diperlakukan secara kasar atau merasa terpojok sebagai bentuk pertahanan diri.

Dalam ekosistem, lare angon memegang peranan yang sangat penting. Sebagai predator alami, ular ini membantu mengendalikan populasi berbagai hewan kecil seperti ikan, katak, kecebong, hingga hewan-hewan lain yang dapat berkembang secara berlebihan apabila tidak ada predator alami. Peran tersebut sangat membantu menjaga keseimbangan rantai makanan, terutama di kawasan persawahan yang menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Selain sebagai predator, lare angon juga menjadi bagian penting dari siklus kehidupan satwa liar karena menjadi mangsa bagi burung pemangsa, biawak, dan predator lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan ular bukan hanya berfungsi sebagai pengendali populasi mangsa, tetapi juga menjadi sumber makanan bagi satwa lain sehingga keseimbangan ekosistem tetap terjaga.

Keberadaan lare angon bahkan dapat menjadi indikator kondisi lingkungan yang masih baik. Habitat yang masih mampu mendukung kehidupan spesies ini umumnya memiliki kualitas air dan ekosistem yang relatif sehat. Sebaliknya, berkurangnya populasi ular tersebut dapat menjadi tanda adanya kerusakan habitat, pencemaran lingkungan, atau berkurangnya keanekaragaman hayati.

Namun, kondisi tersebut kini mulai menjadi perhatian. Populasi lare angon semakin sulit ditemukan di sejumlah wilayah akibat alih fungsi lahan, hilangnya kawasan basah, penggunaan pestisida yang berlebihan, hingga anggapan keliru yang membuat ular ini kerap dibunuh setiap kali muncul di sekitar permukiman. Padahal, tindakan tersebut justru dapat mengganggu keseimbangan alam dan berpotensi meningkatkan populasi hama tertentu.

Edukasi kepada masyarakat menjadi salah satu langkah penting untuk mengubah cara pandang terhadap ular. Memahami bahwa tidak semua ular berbisa dan berbahaya diharapkan mampu mengurangi konflik antara manusia dan satwa liar. Dengan mengenali karakteristik lare angon, masyarakat dapat mengambil keputusan yang lebih bijaksana ketika menemukan ular di lingkungan sekitar, yaitu dengan membiarkannya kembali ke habitat atau menghubungi petugas penyelamat satwa apabila diperlukan.

Salah satu upaya penyelamatan tersebut dilakukan oleh relawan EXALOS INDONESIA yang aktif memberikan layanan snake rescue dan snake education sebagai bentuk edukasi sekaligus konservasi satwa liar. Melalui kegiatan penyelamatan ular yang masuk ke kawasan permukiman maupun tempat kerja, organisasi ini berupaya mengedepankan penanganan yang aman bagi manusia sekaligus menjaga kelestarian satwa.

Salah satu dokumentasi menunjukkan proses penanganan ular lare angon di sebuah tempat kerja di wilayah Bandung Barat oleh Rukmana, yang merupakan bagian dari keluarga besar EXALOS INDONESIA Regional Bandung Raya. Penyelamatan tersebut menjadi contoh bahwa konflik antara manusia dan ular dapat diselesaikan tanpa harus melukai atau membunuh satwa.

Melindungi lare angon bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies ular, tetapi juga merupakan bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem dan melestarikan kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia. Semakin banyak masyarakat yang memahami manfaat satwa liar, semakin besar pula peluang terciptanya hubungan yang harmonis antara manusia dan alam.

Bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan evakuasi ular maupun edukasi mengenai penanganan satwa liar, layanan Snake Rescue dan Snake Education dapat menghubungi EXALOS INDONESIA melalui nomor 0896-1040-4414. EXALOS INDONESIA, NEVER STOP RESCUE .(Eko Tito/Pimred Cahyospirit)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar