Petani Inovatif dari Wonogiri Kembangkan Teknik Sambung Lada dan Pertanian Organik
Wonogiri MR— Di tengah meningkatnya tantangan sektor pertanian akibat perubahan iklim, keterbatasan lahan, serta fluktuasi harga komoditas, seorang petani asal Wonogiri berhasil menunjukkan bahwa inovasi dan ketekunan dapat menjadi kunci keberhasilan. Parjono, warga Dusun Klumpit, Desa Tegiri, Kecamatan Batuwarno, kini dikenal sebagai pelopor teknik budidaya hortikultura yang inovatif dan berkelanjutan.
Berangkat dari keterbatasan, Parjono tidak menyerah pada kondisi. Ia justru terdorong untuk terus melakukan eksperimen di lahannya. Salah satu terobosan yang ia kembangkan adalah teknik sambung pada tanaman lada hitam. Metode ini menggabungkan batang bawah jenis Malada dengan batang atas lada lokal atau merica, sehingga menghasilkan tanaman yang lebih tahan terhadap penyakit dan mampu berproduksi lebih tinggi.
“Awalnya banyak gagal, tapi dari situ saya terus belajar sampai menemukan cara yang paling cocok,” ujar Parjono saat ditemui di kebunnya.
Melalui proses panjang dan berbagai percobaan, teknik tersebut terbukti mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen. Tanaman lada hasil sambung tumbuh lebih optimal dibandingkan metode konvensional yang umum digunakan petani.
Selain inovasi teknik, Parjono juga menerapkan sistem pertanian organik secara menyeluruh. Ia memanfaatkan limbah rumah tangga sebagai bahan pupuk alami. Pendekatan ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mampu menekan biaya produksi.
“Bahan pupuk sebenarnya ada di sekitar kita. Tinggal bagaimana kita mengolahnya,” tambahnya.
Keberhasilan Parjono tidak hanya terlihat dari hasil panen lada hitam yang melimpah, tetapi juga dari keberaniannya mengembangkan komoditas lain seperti vanili. Tanaman bernilai ekonomi tinggi ini dikenal sulit dibudidayakan karena memerlukan perawatan intensif, termasuk penyerbukan manual. Namun, dengan ketelatenan, Parjono berhasil menghasilkan panen vanili berkualitas.
Keberhasilan tersebut menjadikan Parjono sebagai sosok inspiratif di kalangan petani setempat. Ia juga aktif berbagi ilmu dan pengalaman kepada petani lain, mendorong penerapan metode pertanian yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Menurutnya, masa depan pertanian terletak pada kemampuan petani untuk terus beradaptasi dan memanfaatkan potensi lokal. “Tidak harus selalu bergantung pada teknologi mahal. Yang penting mau belajar dan mencoba,” katanya.
Kisah Parjono menjadi bukti bahwa inovasi di sektor pertanian dapat lahir dari tingkat akar rumput. Dengan dukungan dari pemerintah dan komunitas pertanian, metode yang ia kembangkan dinilai berpotensi diterapkan lebih luas.
Upaya seperti yang dilakukan Parjono diharapkan dapat menjadi salah satu solusi dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di tengah tantangan global yang semakin kompleks.(Alit /Pimred Cahyospirit)



