BREAKING NEWS
SPACE IKLAN INI DISEWAKAN
untuk informasi hubungi Dewan Redaksi 0877-9361-6743

Voice of Ramadan Sesi IV Bahas Jurnalisme di Era AI, Tekankan Akurasi, Etika, dan Kepercayaan Publik

 

Kegiatan Voice of Ramadan Sesi IV sukses diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting.

Wonogiri MR— Kegiatan Voice of Ramadan Sesi IV sukses diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting. Mengusung tema Jurnalisme di Era AI: Menjaga Akurasi, Etika, dan Kepercayaan Publik, acara ini menghadirkan akademisi dari berbagai perguruan tinggi dan diikuti peserta dari berbagai kalangan.

Kegiatan ini dimoderatori oleh Umi Adibah Munawwaroh, mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UNUJA Probolinggo. Diskusi berlangsung dinamis dengan menghadirkan keynote speaker Dr. Ahmad Fawaid, M.Th.I., Dekan Fakultas Agama Islam UNUJA Probolinggo.

Dalam sambutannya, Dr. Ahmad Fawaid menegaskan bahwa perkembangan Artificial Intelligence (AI) tidak dapat dihindari dalam dunia jurnalistik. Namun, ia mengingatkan bahwa teknologi harus tetap dikawal dengan nilai-nilai etika dan tanggung jawab agar tidak merusak kepercayaan publik.

Tiga narasumber utama turut memperkaya diskusi, yakni Nur Hasyim Maulidah, M.Sos (Dosen KPI STIDKI NU Indramayu), Nadhiroh, S.Sos.I., M.I.Kom (Dosen KPI STAIMAS Wonogiri), dan Putri Isma Indriyani, M.Sos (Dosen Manajemen Dakwah STAI Terpadu Yogyakarta).

Dalam pemaparannya, Nur Hasyim Maulidah menjelaskan bahwa jurnalisme di era AI merupakan praktik produksi dan distribusi informasi yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk meningkatkan efisiensi kerja media. Meski demikian, kecepatan produksi berita di era digital kerap menimbulkan tantangan terkait akurasi dan validitas informasi. 

Ia juga menyoroti berbagai risiko dalam penggunaan AI, seperti potensi bias data, keterbatasan memahami konteks sosial, serta munculnya fenomena filter bubble. Oleh karena itu, diperlukan komitmen kuat terhadap kode etik jurnalistik, termasuk menjaga akurasi, transparansi penggunaan AI, serta tanggung jawab editorial yang tetap berada pada jurnalis. 

Sementara itu, Nadhiroh menekankan bahwa AI telah membawa perubahan signifikan dalam dunia media, mulai dari penulisan berita otomatis hingga analisis data. Namun, ia mengingatkan bahwa teknologi juga berpotensi memicu misinformasi, disinformasi, hingga manipulasi konten seperti deepfake. 

“Jurnalis harus tetap melakukan verifikasi ketat dan menjadikan AI sebagai alat bantu, bukan pengganti tanggung jawab manusia,” tegasnya.

Adapun Putri Isma Indriyani membahas masa depan jurnalisme di tengah perkembangan AI. Ia menyampaikan bahwa meskipun AI mampu mempercepat produksi informasi, teknologi ini juga berpotensi memengaruhi cara masyarakat memahami realitas dan bahkan memunculkan opini publik yang tidak autentik. 

Menurutnya, tantangan tersebut dapat diantisipasi melalui regulasi yang tepat, transparansi data, serta kerja sama antara media dan perusahaan teknologi. Ia juga menekankan bahwa data jurnalistik yang akurat dan terverifikasi sangat penting untuk meningkatkan kualitas sistem AI di masa depan. 

Kegiatan ini menegaskan bahwa di tengah derasnya arus digitalisasi, jurnalisme tetap harus berpegang pada prinsip dasar, yakni akurasi, etika, dan kepercayaan publik. Kolaborasi antara manusia dan teknologi menjadi kunci untuk menjaga kualitas informasi di era kecerdasan buatan.(NDR/Pimred Cahyospirit)
























Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar