Aksi Nyata “Memanusiakan Manusia” di Lereng Gunung: Kariman dan Tim Keswa Gunungsari Evakuasi ODGJ yang 15 Tahun Hidup di Hutan
Wonogiri MR – Kepedulian tak pernah mengenal medan yang sulit. Di tengah lereng gunung yang licin dan akses sinyal yang nyaris tak terjangkau, semangat kemanusiaan justru menemukan maknanya. Itulah yang kembali ditunjukkan oleh Kariman, Ketua Forum Keswa (Kesehatan Jiwa) yang menginduk pada TPKJM (Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa) Desa Gunungsari, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri.
Aksi kemanusiaan ini bermula dari laporan Relawan Sibat PMI Wonogiri mengenai seorang ODGJ/ODDP yang telah lama hidup terisolasi di kawasan hutan, bahkan diperkirakan hampir 15 tahun lamanya. Mendapati laporan tersebut, Kariman tak menunggu waktu lama. Ia segera berkoordinasi dengan Tim Keswa Gunungsari, relawan Sibat desa setempat, serta Kepala Dusun (Kadus) untuk melakukan langkah awal berupa edukasi dan asesmen terhadap lingkungan, keluarga, serta kondisi pasien.
Langkah awal ini menjadi fondasi penting. Tim memastikan kondisi sosial, psikologis, serta kesiapan keluarga sebelum proses evakuasi dilakukan. Pendekatan humanis dan persuasif menjadi kunci agar proses berjalan aman dan penuh empati.
Evakuasi Penuh Tantangan
Keesokan harinya, Tim Keswa Gunungsari bergerak dari Jatisrono menuju kecamatan di sebelah selatan yang menjadi lokasi pasien bermukim. Perjalanan tidaklah mudah. Medan perbukitan dengan lereng terjal dan tanah licin menjadi ujian fisik sekaligus mental.
Setibanya di lokasi, tim yang dipimpin Kariman bersama Suyadi selaku sopir ambulans dan Karijo yang turut membantu proses perapian diri pasien, langsung melakukan penanganan awal. Dengan didampingi relawan, keluarga, dan Kadus setempat, pasien terlebih dahulu dicukur rambutnya, dipotong kukunya, kemudian dimandikan dan diganti dengan pakaian bersih.
Proses ini bukan sekadar tindakan fisik, tetapi simbol pemulihan martabat. Sentuhan kemanusiaan yang sederhana namun penuh makna.
Namun tantangan belum selesai. Saat hendak dibawa ke ambulans, pasien sempat memberontak. Ditambah lagi medan lereng gunung yang licin membuat proses evakuasi berlangsung dramatis. Kariman bahkan harus membopong pasien secara langsung, berjalan hati-hati menuruni lereng bersama relawan yang membantu menopang dari sisi lain.
Perjalanan dari lokasi menuju rumah sakit memakan waktu cukup panjang. Evakuasi dimulai sekitar pukul 13.30 WIB dan baru tiba di RSJD Surakarta pada pukul 16.30 WIB. Meski melelahkan, tak ada raut menyerah di wajah para relawan. Yang ada hanya tekad agar pasien segera mendapatkan perawatan yang layak.
Dirujuk ke RSJD dr. Arief Zainudin Surakarta
Setibanya di rumah sakit, pasien langsung ditangani oleh tim medis di RSJD dr. Arief Zainudin Surakarta. Fasilitas ini memang menjadi rujukan utama penanganan kesehatan jiwa di wilayah tersebut.
Di tengah keterbatasan sinyal di lokasi evakuasi, Kariman tetap memastikan koordinasi berjalan. Ia segera melaporkan kegiatan tersebut kepada:
TKSK
Mbak Ika dari Dinas Sosial Kabupaten Wonogiri
Camat setempat melalui telepon dan WhatsApp
Langkah pelaporan ini menjadi bentuk transparansi sekaligus sinergi lintas sektor dalam penanganan masalah kesehatan jiwa.
Ucapan Terima Kasih dan Harapan
Dalam keterangannya, Kariman menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah terlibat dan mendukung aksi ini, di antaranya:
Mbak Ika dari Dinas Sosial Kabupaten Wonogiri
TKSK
Pemerintah Desa setempat, khususnya Pak Kadus
Relawan Sibat, tokoh masyarakat, dan keluarga pasien
Para donatur yang telah memberikan bantuan dalam bentuk apa pun
Mbak Qori selaku admin RSJD Surakarta
Segenap perawat dan dokter di RSJD dr. Arief Zainudin Surakarta
Seluruh Tim Keswa Gunungsari Jatisrono
Menurut Kariman, kegiatan ini bukan sekadar evakuasi, melainkan gerakan “Memanusiakan Manusia”. Bahwa setiap individu, apa pun kondisinya, tetap berhak atas perawatan, perhatian, dan kehidupan yang lebih baik.
Inspirasi untuk Desa Lain
Aksi nyata Tim Keswa Gunungsari ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara relawan, pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan masyarakat mampu menghadirkan perubahan nyata. Di tengah berbagai keterbatasan, semangat gotong royong masih menjadi kekuatan utama desa-desa di Wonogiri.
Diharapkan, langkah kemanusiaan ini dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di seluruh Kabupaten Wonogiri untuk lebih peduli terhadap kesehatan jiwa warganya. Karena sejatinya, peradaban sebuah daerah diukur dari cara mereka memperlakukan warganya yang paling rentan.
Dan di lereng gunung itu, di tanah yang licin dan perjalanan yang melelahkan, nilai kemanusiaan kembali ditegakkan.(Krm / Pimred Cahyospirit)


.jpg)

















