BREAKING NEWS
SPACE IKLAN INI DISEWAKAN
untuk informasi hubungi Dewan Redaksi 0877-9361-6743

Tradisi Sadranan Dukuh Sembung Berjalan Meriah, Wujud Budaya Jawa Marang Leluhur Lan Gusti Maha Kuasa

Ratusan warga tumpah ruah mengikuti Tradisi Sadranan yang kembali digelar dengan meriah setelah sempat vakum beberapa waktu lalu

Klaten MR – Suasana khidmat sekaligus penuh kegembiraan menyelimuti Jl. Utara Makam (samping makam) Dukuh Sembung RW 04, Sembung, Wedi, Klaten, pada Jumat (13/2). Ratusan warga tumpah ruah mengikuti Tradisi Sadranan yang kembali digelar dengan meriah setelah sempat vakum beberapa waktu lalu. Mengusung tema “Sadranan Wujud Budaya Jawa Marang Leluhur Lan Gusti Maha Kuasa”, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat kebersamaan sekaligus melestarikan warisan budaya leluhur.



Sekitar 450 warga RW 04 dan sekitarnya hadir dan terlibat aktif dalam kegiatan tersebut. Peserta terdiri dari anak-anak, remaja, hingga orang tua. Sejak pagi, warga telah berkumpul dengan membawa hasil bumi terbaik dari ladang dan pekarangan mereka untuk disusun menjadi gunungan.

Sebanyak 12 gunungan berdiri kokoh menghiasi lokasi acara. Gunungan-gunungan tersebut berisi aneka hasil bumi seperti sayuran, buah-buahan, padi, umbi-umbian, dan berbagai hasil pertanian khas Dukuh Sembung. Warna-warni hasil panen yang tertata rapi mencerminkan rasa syukur warga atas limpahan rezeki yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.

Ketua RW 04, Bangun Nur, dalam sambutannya menyampaikan bahwa tradisi Sadranan ini sempat tidak lagi digelar dalam beberapa tahun terakhir. Namun, berkat semangat kebersamaan dan kepedulian warga, tradisi peninggalan leluhur tersebut berhasil dihidupkan kembali.

“Tradisi ini adalah warisan budaya yang sangat berharga. Melalui kepemimpinan dan dukungan seluruh warga, kami berupaya menguri-uri kembali Sadranan agar tidak hilang ditelan zaman. Ini bukan sekadar acara seremonial, tetapi wujud penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan syukur kepada Gusti Maha Kuasa,” ujarnya.

Acara diawali dengan doa bersama yang dipanjatkan untuk para leluhur Dukuh Sembung. Suasana hening dan penuh khidmat terasa saat warga menundukkan kepala, memohonkan ampunan dan mendoakan arwah para pendahulu agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan. Doa juga dipanjatkan agar warga Dukuh Sembung senantiasa diberi kesehatan, kerukunan, dan keberkahan.

Usai doa bersama, 12 gunungan diarak mengelilingi dukuh. Arak-arakan berlangsung meriah dengan iringan warga yang berjalan berbaris rapi. Anak-anak tampak antusias mengikuti kirab, sementara para remaja membantu menjaga ketertiban. Orang tua berjalan dengan penuh kebanggaan, menyaksikan tradisi yang kembali hidup di tengah masyarakat.

Kirab gunungan ini menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur. Warga berdiri di sepanjang jalan menyambut rombongan dengan senyum dan semangat. Tidak sedikit yang mengabadikan momen tersebut sebagai kenangan berharga.

Setelah kirab selesai dan gunungan kembali ke lokasi awal, tibalah saat yang paling dinanti: perebutan gunungan. Dengan tertib dan penuh kegembiraan, warga memperebutkan hasil bumi yang sebelumnya telah didoakan bersama. Mereka meyakini bahwa hasil bumi tersebut membawa berkah. Suasana riuh namun tetap terkendali, mencerminkan kegembiraan sekaligus kebersamaan yang terjalin erat.

Tradisi Sadranan ini memiliki tujuan mulia, yakni mengirim doa kepada leluhur, melestarikan budaya Jawa, mengenalkan dan mengingatkan generasi muda terhadap akar budaya mereka, serta mempererat tali silaturahmi antarwarga. Melalui kegiatan ini, nilai-nilai gotong royong, kebersamaan, dan rasa hormat kepada leluhur ditanamkan secara nyata kepada generasi penerus.

Bangun Nur berharap tradisi Sadranan di Dukuh Sembung dapat terus digelar setiap tahun dan semakin berkembang tanpa meninggalkan esensi budaya yang diwariskan para leluhur. Ia juga mengajak seluruh warga untuk terus menjaga kekompakan dan kebersamaan.

Dengan terselenggaranya kembali Sadranan tahun ini, Dukuh Sembung tidak hanya merayakan sebuah tradisi, tetapi juga meneguhkan jati diri sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai budaya, spiritualitas, dan persaudaraan. Semangat kebersamaan yang terpancar dalam acara ini menjadi bukti bahwa warisan leluhur akan tetap hidup selama dijaga dan dilestarikan bersama.(Riyan /Aulia/Pimred Cahyospirit)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar