Tahukah kamu ? Leptobrachium hasseltii, Penjaga Sunyi Lantai Hutan
Mediarakyat -Di balik hamparan daun kering yang menutupi lantai hutan tropis Indonesia, hidup sebuah amfibi unik yang jarang terlihat namun memiliki peran penting dalam ekosistem. Ia adalah Leptobrachium hasseltii, atau yang lebih dikenal dengan Katak Serasah Cokelat. Meski penampilannya sederhana, katak ini menyimpan banyak keunikan yang menjadikannya salah satu spesies menarik dari hutan-hutan lembap Nusantara.
Ciri Fisik yang Mudah Dikenali
Salah satu daya tarik utama Leptobrachium hasseltii terletak pada matanya yang besar dan menonjol. Mata ini bukan hanya berfungsi sebagai alat penglihatan di kondisi minim cahaya, tetapi juga menjadi ciri khas genus Leptobrachium. Pada beberapa individu, bagian atas iris mata dapat memperlihatkan warna merah menyala atau kebiruan, terutama saat terkena cahaya senter di malam hari, menciptakan kesan misterius dan dalam.
Tubuh katak ini tergolong gempal dan pendek, berbeda dengan katak pohon yang ramping dan berkaki panjang. Bentuk tubuh seperti ini sangat cocok untuk kehidupan di lantai hutan, memungkinkan mereka bergerak perlahan di antara serasah daun tanpa menarik perhatian predator.
Dari segi tekstur kulit, punggungnya terlihat relatif halus, namun dihiasi bintik-bintik atau pola gelap samar. Pola ini berfungsi sebagai kamuflase alami yang sangat efektif. Ketika diam di antara daun kering, katak ini hampir tidak dapat dibedakan dari lingkungannya.
Warna tubuhnya didominasi abu-abu kecokelatan hingga cokelat gelap, dengan corak lebih gelap pada bagian samping tubuh dan kaki. Kombinasi warna ini menjadikan Leptobrachium hasseltii ahli dalam bersembunyi, sebuah kemampuan penting untuk bertahan hidup di alam liar.
Habitat Alami dan Pola Hidup
Sesuai dengan nama umumnya, Katak Serasah Cokelat hidup di lantai hutan yang lembap, terutama di hutan hujan tropis dataran rendah hingga perbukitan. Mereka sering ditemukan bersembunyi di bawah tumpukan daun kering, kayu lapuk, atau celah bebatuan yang lembap.
Katak ini adalah hewan nokturnal, yang berarti aktif pada malam hari. Saat matahari terbenam dan kelembapan udara meningkat, Leptobrachium hasseltii mulai keluar dari persembunyiannya untuk mencari makan. Foto atau penampakan mereka pada malam hari merupakan indikasi bahwa itulah waktu alami mereka beraktivitas.
Makanannya terdiri dari berbagai invertebrata kecil, seperti serangga, cacing, dan hewan kecil lainnya yang hidup di serasah hutan. Dengan memangsa serangga, katak ini berperan penting dalam menjaga keseimbangan populasi organisme kecil di ekosistem hutan.
Suara Khas dari Kegelapan
Salah satu ciri paling unik dari Leptobrachium hasseltii adalah suara panggilannya. Katak jantan mengeluarkan bunyi yang dalam dan bergema, sering dideskripsikan seperti “huuuk… huuuk…”. Suara ini terdengar berat dan misterius, sering kali menggema di antara pepohonan dan aliran sungai kecil.
Bagi peneliti dan pecinta herpetofauna, suara ini menjadi petunjuk penting keberadaan mereka, bahkan ketika kataknya sendiri sulit ditemukan secara visual.
Apakah Katak Ini Berbahaya?
Banyak orang masih ragu saat bertemu katak di alam liar. Namun, Leptobrachium hasseltii tidak berbahaya bagi manusia jika hanya disentuh secara tidak sengaja. Katak ini tidak memiliki racun mematikan.
Meski demikian, seperti kebanyakan amfibi, kulitnya mengeluarkan lendir pelindung yang berfungsi melindungi tubuh dari bakteri dan jamur. Karena itu, sangat disarankan untuk:
Tidak memegang katak terlalu lama
Selalu mencuci tangan setelah menyentuhnya
Menghindari menyentuh mata, hidung, atau mulut sebelum mencuci tangan
Langkah ini penting baik untuk keselamatan manusia maupun untuk menjaga kesehatan kataknya sendiri.
Indikator Lingkungan yang Sehat
Keberadaan Leptobrachium hasseltii sering dianggap sebagai indikator kualitas lingkungan. Jika katak ini ditemukan di sekitar aliran sungai kecil yang jernih dan hutan yang masih rimbun, hal tersebut menandakan bahwa ekosistem di wilayah tersebut masih relatif sehat dan belum tercemar berat.
Amfibi sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, termasuk pencemaran air dan kerusakan habitat. Oleh karena itu, menurunnya populasi katak serasah cokelat bisa menjadi peringatan dini akan degradasi lingkungan.
Penutup
Leptobrachium hasseltii mungkin bukan katak yang mencolok atau berwarna cerah, namun perannya dalam ekosistem hutan sangatlah besar. Sebagai predator serangga, indikator lingkungan, dan bagian dari keanekaragaman hayati Indonesia, katak ini layak mendapatkan perhatian dan perlindungan.
Menjaga hutan tetap lestari berarti juga menjaga kehidupan sunyi di lantai hutan—termasuk sang Katak Serasah Cokelat yang setia bernyanyi di malam hari.( Eko Tito / Pimred Cahyospirit )



















