BREAKING NEWS
🍃 🌿 🍃
🌱 PENGEN INFORMASI SEPUTAR AGROTECH?
Kunjungi agrotechindonesia.com
🌾 Membangun Pertanian Cerdas dan Berkelanjutan
👆 KLIK DI SINI

Forum keswa dan relawan keduang relasi jatisrono kembali bergerak bersama UPZ RSJD Dr. Arif Zainudin membantu penyintas ODGJ

(Berangkat dari Pendopo Kecamatan Slogohimo, Pak Agus Camat, bu Dwi Sekcam, Kasi Kesos, pak Polo Dewa Slogohimo, Relawan dan Puskesmas Slogohimo, Sudiyono Kades Gunungsari, Forum Keswa Gunungsari, Relawan Keduang Relasi Jatisrono )

WONOGIRI  KMR — Kepedulian terhadap penyintas Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) kembali ditunjukkan oleh Forum Kesehatan Jiwa (Keswa) Desa Gunungsari, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, bersama Relawan Keduang Relasi Jatisrono. Di 27 Agustus 2026, kedua kelompok tersebut kembali menggelar aksi sosial sebagai bentuk nyata kepedulian kepada warga yang membutuhkan dukungan untuk melanjutkan kehidupan secara mandiri setelah menjalani proses pemulihan.

Kegiatan sosial tersebut tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan secara langsung, tetapi juga berupaya membuka peluang bagi para penyintas agar dapat kembali produktif dan memiliki aktivitas yang dapat menunjang kehidupan mereka bersama keluarga maupun lingkungan sekitar.


Dalam kegiatan kali ini, Forum Keswa Desa Gunungsari bersama Relawan Keduang Relasi Jatisrono kembali melakukan pendampingan terhadap sejumlah penerima manfaat. Bahkan, dalam satu hari, tim mampu merujuk satu pasien Orang Dengan Disabilitas Psikososial (ODDP) untuk mendapatkan penanganan dan dukungan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya berkelanjutan yang dilakukan para relawan untuk memastikan warga dengan persoalan kesehatan jiwa tidak berjalan sendirian. Pendampingan dilakukan mulai dari proses identifikasi, komunikasi dengan keluarga, rujukan, hingga membantu mencarikan dukungan sosial setelah kondisi penyintas dinyatakan pulih oleh tenaga medis yang menangani.





Salah satu bentuk dukungan yang diberikan berasal dari kerja sama dengan UPZ BAZNAS dr. Arief Zainudin Surakarta. Bantuan tersebut diperuntukkan bagi penyintas ODGJ yang telah dinyatakan pulih oleh dokter yang menangani, sehingga mereka dapat memperoleh dukungan untuk menjalani kehidupan yang lebih mandiri dan produktif.

Menariknya, bentuk bantuan yang diberikan tidak selalu sama antara penerima manfaat satu dengan lainnya. Bantuan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing penerima. Artinya, para penerima manfaat dapat mengajukan jenis bantuan yang memang dianggap paling sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya.

Pendekatan tersebut dinilai penting karena setiap penyintas memiliki situasi keluarga, kemampuan, serta kebutuhan yang berbeda. Ada yang membutuhkan bantuan untuk usaha, ada yang membutuhkan hewan ternak, dan ada pula yang membutuhkan kebutuhan produktif lainnya.

Dalam kegiatan tersebut tercatat terdapat 10 penerima manfaat, dengan lima orang di antaranya merupakan warga yang mendapatkan pendampingan dari Forum Keswa Gunungsari, Jatisrono.

Salah satu bentuk bantuan yang diberikan berupa hewan ternak. Sebanyak dua ekor kambing betina diserahkan kepada salah satu penerima manfaat sebagai modal harapan agar dapat dikembangkan dan memberikan manfaat ekonomi bagi penerima bersama keluarganya.

Pemberian kambing tersebut diharapkan bukan sekadar bantuan sesaat, melainkan dapat menjadi modal produktif yang terus berkembang. Dengan adanya ternak, penerima manfaat diharapkan mempunyai kegiatan rutin yang positif sekaligus memiliki peluang untuk memperoleh tambahan penghasilan di kemudian hari.

Selain kambing, bantuan juga diberikan dalam bentuk 12 ekor ayam Elba. Bantuan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh penerima manfaat sebagai bagian dari kegiatan produktif di lingkungan tempat tinggalnya.

Ketua Harian Forum Keswa Gunungsari, Kariman, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan sosial tersebut. Menurutnya, dukungan kepada penyintas yang telah dinyatakan pulih tetap diperlukan agar mereka dapat mempertahankan kondisi yang baik sekaligus memiliki kesempatan untuk kembali berdaya di tengah masyarakat.

“Yang terpenting setelah dinyatakan pulih adalah bagaimana mereka bisa kembali menjalani kehidupan dengan baik. Bantuan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi penerima dan keluarganya,” tutur Kariman.

Menurutnya, perhatian terhadap kesehatan jiwa tidak seharusnya berhenti ketika seseorang telah mendapatkan penanganan medis. Dukungan keluarga, masyarakat, pemerintah desa, tenaga kesehatan, dan relawan tetap memiliki peranan penting dalam proses pemulihan sosial.

Para penyintas juga membutuhkan ruang untuk kembali berinteraksi dengan masyarakat tanpa stigma. Kesempatan untuk melakukan aktivitas produktif menjadi salah satu cara agar mereka dapat membangun kembali rasa percaya diri serta menunjukkan bahwa setelah pulih, mereka tetap mempunyai kemampuan untuk berkontribusi di lingkungan sekitarnya.

Kariman menambahkan, kolaborasi antarpihak menjadi kekuatan utama dalam menjalankan kegiatan sosial semacam ini. Forum Keswa Gunungsari tidak mungkin bekerja sendiri. Dukungan dari pemerintah kecamatan, pemerintah desa, fasilitas kesehatan, relawan, serta lembaga yang memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial sangat dibutuhkan agar pendampingan dapat dilakukan secara berkelanjutan.

Kegiatan yang berlangsung pada akhir Agustus tersebut sekaligus menunjukkan bahwa gerakan kepedulian terhadap kesehatan jiwa dapat dilakukan dari tingkat desa. Tidak harus menunggu program besar, kepedulian dapat dimulai dari lingkungan terdekat dengan cara mengenali persoalan, mendampingi warga, menghubungkan dengan layanan kesehatan, serta mencarikan dukungan ketika mereka membutuhkan.

Bagi Forum Keswa Gunungsari, pendampingan terhadap ODDP maupun penyintas ODGJ merupakan bagian dari upaya membangun lingkungan yang lebih peduli terhadap kesehatan jiwa. Masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa gangguan kesehatan jiwa merupakan persoalan kesehatan yang membutuhkan penanganan dan dukungan, bukan sesuatu yang layak menjadi bahan stigma atau dikucilkan.

Keberadaan relawan di tengah masyarakat juga menjadi jembatan penting antara keluarga dengan berbagai pihak yang dapat memberikan bantuan. Ketika keluarga mengalami keterbatasan dalam mengakses informasi maupun sumber daya, relawan dapat membantu menghubungkan mereka dengan fasilitas kesehatan, pemerintah, maupun lembaga sosial.

Kolaborasi seperti yang dilakukan Forum Keswa Gunungsari dan Relawan Keduang Relasi Jatisrono juga menjadi contoh bahwa kepedulian sosial dapat diwujudkan melalui tindakan nyata. Bantuan berupa ternak memang terlihat sederhana, namun bagi keluarga penerima manfaat, bantuan tersebut dapat menjadi awal dari sebuah harapan baru.

Dua kambing betina maupun 12 ayam Elba yang diterima bukan hanya dipandang sebagai barang bantuan, tetapi juga sebagai kesempatan untuk membangun aktivitas produktif. Jika dirawat dan dikembangkan dengan baik, bantuan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang.

Forum Keswa Gunungsari dan Relawan Keduang Relasi Jatisrono berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan. Pendampingan tidak hanya berhenti pada pemberian bantuan, tetapi juga dilanjutkan dengan melihat perkembangan penerima manfaat serta memastikan bantuan benar-benar memberikan dampak positif.

Atas terlaksananya kegiatan tersebut, Forum Keswa Gunungsari dan Relawan Keduang Relasi Jatisrono menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan dukungan.

Ucapan terima kasih disampaikan kepada Camat Jatisrono, Camat Slogohimo, jajaran karyawan Puskesmas Slogohimo, Kepala Desa Slogohimo, Kepala Desa Gunungsari Jatisrono Sudiyono, Relawan Desa Setren Slogohimo Pak Tarmin, Relawan Keduang Relasi Jatisrono, Forum Keswa Gunungsari, pengurus UPZ BAZNAS dr. Arief Zainudin Surakarta, serta perangkat desa dan relawan Tasikharg Jatisrono.

Sinergi tersebut menjadi bukti bahwa persoalan kesehatan jiwa tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan. Pemerintah, masyarakat, keluarga, relawan, dan lembaga sosial memiliki peran masing-masing dalam menciptakan lingkungan yang mendukung proses pemulihan.

Dengan semangat gotong royong, para penyintas diharapkan tidak hanya mampu melewati masa sulit, tetapi juga dapat kembali memiliki aktivitas, kepercayaan diri, dan kesempatan untuk hidup secara mandiri.

Bagi mereka yang pernah mengalami gangguan kesehatan jiwa dan telah dinyatakan pulih, kesempatan untuk memulai kembali kehidupan menjadi sesuatu yang sangat berarti. Karena itu, dukungan kecil dari lingkungan sekitar dapat menjadi energi besar untuk membangun masa depan.

Aksi sosial Forum Keswa Gunungsari bersama Relawan Keduang Relasi Jatisrono di penghujung Agustus 2026 tersebut akhirnya tidak sekadar menjadi agenda pemberian bantuan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi pesan bahwa setiap orang yang telah pulih berhak mendapatkan kesempatan kedua, kesempatan untuk berkarya, serta kesempatan untuk kembali diterima dan berdaya di tengah masyarakat.(Krm /Pimred Cahyospirit)
















Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar