MENGAPA CERITA PRIBADI SELALU MENANG DI MEDIA SOSIAL?
Oleh : Afriandifa Nufriani
Koranmediarakyat.com - Belum lama ini saya mencoba melakukan "cek ombak" sederhana melalui Status WhatsApp. Beberapa unggahan dengan caption biasa memperoleh jumlah penonton yang relatif sama. Namun, saat saya menyisipkan caption yang sedikit membuka ruang privat, hasilnya berbeda. Tak hanya dilihat lebih banyak orang, respon yang masuk pun meningkat. Emoji berdatangan, pesan pribadi bermunculan, bahkan beberapa "silent viewer" ikut angkat bicara.
Pengalaman kecil itu mengingatkan saya pada satu hal: di media sosial, perhatian sering kali tidak dimenangkan oleh informasi, melainkan oleh kedekatan emosional.
Coba perhatikan linimasa kita. Informasi penting memang lewat setiap hari, mulai dari prestasi, edukasi, hingga isu-isu publik. Namun unggahan yang menyentuh kehidupan pribadi hampir selalu mengundang interaksi lebih besar. Entah tentang keluarga, persahabatan, percintaan, atau sekadar potongan kisah yang selama ini tidak pernah diceritakan.
Mengapa demikian?
Karena manusia pada dasarnya lebih tertarik pada cerita daripada data. Sejak dahulu kita mengenal dunia melalui kisah. Novel, film, sinetron, hingga berita yang paling banyak dibicarakan hampir selalu berpusat pada manusia dan relasinya. Media sosial hanya memindahkan kebiasaan itu ke ruang digital. Bedanya, tokoh dalam cerita bukan lagi orang asing, melainkan orang-orang yang ada di daftar kontak kita.
Di sisi lain, media sosial juga menciptakan ilusi kedekatan. Kita merasa mengenal seseorang hanya karena rutin melihat unggahannya, padahal mungkin sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Ketika orang yang biasanya tertutup tiba-tiba membagikan sedikit sisi personal, rasa ingin tahu muncul secara spontan. Bukan selalu karena ingin ikut campur, tetapi karena ada potongan cerita yang sebelumnya hilang.
Ada satu hal lagi yang menarik. Yang membuat sebuah unggahan menjadi perhatian bukan selalu isi ceritanya, melainkan kelangkaannya. Ketika seseorang terbiasa mengunggah kehidupan pribadinya, orang lain akan menganggapnya sebagai hal biasa. Sebaliknya, satu unggahan personal dari seseorang yang dikenal menjaga privasi justru terasa lebih "berharga". Rupanya, di media sosial, sesuatu yang jarang terlihat sering kali lebih menarik daripada sesuatu yang sering dipamerkan.
Fenomena ini sekaligus menunjukkan bahwa ukuran perhatian di media sosial tidak selalu identik dengan kepedulian. Di balik sebuah reaksi atau balasan pesan, ada beragam alasan: empati, rasa senang, rasa penasaran, bahkan sekadar ingin memastikan dugaan yang selama ini disimpan. Semua bercampur menjadi angka interaksi yang tampak seragam di layar.
Karena itu, tidak tepat jika media sosial hanya dipandang sebagai tempat berbagi informasi. Ia telah berkembang menjadi ruang bertukar emosi. Orang datang bukan semata mencari kabar terbaru, tetapi juga ingin melihat cerita manusia lain. Itulah sebabnya sebuah unggahan sederhana bisa lebih ramai daripada tulisan panjang yang penuh informasi.
Pada akhirnya, pengalaman saya melalui Status WhatsApp tentu bukan sebuah penelitian. Namun, setidaknya ia menjadi pengingat bahwa di tengah banjir konten digital, yang paling mudah menghubungkan manusia dengan manusia tetaplah sebuah cerita. Bukan karena kita gemar mencampuri urusan orang lain, melainkan karena kisah pribadi menghadirkan rasa, sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh angka, data, ataupun fakta.
Mungkin itu pula sebabnya cerita pribadi hampir selalu "menang" di media sosial. Sebab di balik teknologi yang semakin canggih, manusia tetaplah makhluk yang ingin mengenal, dipahami, dan merasa terhubung dengan manusia lainnya.(Penulis :Afriandifa Nufriani )
.jpg)