Marak Penipuan Digital Mencatut Foto Profil dan Nomor HP, Warga Ngadirojo Hampir Jadi Korban
Ngadirojo,Wonogiri KMR – Modus penipuan melalui aplikasi perpesanan kembali meresahkan masyarakat. Pelaku kini semakin lihai dengan mencatut foto profil (display picture/DP) dan menggunakan nomor telepon yang seolah-olah milik orang yang dikenal korban. Cara tersebut membuat banyak orang lengah karena mengira sedang berkomunikasi dengan teman, kerabat, maupun rekan bisnis.
Salah satu kasus nyaris menimpa Anto (48), warga Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri. Ia mengaku dihubungi oleh seseorang melalui aplikasi pesan dengan foto profil yang identik dengan wajah salah satu temannya. Karena foto dan identitas yang ditampilkan tampak meyakinkan, Anto awalnya tidak menaruh rasa curiga.
Dalam percakapan tersebut, pelaku mengajak berbicara mengenai transaksi jual beli mobil. Pembicaraan berlangsung cukup meyakinkan hingga akhirnya pelaku meminta Anto untuk mentransfer sejumlah uang sebagai tanda jadi atau uang muka sebelum proses transaksi dilanjutkan.
"Awalnya saya percaya karena foto profilnya benar-benar seperti teman saya. Cara bicaranya juga cukup meyakinkan," ungkap Anto.
Namun, seiring berjalannya komunikasi, Anto mulai merasakan ada kejanggalan. Saat ia meminta melakukan panggilan video untuk memastikan identitas lawan bicaranya, pelaku selalu menghindar dan menolak memperlihatkan wajahnya dengan berbagai alasan.
Kecurigaan Anto pun semakin kuat. Ia kemudian berinisiatif menghubungi temannya melalui nomor telepon yang selama ini ia kenal. Dari situlah diketahui bahwa teman tersebut tidak pernah menghubunginya maupun menawarkan transaksi jual beli mobil.
"Saya langsung sadar kalau yang menghubungi bukan teman saya. Untung belum sempat mentransfer uang," katanya.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa masyarakat harus lebih berhati-hati terhadap berbagai modus penipuan digital yang kini semakin canggih. Pelaku memanfaatkan foto profil hasil salinan dari media sosial atau aplikasi perpesanan untuk membangun kepercayaan calon korban. Setelah korban yakin, pelaku biasanya mulai mengarahkan percakapan hingga meminta transfer uang dengan berbagai alasan.
Masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya hanya karena melihat foto profil atau nama kontak yang dikenal. Apabila menerima permintaan uang, terlebih dalam jumlah besar, sebaiknya lakukan verifikasi dengan menghubungi orang yang bersangkutan melalui nomor asli atau bertemu langsung apabila memungkinkan.
Selain itu, panggilan video juga dapat menjadi salah satu cara untuk memastikan identitas seseorang. Jika lawan bicara terus menghindar atau memberikan alasan yang tidak masuk akal saat diminta melakukan video call, masyarakat patut meningkatkan kewaspadaan.
Kasus yang dialami Anto menjadi bukti bahwa kewaspadaan dan verifikasi dapat mencegah kerugian akibat penipuan. Dengan meningkatnya literasi digital dan sikap tidak mudah percaya terhadap permintaan transfer uang, diharapkan masyarakat dapat terhindar dari berbagai modus kejahatan siber yang semakin marak terjadi.(Ari S /pimred Cahyospirit)
