BREAKING NEWS
SPACE IKLAN INI DISEWAKAN
untuk informasi hubungi Dewan Redaksi 0877-9361-6743

Konten Penanganan Ular Berbahaya di Media Sosial Tuai Sorotan.Peringatan “Jangan Ditiru” Dinilai Tidak Cukup Cegah Risiko

Dalam berbagai unggahan yang beredar di platform media sosial, beberapa kreator terlihat menangani ular berbisa secara langsung menggunakan tangan kosong

JAKARTA  KMR— Fenomena konten penanganan ular berbisa di media sosial kembali menjadi sorotan publik. Sejumlah video yang menampilkan aksi penanganan ular berbahaya seperti king cobra tanpa alat pelindung dinilai berpotensi memberikan contoh berbahaya kepada masyarakat, terutama penonton muda dan pemula.

Dalam berbagai unggahan yang beredar di platform media sosial, beberapa kreator terlihat menangani ular berbisa secara langsung menggunakan tangan kosong atau metode yang dikenal sebagai free handle. Konten tersebut umumnya disertai tulisan peringatan seperti “jangan ditiru” atau “do not try this at home”.

Meski demikian, banyak pemerhati satwa liar menilai bahwa peringatan singkat tersebut tidak cukup untuk menghilangkan dampak visual yang ditampilkan.

King cobra sendiri dikenal sebagai salah satu ular paling berbisa di dunia. Satwa ini memiliki ukuran tubuh besar, refleks serangan cepat, serta racun neurotoksin yang dapat menyerang sistem saraf manusia dan menyebabkan kematian apabila tidak segera mendapatkan penanganan medis.

Karena tingkat bahayanya tinggi, penanganan king cobra seharusnya dilakukan menggunakan prosedur keselamatan ketat dan perlengkapan khusus. Dalam praktik profesional, penanganan ular berbisa umumnya melibatkan penggunaan snake hook, snake tong, alat pelindung tubuh, wadah pengamanan, serta dukungan tim evakuasi dan akses medis darurat.

Namun, dalam sejumlah konten media sosial, prosedur tersebut tidak selalu diperlihatkan secara lengkap. Sebagian video justru menampilkan aksi mendekatkan wajah ke ular, memegang kepala ular secara langsung, hingga penanganan tanpa alat pengaman.

Pengamat edukasi satwa liar menilai tren tersebut dapat memunculkan persepsi keliru bahwa penanganan ular berbisa tanpa alat merupakan tindakan yang aman dan mudah dilakukan.

“Masalah utamanya bukan hanya tulisan peringatannya, tetapi visual yang dipertontonkan. Penonton melihat tindakan berbahaya dilakukan secara santai sehingga berpotensi dianggap normal,” ujar seorang pemerhati konservasi satwa liar saat dimintai tanggapan.

Selain membahayakan manusia, penanganan ular secara tidak tepat juga dinilai dapat memicu stres dan cedera pada satwa. Teknik penangkapan yang salah berisiko menyebabkan ular menjadi agresif, mengalami luka fisik, bahkan lepas ke lingkungan sekitar.

Fenomena tersebut disebut semakin meningkat seiring persaingan konten di media sosial yang mendorong kreator menghadirkan tayangan ekstrem demi menarik perhatian publik. Konten yang menampilkan unsur bahaya dan adrenalin cenderung lebih cepat viral dan memperoleh jumlah penonton tinggi.

Di sisi lain, sejumlah snake handler profesional justru menekankan pentingnya meminimalkan kontak langsung dengan ular berbisa. Dalam dunia penanganan satwa liar, standar keselamatan dibuat untuk mengurangi risiko kecelakaan, bukan untuk menunjukkan keberanian.

“Semakin berpengalaman seseorang, biasanya semakin sadar terhadap risiko. Profesional yang benar umumnya menghindari tindakan berbahaya yang tidak diperlukan,” kata salah satu relawan evakuasi reptil.

Pakar komunikasi digital juga mengingatkan bahwa tulisan “jangan ditiru” tidak selalu efektif, terutama bagi penonton usia muda. Dalam banyak kasus, visual dinilai memiliki pengaruh lebih kuat dibandingkan teks peringatan singkat yang muncul di layar.

Karena itu, masyarakat diminta lebih bijak dalam menyikapi konten penanganan satwa liar di media sosial. Edukasi mengenai ular berbisa dinilai tetap penting, namun harus mengutamakan keselamatan manusia dan kesejahteraan satwa.

Konten edukasi yang baik seharusnya memperlihatkan prosedur yang benar, penggunaan alat pengaman yang sesuai, serta penjelasan risiko secara jelas agar tidak memicu peniruan tindakan berbahaya di masyarakat*(Eko Tito/Pimred Cahyospirit)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar