BREAKING NEWS
SPACE IKLAN INI DISEWAKAN
untuk informasi hubungi Dewan Redaksi 0877-9361-6743

Warga Desa Sampang, Sempor, Kebumen Tergigit Ular Gibug Saat Mencari Rumput Pakan Ternak

Seorang warga Desa Sampang, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen, dilaporkan mengalami gigitan ular berbisa saat tengah mencari rumput

Kebumen MR -Seorang warga Desa Sampang, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen, dilaporkan mengalami gigitan ular berbisa saat tengah mencari rumput untuk pakan ternaknya. Peristiwa tersebut terjadi pada hari Kamis lalu dan sontak menjadi perhatian masyarakat setempat.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari sejumlah rekan di wilayah Kebumen, korban tergigit ular jenis gibug atau yang juga dikenal masyarakat sebagai “ranjau darat”. Julukan tersebut bukan tanpa alasan, sebab ular ini kerap berdiam diri dan menyamarkan tubuhnya di antara rerumputan atau dedaunan kering sehingga sulit terlihat. Tanpa disadari, korban menginjak atau berada terlalu dekat dengan ular tersebut hingga akhirnya terjadi gigitan.

Alih-alih segera dibawa ke rumah sakit, korban justru memilih menjalani penanganan secara tradisional. Keputusan tersebut didasari kekhawatiran keluarga bahwa jika dibawa ke fasilitas kesehatan, korban akan menjalani tindakan operasi bahkan amputasi. Pola pikir yang masih berkembang di sebagian masyarakat ini justru berpotensi memperburuk kondisi korban.

Seiring berjalannya waktu, kondisi luka korban dilaporkan semakin memburuk. Area gigitan mulai mengalami pembengkakan dan melepuh, yang merupakan salah satu tanda reaksi racun ular berbisa. Penanganan yang tidak tepat pada fase awal gigitan ular memang dapat meningkatkan risiko komplikasi serius.

Peristiwa ini menjadi peringatan penting bagi masyarakat luas tentang urgensi edukasi penanganan pertama pada kasus gigitan ular. Penanganan medis yang cepat dan tepat akan memberikan peluang kesembuhan jauh lebih besar dibandingkan metode tradisional yang hingga saat ini belum terbukti secara ilmiah mampu menetralisir racun ular berbisa.

Ular gibug memiliki nama ilmiah Calloselasma rhodostoma dan termasuk dalam keluarga Viperidae. Spesies ini dikenal memiliki tingkat bisa yang tinggi dan tersebar di sejumlah wilayah di Pulau Jawa, terutama daerah pesisir serta kawasan kering dan semak belukar.

Sebagai ular berbisa dari kelompok pit viper, ular ini memiliki organ pendeteksi panas (heat-sensing pit) yang memungkinkannya mendeteksi suhu tubuh mangsa. Dalam kondisi tertentu, penggunaan pakaian pelindung seperti sepatu boots tinggi dan celana tebal dapat membantu mengurangi risiko gigitan, terutama saat beraktivitas di area yang berpotensi menjadi habitat ular.

Gigitan ular gibug dapat menimbulkan efek lokal seperti nyeri hebat, pembengkakan, lepuhan, hingga kerusakan jaringan. Pada fase sistemik, racun dapat memengaruhi pembekuan darah dan organ vital. Dalam penanganan medis, pasien dapat diberikan antibisa (antivenom) yang sesuai, termasuk serum antibisa polivalen seperti Biosave Polyvalent sesuai indikasi medis di fasilitas kesehatan.

Kejadian ini menjadi pengingat bahwa kewaspadaan saat beraktivitas di kebun, ladang, maupun area rerumputan sangatlah penting. Selain itu, perubahan pola pikir masyarakat terhadap penanganan medis modern juga perlu terus digalakkan melalui edukasi berkelanjutan.

Semoga korban segera mendapatkan penanganan medis yang tepat dan diberikan kesembuhan.( Eko Tito/ Pimpred Cahyospirit)




















Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar